expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

beres

Jumat, 12 November 2010

bagian dua - Petualangan di Sebuah Masjid Tua

Lihatlah rembulan dengan singgasananya..
Bertabur bintang berlian yang menemani..
Seindah tatapan mentari pagi esok hari..
Tertawa sendu memandangi hati..
Secercah cahaya kan merekah..
Seperti itulah janji dakwah kita..
Tak pernah padam dilalap dunia..
Suatu hari di bulan Februari 2010. di malam hari yang dingin, aspal jalanan mulai merasakan sunyi senyap malam yang mulai merayapi kampus. Di malam itu, atap langit begitu memanjakan mata setiap yang memandangnya, langit yang indah, bertaburkan bintang laksana sorotan mata bidadari yang mengintip bumi, menatap penuh kagum para hamba Allah yang tersungkur sujud menundukkan jiwa kepada Rabbnya. Begitulah lukisan malam, dengan mahkota rembulan yang kokoh di singgasana langit. Ribuan kilometer dibawahnya tampak sebuah pohon beringin raksasa, akarnya menghujam dan rantingnya menusuk setiap lembar angin yang melaluinya. Dedaunannya mulai mengalun syahdu tanda syukur dan tunduk akan kekuasanNya.
              Perlahan, angin berhembus menyelinap dinding masjid tua yang gelap, kusam. Hanya diterangi oleh cahaya lampu pijar 5 watt kami semua hening dalam kebersamaan. Nafas tumbuhan begitu terasa disana. Sinar rembulan yang keperakan menyepuh atap  Masjid Ibnusina. Malam yang penuh berkah, karena disana mereka tidak hanya berkumpul untuk mabit, namun berkumpul karena berdzikir, berkumpul karena tuntunan yang menjadi kewajiban semua insan yang mencari arti pengorbanan dan perjuangan di jalan yang telah digariskan oleh Sang Khalik, Yang Maha Penyayang.
Di sela-sela waktu jeda, Ali & Aryo sempatkan mengobrol di teras masjid yang berwarna hijau lumut. Seperti hari-hari biasa, mereka berbincang-bincang seputar masalah  dakwah, kulyah, dan mahisyah. Mereka berbincang seru ketika saling menceritakan pengalaman pertama masuk kulyah dengan semangat dan motivasi yang begitu idealis, bahkan terlalu melambung tinggi bagi dua orang biasa seperti mereka. Bagaimana tidak, mana bisa terwujud sebuah impian yang setinggi bintang di langit, yang para astronot pun tak sanggup mengemban misi tadi. Ali adalah tipe orang yang idealis dan perfeksionis, sedangkan Aryo, ia tipe orang yang idealis dan sederhana. Meski pun, memiliki perbedaan karakter, namun karena perbedaan itulah, persahabatan mereka semakin kokoh. Mereka saling memberikan motivasi, pernah suatu waktu Ali mengalami masa depresi ketika ada beberapa teman di jurusan yang mencemooh kelakuannya yang dianggap luar biasa. Ali terbiasa memotivasi diri sendiri dengan menuliskan nama lengkapnya bersama rentetan gelar pada sebuah buku catatan kuliah.
Disana tertulis : Prof. Dr. Ali, M.Eng, banyak orang yang mencemooh, mengatakan bahwa ia ngeyel, sok dan juga sombong. Apalagi ketika ia sadar dan teringat akan  kondisi ekonomi orang tuanya dengan segudang impiannya. Bapaknya hanya seorang petani, ibunya seorang pedagang gorengan, untuk mencukupi kebutuhan hidup pun serasa  susah minta ampun. Apalagi memenuhi kebutuhan perkuliahannya dan adik perempuannya yang sekarang masih SMP. Karena beasiswa lah dia bisa berkuliah di sini. Kebutuhan hidupnya ia cukupi dengan honor yang ia dapat selepas mengajar anak-anak SD di dekat kampus Unpad. Mungkin, jika kenyataan berkata lain, banyak orang akan lebih menghargainya karena status dan kekayaan orang tuanya. Berhari-hari ia, mengeluh, menggerutu, dalam hati, ia sering mengatakan bahwa Allah benar-benar tidak adil.
Kenapa Allah begitu kejam dan tidak memilihkan aku terlahir dan besar di keluarga lain yang lebih terjamin. Kenapa aku harus hidup di keluarga ini. Kenapa?!”

Pikiran itu berkecamuk, memenuhi seisi otak dan rongga dada. Ia benar-benar kacau kala itu. Ketika datang suasana mood seperti itu, mendadak sikapnya yang dikenal riang, peramah dan gampang membuat orang tertawa pun hilang seketika. Ia pun berubah menjadi seorang yang pendiam, pemurung dan tidak perduli dengan lingkungan. Melihat perubahan drastis itu, Aryo tahu bahwa ada sesuatu yang sedang hinggap di benaknya. Saat itu, Ali sedang melamun di teras masjid, semakin dalam ia melamun, saat itu tak terasa, rasa kesal begitu dalam merasuk memenuhi rongga dada. Lalu, tangan seorang pemuda menepuk bahu dan mengusap kepalanya.
”Ada apa sahabatku? Kenapa engkau bersedih? Aku lihat sudah beberapa hari ini   
antum tampak sedih. Ada yang bisa sahabatmu ini bantu?”
Suara itu menyadarkan dirinya. Ia tetap tidak bergeming.
Kalau antum masih menganggap aku sebagai orang lain, ya pendam saja terus masalahmu itu, mas. Karena kau ndak lagi percaya bahwa aku bisa membantumu. Kita sudah lama menjadi sahabat, antum bahagia, aku pun ikut bahagia. Tapi kalau antum ndak ngasih kesempatan sama aku, mana bisa aku nolongmu, mas?”
Kata-kata sahabatnya mulai menyadarkan ia bahwa ia memiliki seorang yang selalu memperhatikannya. Akhirnya ia pun, buka suara,
”Mas, aku gak tau bilang apa lagi. Aku bingung, aku kesel. Andai saja saya terlahir jadi orang kaya, bisa ini lah, itu lah.” ucapnya.
”Oh, aku ngerti masalah sampean,” ujar Aryo.
Mana bisa antum ngerti mas, nasibmu saja beda sama nasibku. Antum gak ngerti apa-apa!” selorohnya.
”Aku ngerti, mas”
”antum gak bakalan pernah ngerti perasaanku, mas. Ayahku petani biasa, ibuku penjual gorengan!”
Ayahku kuli bangunan, ibuku penjual jamu! Satu tahun aku jadi buruh panggul, adikku sampai sekarang jadi tukang koran.  Rumah kami, Pakaian kami seadanya, sehari makan sehari tidak. Aku juga miskin, mas. Hidup kami lebih susah daripada sampeyan. Adik laki-lakiku setiap hari memungut buku pelajaran di sekitar sekolahan untuk dibaca dijalanan karena terpaksa putus sekolah karena kekurangan biaya. Padahal umurnya baru 9 tahun, masa depannya masih panjang. Tapi aku berjanji, selama aku masih bisa berjalan, selama Allah memberiku kesehatan, selama Allah bersamaku, aku akan berjuang untuk mereka!”
Ali pun tersentak kaget, ia tak menyangka sahabat baiknya bertutur dengan begitu dalam, menceritakan latar keluarga dan kondisi keluarganya.
”Kenapa antum harus  bersedih, mas. Antum punya bakat ngajar yang luar biasa., IPK antum sekarang pun 3,54. Wawasan antum jauh melebihi seseorang yang telah dewasa. Antum punya semangat yang tidak dimiliki semua orang, Antum istimewa. Masa depan antum begitu cerah. Apa yang antum tangisi? Pekerjaan ayah antum? Atau ibu antum? Lupakah antum siapa yang menyapih diwaktu kecil, selama bertahun-tahun ibu antum membimbing dan mengajarkan tentang kehidupan, karena antumlah jatah waktu tidur malam ibu antum dahulu terganggu. Apakah hanya karena beliau seorang penjual gorengan lantas membuat antum lupa akan jasa beliau. Coba lihat ayah antum, siang malam keringatnya ia peras hanya untuk membahagiakan keluarganya, termasuk antum.Di setiap petak tanah yang ia cangkul, beliau menitipkan secuil harapan agar keluarga antum bisa hidup. Di setiap benih padi yang beliau tebarkan, beliau menitipkan setangkai doa agar antum bahagia. Ibu dan ayah antum, mereka berdua telah mengubur impiannya hanya untuk kebahagiaan anak-anak mereka. Ingatlah, setiap ibu dan ayah pasti mempunyai kasih sayang. Tapi, kasih sayang ibu dan ayah antum, gak bakalan bisa antum dapatkan dari ibu atau ayah orang lain. Ishbir, ya Akhi!”

Kata-kata Aryo begitu menusuk rongga dadaknya yang kurus, kacamatanya pun kini basah oleh tetesan air matanya. Dalam benaknya, langsung terbayang sekelebat wajah ayahandanya yang sudah mulai tua, dengan tulang muka yang menonjol. Ayahnya yang setiap ba’da shubuh berangkat ke sawah bersama sebuah cangkul yang ia sandarkan di bahunya yang kurus. Kemudian bayangan ibunya mulai hadir di benaknya, sosok seorang ibu tua, yang setiap malam mengiris-iris wortel, kol, bawang dan mempersiapkan terigu dan bahan-bahan lain untuk dijadikan gorengan. Semasa SMP, hampir di setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia dan adiknya yang saat itu masih berusia 7 tahun berkeliling berjualan gorengan bersama sang ibu. Siang harinya, mengantarkan rantang berisi makanan siang untuk sang ayahanda yang sedang asik mencangkul di tengah teriknya panas matahari siang. Kemudian mereka menepi di sebuah saung bambu di tengah sawah sambil menyantap makanan siang yang telah disiapkan ibu. Suasana yang ia rindukan sampai sekarang.
Terakhir, ia teringat sms adik perempuannnya yang kini sudah SMP, sms nya berisikan tentang penahanan raport oleh pihak sekolah karena biaya tunggakan biaya semesteran. Semua memori itu hadir begitu saja, Masya Alloh.
Dadanya semakin sesak, keharuan bercampur dengan penyesalan karena telah berpikir salah membuat air matanya semakin deras menyeruak dari matanya.
Aryo segera menepuk-nepuk pundak sahabatnya, kemudian ia mengisahkan sebuah kisah-kisah teladan yang selama ini ia jadikan pelajaran dalam hidupnya. Ia berkisah tentang seorang laki-laki di jaman Rasul yang bernama Julaibib.

Ada seorang miskin yang mengenakan kain usang pakaian lusuh, perut lapar, kaki tak beralas, berasal dari garis keturunan yang tidak terhormat, tidak punya kedudukan, harta dan keluarga besar, tidak punya rumah untuk berteduh, tidak punya perabotan yang berharga, minum hanya dari air kolam umum yang diambil dengan gayung kedua tangannya, tidur di masjid, tidur hanya berbantalkan tangan, dan berkasur pasir bercampur kerikil. Namun, begitu, dia adalah seorang yang selalu berdzikir kepada Rabb-nya, selalu membaca Kitab Allah, dan selalu berada pada shaf terdepan dalam shalat maupun dalam perang. Suatu ketika dia lewat di dekat Rasulullah. Lalu Rasulullah memanggil namanya dengan nyaring, "Wahai Julaibib, tidakkah kamu menikah?"

Orang itu menjawab, "Wahai Rasulullah, siapalah yang mau menikahkan (puterinya) denganku? Aku tidak punya kedudukan dan tidak pula harta." Beberapa hari kemudian Rasulullah bertemu dengannya. Rasulullah menanyakan pertanyaan yang sama, dan dia pun menjawabnya dengan jawaban yang sama pula. Pada pertemuan yang ketiga Rasulullah mengajukan pertanyaaan yang sama, dan dijawab dengna jawaban serupa. Maka bersabdalah Rasululah,"Wahai Julaibib, pergilah ke rumah Fulan (Rasulullah menyebut nama seorang Ashar) lalu katakan padanya, 'Rasulullah menyampaikan salam untukmu dan memintamu untuk mengawinkanku dengan anak perempuanmu'."

Shahabat Anshar yang dimaksud itu berasal dari keluarga terhormat dan terpandang. Maka, berangkatlah Julaibib menemui sahabat Anshar itu. Shabat Anshar itu mengatakan,"Semoga kesejahteraan tercurah untuk Rasulullah. Tapi bagaimnana bisa aku mengawinkan anakku denganmu yang tidak punya kedudukan dan harta benda?"

Dari dalam anak puterinya yang mukminah mendengar apa yang dikatakan oleh Julaibib dan pesan Rasulullah yang disampaikanya, segera anak perempuan mukminah itu berkata kepada kedua orang tuanya,"Apakah kalian menolak permintaan Rasulullah? Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya!"

Selanjutnya, terjadilah pernikahan yang melahirkan sebuah keluarga yang penuh berkah. Beberapa waktu kemudian datanglah seruan jihad. Julaibib pun ikut perang. Dengan tangannya terbunuh tujuh orang musuh. Namun, dia sendiri juga terbunuh. Dia meninggal dengan berbantalkan tanah dengan penuh keridhaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada prinsip-prinsip yang menghantarkannya kepada ajal. Setelah itu Rasullah memeriksa semua korban dalam perang itu. Dan, para sahabat memberitahukan nama-nama siapa saja yang terbunuh. Tak ada nama Julaibib disebut, sebab memang dia tidak terkenal di kalangan sahabat. Namun Rasulullah ingat sekali Julaibib. Beliau hafal nama itu di tengah nama-nama besar yang terbunuh. Sergah Rasulullah,"Tapi kini aku kehilangan Julaibib."

Rasulullah mendapati jasadnya penuh dengan debu, dan mengusap debu dari wajahnya seraya berkata:"Engkau telah membunuh tujuh orang, lalu engkau sendiri kini terbunuh. Engkau bagian diriku, dan aku bagian dirimu. Engkau bagian diriku dan aku bagian dirimu. Engkau bagian diriku dan aku bagian dirimu. " Ucapan yang merupakan tanda pengenal dari Nabi ini sudah cukup buat Julaibib sebagai tanda dan hadiah.

Sesungguhnya, nilai diri itu ada dalam makna-makna dan sifat-sifat mulia yang ada dalam diri. Kemiskinan dan kelemahan bukan hambatan bagi seseorang untuk mencapai prestasi yang baik, untuk sampai ke tujuan, dan unggul atas orang lain. Maka, berbahagialah orang yang mengetahui harga dirinya, berbahagialah orang yang telah membuat jiwanya bahagia dengan impian yang telah dicapainya, jihad yang diikutinya, dan akhlak baik yang menjadi nilainya. Berbahagialah bagi yang telah menjadi baik sebanyak dua kali, yang berbahagia di dua kehidupan, dan mendapat kemenangan dua kali di dunia dan di akhirat.* 
*[Disarikan dari La Tahzan karya fenomenal DR 'Aidh al-Qarni]


ia ikut haru melihat sahabat yang selama ini riang, bersemangat dalam setiap waktunya kini terlihat seperti seorang anak kecil yang menangis. Ia pun tak kuasa, menahan air matanya. Ia ikut menangis.
”Astaghfirulloh,, ya Alloh,, Astaghfirulloh.. ya Rabb.. maafkan aku ya Alloh..” sesegukan Ali sambil menyeka kedua pipinya.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari dalam masjid menuju teras, kemudian terlihat seorang laki-laki tinggi, berkulit putih dengan tampak jenggot di dagunya memakai kemeja biru yang rapi.


”Assalamu’alaikum akhi, bisa kita lanjutkan Materi Keislaman 3 nya lagi? Teman-teman yang lain sudah pada menunggu”

Ternyata laki-laki yang keluar tadi adalah musyrif kami sekaligus Ketua Lembaga Dakwah Kampus yang selama ini dikenal orang sebagai pemuda yang berwibawa dan bermental baja, ialah  kang Yuda Wardhana.        

Kepada Seorang Ayah yang berbahagia,

Kubayangkan butir air mata memenuhi pelupuk matamu
saat kau membacakan baris-baris kasih sayang kepada buah hatimu
Kusapa, ada beberapa butir air mata menggantung di sukmaku
hendak menyeruak ke dunia menemani keharuanmu


Tak ada yang dapat kuucapkan hari ini seperti hari kemarin,
aku hanya bisa membisu coba kutulis beberapa kata ungkapan kehormatan kepadamu
yang kini duduk menyaksikan ilham Allah merasuki tulang-tulang tuamu.


Adakah aku akan melihat orang tuaku sebahagia lantunan nyanyian hatimu
yang hendak menempuh tahap tertinggi kodrat manusia?
aku merenung menggores bayangan butiran air matamu y
ang terdorong keluar oleh kebahagiaan
aku berusaha menutupi jalan untuk air mataku yang tak sanggup menahan keharuan
menuntut jalan keluar, mungkin hendak berteman dengan air matamu

[bersambung..]


Terinspirasi sewaktu di bogor-jakarta, awal juli 2010.
Ditulis di Jatinangor, Kampus Unpad, awal September 2010
Sebuah pengantar untuk mereka yang memiliki sahabat

Bagian satu- Bertualang di sebuah Bis Damri

Lihatlah ufuk senja,
Ditemaram langit kelabu,
Merangkak tunduk di atas haribaan,
Seandainya kau ada disini,
Kan ku ajak engkau menari bersama angin senja.
Namun kau tak lagi disana,
Di sini aku menunggumu, sahabat.

Bagian satu-
Bertualang di sebuah Bis Damri

Sore itu, hujan deras mengguyur seisi desa.
      ”Ayo buruan,  li. Nanti hujannya tambah gede!” teriak Aryo.
      ”Iya, sabar dong mas, kan aku gak bawa payung gede nih” selorohku.
       Sore itu, hujan memang tidak seperti biasanya, angin begitu kencang berhembus dari arah barat mengajak menari dedaunan yang berguguran di sepanjang masjid. Pohon-pohon pun seakan bergeser karena menahan laju angin yang begitu kencang. Saat ku lihat masih jam 16.45 wib. Aku dan sahabat baikku, Aryo baru saja beranjak pulang menuju kosan sehabis menghadiri pengajian bersama teman-teman ikhwan lainnya di sebuah masjid tua bernamakan seorang ahli kedokteran yang namanya sampai sekarang masih dipuji-puji, masjid itu bernama Masjid Raya Ibnusina.
      Aryo sudah kuanggap saudara sendiri, ia sendiri benar-benar menganggap aku sebagai saudara kembarnya, bahkan lebih dari itu, aku dan ia bagaikan soulmate yang tidak akan pernah terpisahkan oleh budaya, tempat asal dan tradisi. Ia seorang lelaki jawa yang benar-benar ulet, rajin, struggle, ia memiliki perwatakan khas seorang jawa yang memang dikenal seperti itu di mata semua orang. Kami berdua saling mengenal sewaktu aktif menjadi anggota pengurus Lembaga Dakwah Kampus di masjid Unpad Jatinangor. Ada perasaan geli ketika mengingat saat-saat awal pertemuan kami.

      Pagi itu,  bis Damri Dipati Ukur-Jatinangor berhenti sejenak beberapa meter dari pintu gerbang tol Muhammad Toha-Cileunyi. Satu persatu penjual  makanan ringan dan penjual majalah masuk ke dalam bis menawarkan dagangannya.
      ”Walau pun akhir bulan bertamu, semangat membaca tak pernah jemu. Tilu rebu, tilu rebu, Aril peterpan berlaga di video porno, cut tari pun parno. Pengen cantik dan anggun seperti Inneke Kusherawati,berbelanjalah di toko baju zukhruf muslimah, murah dan berkah. Fernando Torres alami masa paceklik, 3 bulan tak kunjung cetak gol, Steven Gerrard pun resah. Tilu rebu, tilu rebu!” Promosi sang penjual majalah dengan suara kerasnya yang khas dan membuat semua mata tertuju padanya. Tak ada satu pun penumpang yang tertarik untuk membeli majalah bekas tersebut. Akhirnya, sang penjual majalah meninggalkan bis dengan muka masam yang menyeramkan sambil menggerutu.

      Aku duduk tepat di barisan bangku kedua dari belakang. Saat pintu otomatis damri mulai menutup, bis pun melaju perlahan.
Tapi tidak lama kemudian, terdengar suara kencang sang konektur yang berteriak dengan bahasa loma (bahasa sunda agak sedikit kasar).
       ”Heup!!! Heup!!! Eureunkeun heula, Sardun!! Itu budak lalaki rek naek!!”  Pintu otomatis pun berdebum terbuka. Lalu ketika menoleh ke arah pintu yang sedang terbuka, ku lihat ada seorang anak muda yang naik tergopoh-gopoh menggandong tas dan membawa koper besar berwarna hitam kecoklatan. Ia kesulitan mengangkat koper besar tadi, dengan sekuat tenaga ia berusaha, akhirnya sang konektur turun dan membantu anak muda tadi menaikkan koper besar tersebut. Ia naik, mukanya pucat, nafasnya pun terengah-engah. Lucu sekali melihat tampilan dan sikap tubuhnya, jelas dia seorang perantau yang baru saja tiba di kota Bandung. Terlihat tatapan lega seorang yang tadinya kebingungan di tempat baru yang ia singgahi.Keningnya penuh dengan keringat, saat itu semua kursi telah terisi penuh, kecuali sebuah kursi tepat disampingku. Ia meminta izin untuk duduk di kursi tadi, setelah duduk ia menoleh ke arahku, ia tersenyum simpul sambil bertanya dengan nada jawa yang khas

      ”Nuwun sewu mas, numpang tanya. Kalo ini betul ya, bis ke jatinangor?”
      "ya, mas. Betul. Ini Bis ke Jatinangor.” Jawabku.
      "Alhamdulillah, akhirnya bener juga toh” ungkapnya lega.
      "Memang dari mana, mas?” tanyaku.
      "Aku dari Jawa Timur, Mas. Dari Madiun tepatnya.” tuturnya masih dengan nada jawa yang khas, apalagi sewaktu lafadz ”J & D” keluar dari  
      mulutnya. Hihi, lucu banget.
      ”Unpad ya, mas? Fakultas apa mas? Jurusan apa?” tanyaku lagi.
      ”ya, mas. Kebetulan aku masuk jurusan Teknik Manajemen Industri Pertanian.  Fakultas ini, apa itu, nganu.. ehm... itu loh mas, teknologi
      ilmu eee.. eeee.. apa ya?”
      ”oh, jurusan TMIP ya, itu di  Fakultas Teknologi Ilmu Pertanian” sahutku.
      ”ya, hooh bener, itu maksudku, mas. Lali aku tadi,hehe” ungkapnya polos.
      ”perkenalkan nama saya Ali. Dari Fakultas MIPA, jurusan Fisika” ucapku sambil mengulurkan tangan kepadanya.
      ”oh, nje. Namaku Aryo, Aryo Prayogo. Panggil saja Aryo.” Katanya sambil membalas uluran tanganku.

       Tak terasa, kami pun bercakap-cakap hingga bis damri pun terisi penuh oleh mereka yang berdiri berdesak-desakan di dalam bis. Tak lama kemudian, bis pun melaju kencang di jalanan yang bebas hambatan, antara bandung dan jatinangor. Sepanjang perjalanan, terlihat hijau pesawahan yang terbentang dari arah barat hingga timur, namun sayang. Pemandangan indah tadi, hilang sekejap ketika bis melewati suatu daerah yang kering gersang, hanya ditumbuhi oleh bangunan pabrik yang mengepulkan asap hitam pekat. Pemandangan ini terus menerus terlihat di sepanjang jalan yang kami lewati, Langit yang biru seakan terbatuk-batuk menghisap polusi asap hitam dan beracun yang berasal karena ketamakan manusia. Atas nama materi, mereka menyakiti alam yang indah ini, atas nama dunia mereka melupakan hakikat keberadaan manusia yang seharusnya saling mengerti. Masya Alloh.

        Dua puluh menit kemudian, bis sampai di gerbang tol cileunyi. Pintu otomatis kembali berdebum terbuka, satu persatu penumpang turun dari bis, ada seorang ibu yang menggendong anaknya yang baru berumur satu tahun, sambil menuntun kedua anak laki-lakinya. Lalu giliran seorang kakek tua yang membawa tongkat, mukanya tirus, rambutnya yang penuh uban ditutupi sebuah peci hitam yang sudah luntur di kedua sisinya. Tidak lama kemudian, melintas seorang perempuan muda memakai jilbab warna biru. Ia memakai tas selendang berwarna merah muda yang sedikit terbuka. Tingginya semampai, dengan kerudung putih yang serasi dengan warna jilbabnya. Di belakangnya, tampak seorang laki-laki berkulit gelap mengenakan jaket kulit sewarna dengan warna kulitnya. Ketika sang perempuan akan turun, laki-laki tadi tidak sengaja menabrak kursi kosong yang ada di depan kami sehingga badannya sedikit mengenai perempuan tadi. Laki-laki tadi pun, langsung meminta maaf. Lantas ia berlalu dengan cepat.

      Beberapa detik kemudian, Aryo bangkit dari kursinya seraya menunjuk laki-laki yang baru turun tadi, sambil berteriak :
      ”Cepot,, eh,,, copet!! Hey, hey..copet!!!”
      Aku pun tersentak kaget, melihat teman yang baru ku kenal tadi. Dengan cekatannya, ia berlari turun dari bis kemudian menghampiri laki-laki
      tadi. Laki-laki tadi diam ketika temanku menghampirinya.
      ”Hey, pak.. balikin dompetnya.. hayoo,, ta laporin sama pulisi!” selorohnya,
     ”Apaan kamu, enak aja nuduh. Gak sopan banget kamu!” jawab laki-laki hitam tadi.
      ”Aku tadi liat, bapak ngambil dompet perempuan itu di damri!” ungkap Aryo lantang.
     ”Betekok, nuduh kuring maok, nuduh dewek maling?” teriaknya kasar.
      Di samping kami, berdiri perempuan berbaju kurung biru, ia berdiri mematung, mungkin sedikit kaget akan situasi yang ada dihadapannya. 
      Kemudian, aku pun menoleh kepadanya.
      ”Teh, punten teh. Lekas periksa tasnya, barangkali ada yang hilang.” ucapku padanya.
      ”oh, iya, afwan, sebentar.” kata perempuan tadi dengan khawatir.
       ”Masya Alloh. ...” sebelum perempuan itu menyelesaikan perkataanya.
       Tiba-tiba sebuah tinju keras mendarat di pipi kiri temanku.
        ”hiyaaah... paeh maneh!” teriak laki-laki itu sambil menghujamkan tangannya ke arah temanku. Tubuh kurus Aryo pun tumbang, seketika itu suasana mulai tak karuan. Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu, berteriak histeris, termasuk sang perempuan berbaju kurung biru.
      ”arrrrgghhhh!!!! Astaghfirulloh,,” nadanya cemas. Refleks, aku pun meninju balik laki-laki tadi, meski pun dengan dada yang berdebar-debar dan tak karuan. Laki-laki tadi ternyata masih tegar, hanya hidungnya mengucurkan darah merah. Kemudian ia mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat jantungku berdegup sepuluh kali lipat. Ia mengeluarkan sebilah pisau belati dari jaket kulit hitamnya. Ia mengancam siapa saja yang berusaha mengepungnya. Tak  ada satu pun dari kerumunan orang yang berani maju menghadapi laki-laki seram itu. Rasa-rasanya jantung ini berdetak makin kencang, dua puluh kali dari biasanya. Matanya agak sedikit teler, tercium bau alkohol ketika dia berteriak-teriak tidak karuan, mencaci maki Aryo dan semua orang yang ada di sekelilingnya.
            ”Maju selangkah, ku hunuskan pisau ini sama anak ini!” teriaknya lagi sambil mengarahkan pisau ke arah Aryo yang masih tergeletak di 
            atas aspal. Seorang bapak-bapak setengah baya berucap dengan nada khawatir.
            ”jang, jang. Eling jang, ulah nyiar-nyiar picilakaeun! Enggeus, bapak mah kaweur ningali na ge. Ulah sologoto kawas kitu! (nak, nak.
             Sadar, nak. Jangan cari-cari masalah! Sudahlah, bapak khawatir lihatnya. Jangan bertindak sembarangan kaya gitu!)”
            Laki-laki yang sedang dilanda kenekatan itu pun, makin menjadi-jadi. Meski pun dia teler, tapi tatapannya tajam, matanya merah, seperti mata setan. Namun, dengan biusan alkohol, laki-laki itu berjalan sedikit sempoyongan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya makin kotor, jijik dan tidak enak didengar bahkan oleh preman sekali pun. Namun, situasi ini tak lama. Ketika tangan sang laki-laki hitam itu mengayun-ayun, mengancam siapa saja yang mendekat, tak lama kemudian dari bawah tampak sebuah sepatu hitam yang mengayun ke arah betis laki-laki hitam itu. Sepatu itu berasal dari kaki sahabatku, Aryo yang tadi tergeletak. Tak ayal, tendangan sleding membuat si penjahat tadi rubuh seketika.
”Brukkk!!” terdengar debum jatuh disertai suara raungan si penjahat. Suaranya mengerikan, seperti auman singa yang sedang diterkam kawanan singa lainnya. Sebelum ia bangkit, Aryo pun dengan cekatan menendang tangan si penjahat yang sedang menghunuskan pisau belati. Pisau pun terlempar sejauh dua meter. Aku dan semua yang melihat pun mendekati kedua orang yang sedang berperang itu dan langsung memegangi si penjahat. Situasi pun sedikit aman terkendali. Barulah datang tiga orang berseragam coklat abu-abu berlari dari arah terminal.
       ”Semuanya menyingkir, ada apa ini? Ada apa ribut-ribut kayak gini?” ujar salah seorang dari mereka.
       ”Kamana wungkul atuh, pak. Aya copet teh lakah cicing wae?” kata seorang ibu yang dari awal menyaksikan kejadian aneh itu.
       ”Oh, copet nyak. Nya enggeus weh, kadaritu, kadaritu. Awas, ku kami urang uruskeun nu kieu mah! (Oh, copet ya. Ya sudah, semuanya  
        bubar. Kami akan menanganinya!). Selepas kedatangan petugas yang datang terlambat, situasi pun mulai kembali dingin. Si penjahat,
        akhirnya digiring ke pos penjagaan yang tidak jauh dari terminal.
       Aku pun melihat Aryo yang sedang menutupi hidungnya yang berdarah, dan penuh debu.
       ”Astaghfirulloh, yo. Kamu gak apa-apa?” tanyaku sambil melihat luka di wajahnya.
       ”oh, ndak apa-apa toh mas, ini sih biasa.” ucapnya datar sambil mengeluarkan sebuah dompet berwarna pink.
       ”Mbak, ini dompetnya.” katanya.
       ”Masya Alloh, Syukron. Afwan jiddan, karena kecerobohan saya, mas jadi babak belur seperti ini?” jawab perempuan berjilbab biru, masih
       dengan nada cemas dan khawatir.
       ”Sama-sama, mbak. Lain kali musti hati-hati kalo simpen dompetnya ya, mbak?” ucap Aryo.
       ”Saya antar ke AMC ya, kita obati luka masnya?” kata perempuan berjilbab biru.
        ”Ndak usah, mbak. Watur nuwun, ndak apa-apa kok. Cuman sedikit memar, dibiarkan sehari juga sembuh.”
       ”Afwan ya, sekali lagi afwan. Nama saya Kaviani. salam kenal. ”
       ”Saya Aryo Prayogo. Salam kenal juga” kata Aryo. Kemudian perempuan itu menolehku, alisnya sedikit terangkat.
       ”Oh, iya. Nama saya Ali.” ujarku kaget.
       ”Sekali lagi syukron jazakalloh semuanya” ucap perempuan itu.
       ”Saya mohon pamit, sedang terburu-buru.”
       Kami berdua pun mengangguk.
       ”Assalamu’alaikum”
       ”wa alaikumussalam warrohmatulloh” serentak kami menjawab.

Itulah cerita singkat awal perjumpaan kami. sedikita aneh memang, baru saja bertemu sudah dimulai dengan petualangan yang membuat geli. Awal perjumpaan yang berlanjut dengan kisah-kisah persahabatan dalam dakwah. Kisah-kisah yang penuh dengan haru, tangis dan tawa. Ternyata memliki seorang teman adalah sebuah anugerah. Apalagi memiliki seorang sahabat. Sahabat sejati, yang akan menjadi pelipur lara dikala gundah datang, dikala asa ditepian jurang, dikala risau mengacau. Itulah makna sahabat.
(bersambung ke bagian II)


Pertemuan kita kali ini
Bukan sekedar kawan lama tak jumpa
Tapi kita bertemu ada satu makna
Kita punya satu perjuangan

Sambutlah tangan sahabat saudaramu
Pimpinlah ia melangkah bersama
Satukan hati kita teguhkan ia
Berdiri bersama untuk kebenaran

Sahabat Perjuangan
-Tazzaka-