beres
Jumat, 10 Mei 2013
Minggu, 05 Mei 2013
Aku Ingin
Sabtu, 04 Mei 2013
Inspiring musical cover
Cukup banyak yang bertanya-tanya, sembari tak sabar untuk menunggu kapan buku "Pendaki Menara Malam" ini terbit. Tenang ya, kawan. sebenarnya, buku ini sudah hampir selesai, kok. Pengerjaannya pun tidak terlalu rumit, karena berlatar seputar perjalanan hidup dan pengalaman saya semasa aktif belajar memimpin di dakwah kampus. Hanya saja mungkin tipologi novel seperti ini tidak akan terlalu cukup heboh di pasaran. Tapi, itu bukanlah masalah besar, menyalurkan passion sembari berbagi inspirasi adalah sebuah sensasi tersendiri bagi saya, itu sudah lebih dari cukup dan itu yang lebih penting.
Nah, sebelum saya kirimkan naskah yang utuh ke beberapa koneksi penerbit, saya ingin berbagi kepada sahabat semua, sebuah musik pengiring yang selalu saya putar di setiap malam ketika menulis novel ini. Sebuah lagu instrumental yang setia mengiringi pikiran saya ketika terhanyut di sungai keindahan langit malam dan selalu terjaga menjaga batas-batas romantika seorang pemuda pekerja keras agar tidak terjatuh ke dalam lubang monoton dan kompleksitas.
semoga bermanfaat, semoga menginspirasi..
- untuk mendownload, klik gambar ilustrasi atau klik :
http://www.4shared.com/file/Ui09omHo/Pendaki_menara_malam.html
Song :
Do You? by Yiruma
Keyakinanku
Tentang Resignasi
Aku tak perlu merasa terhina
Karena hakikatnya aku tak memiliki pujian
Aku tak perlu merasa kehilangan
Karena hakikatnya aku tak memiliki apa-apa
Aku tak perlu merasa sedih
Karena hakikatnya aku tak memiliki bahagia
semuanya hanyalah rasa.
Aku bukan siapa-siapa, bukan apa-apa; tidak memiliki siapa-siapa, tak punya apa-apa; tidak pula dimiliki siapa-siapa dan apa-apa => kecuali Alloh Swt
Tentang Konfiksi
Aku berfikir untuk “melakukan yang terbaik” tak peduli menang atau kalah
Aku berfikir untuk “menjalani hidup dengan baik” tak peduli nikmat atau susah
Aku mencukupkan diri hanya Mencintai Sang Pemberi nikmat bukan nikmat itu sendiri.
oleh : Fahrur Rozi
Rabu, 01 Mei 2013
Selamat (jalan) Hari Pendidikan Nasional
Sajak Pertemuan Mahasiswa
Oleh : W.S. Rendra
Oleh : W.S. Rendra
Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini memeriksa keadaan.
Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya : “Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba. Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana!
Jakarta 1 Desember 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.
Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini memeriksa keadaan.
Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.
Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”
Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.
Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya : “Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?
Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba. Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.
Dan esok hari matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai menjadi ombak di samodra.
Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana!
Jakarta 1 Desember 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi
Jumat, 19 April 2013
My Unfinished Story
Ya Alloh..
tepat hari ini, satu batu loncatan telah aku lewati. Satu dari seribu lembar ikhtiar yang pernah ku bentangkan dalam kitab hidupku. Rasa syukur sungguh pantas kupanjatkan atas lembut rahmanMu. membesar hatiku bukan karena gelar yang didapat, bukan pula karena pujian yang ku dapat, namun bercahaya tahta kebanggaanku karena diriku yang tak kenal henti berjuang mengalahkan segala rasa dan asa. Kini ku proklamasikan kepada dunia bahwa penat dan malas tak lagi menjadi penjajah utama.
Ya Alloh..
Kini, di depanku terbentang seribu cabang pilihan, di setiap ujungnya ada puluhan ranting keputusan, di setiap rantingya, tumbuh dedaunan yang memekarkan saripati kehidupan. Satu kali salah melangkah, maka lenyaplah sejuta asa yang telah tertanam.
Ya Alloh..
aku akan pergi jauh dari kampung halamanku,
meninggalkan rahim keberkahan yang melahirkan semangatku,
Bimbinglah aku ya Rabb, agar tak jatuh di tanah landai dan gersang,
agar aku tak tersesat di dunia dan tersiksa di akhirat sana.
Setiap hari ku persiapkan bekal untuk bisa kembali ke sana,
sebuah tempat yang dulu pernah membesarkan hatiku,
Setiap detik ku isi dengan melejitkan valensi diri,
agar aku bisa kembali dengan wajah yang berseri.
Ku lahap semua ilmu yang ku perlukan,
Ku bentangkan ilmu yang ku sajikan.
Saat ini,
Aku hanya mampu membawa biji-biji melati,
telah ku tanam di antara gundukan tanah di kebun-kebun waktu.
Ketika suatu hari nanti, ya ketika saat itu tiba,
aku berjanji untuk datang membawa sekebun bunga melati yang tengah mekar dan mewangi,
dan kan ku berikan semuanya untuk mereka yang sangat berjasa dalam hidupku.
Ya Allah..
kabulkanlah pintaku..
Ya Allah..
kabulkanlah pintaku..
di tulis di kampus perjuangan, kampus seribu kenangan.
Jum'at 19 April 2013
Selasa, 02 April 2013
Puisi Kehidupan
Hari hari lewat, pelan tapi pasti
Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru
Daun gugur satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Umurku bertambah satu-satu
Semua terjadi karena ijin Allah
Tapi… coba aku tengok kebelakang
Ternyata aku masih banyak berhutang
Ya, berhutang pada diriku
Karena ibadahku masih pas-pasan
Kuraba dahiku
Astaghfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk
Kutimbang keinginanku
Hemm… masih lebih besar duniawiku
Ya Allah...
Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
Masihkah aku diberi kesempatan?
Ya Allah….
Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
Astaghfirullah….
Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah
Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang
Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu
Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana
Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana
Ya Allah, Ijinkanlah
(Chairil Anwar)
Langganan:
Postingan (Atom)





