expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

beres

Tampilkan postingan dengan label Seraut Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seraut Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Februari 2014

Sebuah pelajaran : rimba waktu




Kawan, maukah kau ku ingatkan tentang sebuah pelajaran sederhana? Kisah yang mengajarkan kita tentang betapa pentingnya waktu dan kesempatan yang kita miliki. Ini adalah kisah pemuda pengembara di sebuah negeri antah berantah yang mendapat titah dari gurunya untuk menjelajah rimba belantara. Sang guru memintanya untuk memotong sebuah dahan pohon terelok yang ia temukan, namun dengan satu syarat sederhana, ia harus terus berjalan maju dan tak boleh berjalan kembali ke belakang. 

Dengan ringan ia melangkahkan kakinya, sedepa demi sedepa, sehasta demi sehasta. Sambil berjalan, ia memperhatikan satu demi satu dahan yang ia temui. Baginya, semua dahan tampak kokoh dan elok. Ia terhenti di sebuah pohon besar dan tinggi. Ia mendongak dan memandang sebuah dahan yang paling menarik perhatiannya. Ia putuskan untuk naik dan membawa pulang dahan tersebut. Namun, sesaat sebelum ia memotong dahan tersebut, ia melihat dahan di pohon lain yang lebih bagus. Ia kembali turun dan menghampiri pohon di depannya, bergegas ia memanjat dengan penuh semangat karena merasa telah berhasil menemukan dahan paling bagus yang pernah ia temukan. Setelah berhasil sampai ke ujung batang pohon, ia melompat dan terkejut. Ternyata, dahan tersebut dipenuhi ulat bulu dan membuatnya rapuh! Ia merasa menyesal karena lebih memilih dahan yang jelek. Ia ingin sekali kembali ke pohon sebelumnya untuk mengambil dahan tadi, namun ia ingat pesan gurunya untuk tidak berjalan kembali ke belakang. Dengan penuh rasa penyesalan, ia kembali melangkah mencari dahan yang lain.

Lama ia berjalan, dan tak ada satu pun dahan yang menarik perhatiannya lagi. Semua dahan tampak sama dan tidak istimewa. Terkadang ia menemukan dahan yang terlihat kokoh dan elok, namun ternyata rapuh setelah disentuh. Ia memanjat dan turun lagi, ia mencari dan kecewa lagi. Terus berulang dan berulang. Di depannya tampak seberkas cahaya yang menandakan ujung rimbunnya rimba. Ia semakin gelisah dan akhirnya memutuskan untuk memotong sebuah dahan terakhir yang ia temui. 

Sesampainya di kediaman gurunya, ia tertunduk lesu dan menyerahkan potongan dahan yang ia pilih. Melihat air muka si pemuda, guru itu pun tersenyum dan menepuk pundak sang murid. Dengan nada pelan, ia berkata: 

"anakku, inikah dahan yang kau pilih?

"....." si pemuda diam dan semakin terbenam dalam kelesuan.

"kau yakin memberikan dahan seperti ini kepadaku?"

"tidak! maaf guru, sebelumnya aku telah menemukan dahan terelok yang pernah aku lihat, namun saat hendak aku memotongnya, aku melihat dahan lain. Aku mengira dahan di pohon itu lebih bagus, tapi ternyata tidak. Dahan-dahan lain pun ternyata tidak lebih bagus dari dahan itu!" ucapnya penuh penyesalan. 

"baiklah, akan ku beritahukan maksud apa yang ingin ku sampaikan kepadamu. Nak, ketahuilah, bahwa rimba yang engkau jamahi adalah waktu, sementara dahan yang kau potong adalah tombol-tombol kesempatan yang menghampirimu. Ketika dalam perjalananmu, engkau aku larang agar tidak boleh mundur kembali ke belakang, artinya aku ingin engkau paham, bahwa dalam perjalanan hidupmu, engkau tidak akan pernah bisa kembali ke waktumu yang lalu, barang sedetik pun! Lalu, saat kau paham agar tidak mengambil kembali dahan terbaikmu di belakang, artinya aku ingin memahamkan bahwa dalam hidup ini, engkau terkadang tidak bisa mengambil kembali kesempatan terbaik yang telah engkau lewatkan. Ambil kesempatan itu atau tinggalkan dan lupakan! itu adalah pilihanmu." 

"....." si pemuda diam dan tersenyum perlahan karena mulai mengerti pelajaran sederhana dari gurunya.    

-- -- -- --

       
itulah ceritanya, kawan. Cerita ini mengingatkanku tentang sebuah surat nan indah dalam kitab suci al-Qur'an. Allah swt berfirman :

"wal 'ashri, innal insana lafii husrin, illalladzina amanu wa 'amilush-sholihati, wa tawaa shaubil haqqi, wa tawaa shau bis-shobri." [QS al-Ashr : 1-3]

"demi waktu, sesungguhnya manusia ada di dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan yang beramal shaleh, yang saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran." [TQS al-Ashr: 1-3]

Dalam surat tersebut terdapat jenis wau qosham dan wau athof! wau qosham: Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang makna qosham yang Allah tunjukkan dalam al-Qur'an, bahwa posisi dan kedudukan objek yang di-qosham adalah istimewa, karena Allah swt tidak berqosham kecuali dengan sesuatu yang istimewa. Wau athof: yang bermakna rentetan amal paralel yang harus kita lakukan agar berlaku bijak terhadap sesuatu yang Allah telah istimewakan.

Kawanku, kita sudah begitu lama bercengkrama dengan waktu, namun kita seringkali mencampakkannya dan bahkan membiarkan berpuluh-puluh kesempatan baik berlalu begitu saja. Hari ini adalah momentum, esok pun juga. Untuk mengikrarkan kepada diri kita bahwa kita tak akan pernah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang datang kepada kita, bahwa kita tak akan membiarkan masa muda kita lenyap karena perbuatan sia-sia. Semoga hari esok kita bisa menemui kesempatan terbaik yang singgah di ruang tamu kehidupan kita. amiin. 


#dalam catatan harianku di tengah derasnya hujan ketiga di bulan ini. 
West Borneo, Ahad, 16/2/2014.    

    





Rabu, 25 Desember 2013

Oh...Muslim Boy


Oh...Muslim Boy
By: Shukri

Oh…Muslim boy, Azan, Azan is calling.
Stop playing coins, come on to mosque for praying.
The sun has gone, the night, the night is coming.
Come back to home, prepare for Maqrib praying.

In the dark sky, full moon, full moon is shining.
Gaze at the sky, lot of the stars is twinkling.

Thank you Allaah, so nice, so nice for everything.
Alhamdulillah is the best word for praising.
Oh…Muslim boy,
Oh…Muslim boy,
I love you so.





Senin, 09 September 2013

Adzan Maghrib



Aku berdiri di bawah payung khatulistiwa,
menatap ufuk barat yang menelungkupkan senja 
langit adalah kitab yang terbentang,
dan saat ini aku tengah membaca satu goresan rona mentari, 
yang mengajarkanku tentang petuah alam,
arti bijak dan makna kedewasaan..
dalam memilih tombol-tombol pilihan,
yang tertanam dalam sejuta jalan, di antara persimpangan.

Seperti kemarin, aku mendengar adzan di saat muncul segaris merah..
bergema di antara atap-atap angkasa tanpa pilar,
menundukkan nafsu dan ambisiku,
mengajakku tuk kembali sujud dan tunduk kepada ilahi Rabbi,
adzan ini, mengisi kedamaian di bumi yang tanpa warna..

#mari shalat.. mari shalat...


07/09/2013 - Balai Sebut, Sanggau - Kalbar

Senin, 02 September 2013

Ekspektasi





aku memimpin
dalam riak kegamangan bahtera
sejenak kutatap penuh suka
tarian sang surya dalam buaian awan..

Aku mengerti
redupnya cahaya
melahirkan banyak kegamangan bahkan juga kebencian
karena semuanya
adalah tentang kesempurnaan..

maka aku harus memilih
di antara rimbunan ketidakpastian
karena semuanya
adalah tentang tanggungjawab..

by HNL


Minggu, 01 September 2013

Perjalanan yang Tak Terduga


picture : Ruth Tay

Matahari pagi menyiangi bumi,
aku berjalan diantara kelokan sungai yang membeku,
di atas jejalan batu yang menjadi prasasti alam 
yang tiada pernah dirindu,

ku tutup mataku, berharap ada kedamaian 
yang singgah dalam ruang tamu hatiku, 
tiba-tiba.. tanpa kuduga,
ku rasakan angin menuntun mata hatiku,
ia memegang jemariku, perlahan penuh kelembutan, 
lalu menarik leherku dengan selendang tanpa warna,
tanpa rasa, tanpa airmata... 

ku buka mataku, 
oh Tuhan, bening.. 
hatinya bening sekali, tak tampak keruh seperti sungai ini..
ia tersenyum, melihat burung-burung dara 
yang mengitari mahkota keindahannya..
lenyaplah sudah kegelisahan dalam hatiku, 
berganti menjadi rona yang memantulkan cahaya mentari..  
yang menyebar karena terbias sinar indahnya, 

ku tutup lagi mataku, 
oh Tuhan, hilang.. 
ia menghilang, tak lagi tampak di hadapanku..
aku bertanya pada riak sungai dan serakan daun, 
namun mereka diam..
sambil terguncang, sang sungai akhirnya angkat bicara,
ia mengatakan kemana sang angin pergi lewat riak cerminnya,
rupanya ia telah pergi bersama burung-burung dara, 
melanjutkan mimpinya untuk mengembara ke tanah mulia,  

aku berjalan diantara kelokan sungai yang masih membeku,
di atas jejalan batu yang menjadi prasasti yang akan aku rindu,
kemana angin berhembus, disanalah aku menuju..

aku rindu pada lukisan pagi yang cerah terbayang,
aku rindu pada siluet senja yang indah membayang,

Sahabat, seandainya engkau kembali ke sini,
kan ku ajak engkau menari bersama pagi,
kan ku ajak engkau berlari menyalip sinar mentari,
namun engkau tak lagi ada disampingku.
di sini aku menantimu, wahai sahabat 



Selasa, 13 Agustus 2013

Tuhan, ini do'a mode otomatisku di setiap dasawarsa





Saat kita kecil dahulu kala,
kita begitu kaya akan rasa,
kita tak pernah putus dalam mencipta asa, 
tak pula kita jemu dalam mengucap kata,
untuk meyakinkan diri bahwa kita selalu dan pasti bisa!

Saat tumbuh memasuki usia muda,
kita dengan ceria menjalani masa yang penuh cerita,
walau seribu rintang dan sejuta goda,
kita tak pernah segan menantang dunia,
untuk membuktikan bahwa kita masih bisa!

Saat kita perlahan memasuki usia senja,
kita bertanya, kenapa semua cerita tak selalu sama,
entah kenapa setiap episode selalu berbeda,
ada kekhawatiran yang menyalip dalam sukma,
mungkin sebab dunia kini tak lagi mempesona,  

Tuhan,
ini do'aku,
yang bermode ulang otomatis di setiap dasawarsa, 
bahwa aku ingin kaya rasa,
hidup dengan segenggam asa,
bersama orang-orang yang kucinta,
karena saat aku kaya rasa, asa dan cinta,
saat itulah hakikatnya aku kaya raya, 




Minggu, 11 Agustus 2013

inikah dia



Rona itu menggodaku,
dalam sunyi terus menemani.
embun pun datang
diam, dingin dan pergi..

Senyuman itu merayuku,
dalam asa yang semu.
mentari pun beranjak pergi
dalam malam, sunyi dan sepi..

Entah ada pa dengannya...

Cintanya terlalu sulit dicerna,
dalam akalku yang membara,
semuanya melayang dan tak pasti..

Inikah dia..
Pesonanya meruntuhkan batinku,
dalam getar jiwa asmara,
terbuai indah dan damai..

by HNL

Jumat, 02 Agustus 2013

Arti Pujian




Apa arti pujian?
Pujian adalah genangan cinta yang mengalir dari samudera hati
yang menjadikan bunga sakura bersemi di musim gugur.
(Sugiri Jafar)


Rabu, 10 Juli 2013

Tujuh Syurga



Album : 7 Syurga
Munsyid : Edcoustic feat Fika

||

Kumandang cinta bergema hingga kehati
Lafaz lafaz asmara memanggil jiwa yang rapuh
Rapuhnya aku Kau maha tahu
Pagi siang malam dunia yang kutuju
Saat kujatuh baru kusadar Kau lah segalanya

Reff:

Tuhan kuangkat kedua tanganku
Sudikah Engkau menerima cintaku
Berdarah-darah akan kutempuh
Menggapai tarikat cintaMu

Tujuh surga pun aku tak pantas
Menerima diri yang bersimbah dosa
Kuharap cinta dan ampunanMu
Setinggi arasy-Mu seluas semesta cinta  


Sabtu, 08 Juni 2013

Sebuah Perjalanan




Hari ini,
 telah ku sematkan bunga dan cinderamata 
sebagai tanda terima kasihku,
kepada dunia yang tak bosan menertawakanku,
kepada dunia yang telah lama menantangku,
kepada dunia yang mendidik dan mendewasakanku,

Saat nanti,
sepuluh tahun atau satu dasawarsa lagi, 
kan ku udarakan pengalaman hidup yang telah tersimpan 
dalam kitab kehidupanku..

ku kan berdiri di atas podium sejarah besar,
di antara arena perjuangan alam semesta, 
saat itu ku lantang berkata :

  Aku telah berlari di antara sabana, 
melompati delta dan muara, 
 merangkak diantara goa, 
jatuh dan tersandung batu pualam. 
aku telah melintasi khatulistiwa, 
menerjang ombak di samudera, 
dan menggenggam cakrawala. 
Aku telah berkata kepada dunia
 bahwa aku BISA!!

Kamis, 30 Mei 2013

Puisi Perpisahan





Setengah dasawarsa yang lalu 
perjalanan kecil ini dimulai, 
Dengan segumam asa 
hingga menjadi satu teriakan yang membahana.

Tak ada satu pun janji yang terakad, 

tak juga satu kata yang terucap, 
 kecuali janji dan kata setia 
untuk menggapai satu ranting impian 
yang dulu sempat tergumam. 
Bukit itu yang kini mulai terlihat dibalik lensa kaca.  

Ku untai satu persatu kata dalam tulisan ini 
bersama sejumput kelelahan 
yang mulai merayap ke seluruh sendi.
Aku lelah, namun aku masih tahu arah,
Aku jemu, namun tak ku ambil jalan yang keliru.

Aku hanya bisa terpejam,
 saat penat mematuki selingkar pita,
aku nikmati rasa sakit, aku temani rasa perih,

luka adalah temanku,
lelah adalah sahabatku, 
karena luka selalu mengingatkanku atas kelemahanku,
karena lelah selalu mendorongku 
untuk mengejar mimpi dan cita-citaku...





Setiap hari ku persiapkan bekal untuk bisa kembali ke sana,
Setiap detik ku isi dengan melejitkan valensi diri,
Ku lahap semua ilmu yang ku perlukan,
Ku bentangkan ilmu yang ku sajikan.

Saat ini,
Aku hanya mampu membawa biji-biji melati,
telah ku tanam di antara gundukan tanah di kebun-kebun waktu.  

Ketika suatu hari nanti, 
Ketika saat itu tiba,
Aku berjanji untuk datang membawa sekebun bunga melati 
yang tengah mekar dan mewangi,
Dan kan ku berikan semuanya untukmu,
Hanya untukmu,     

selamat tinggal Jatinangor,
selamat tinggal kawan-kawan seperjuangan, 
Selamat bertemu di puncak kehidupan selanjutnya,
puncak kemuliaan hidup..


Rabu, 29 Mei 2013

Selalu Skeptis






kenapa setiap niat baik selalu saja ada yang meragui, 
kenapa setiap usaha keras selalu saja ada yang mencibir,

kita melangkah, ada yang mendongak.
kita berhenti, ada yang merangkak.
kita terjatuh, ada yang terbahak-bahak.

ada rahasia, 
di setiap butir persoalan yang kerap kita pertanyakan 
di atas lembaran kertas kehidupan.
ada pertanyaan, 
di setiap kotak rahasia yang kita kunci dan simpan 
rapat-rapat di sudut gudang hidup kita. 
ada apa dengan diri kita?

Senin, 20 Mei 2013

Jalan Yang Tidak Kutempuh


Dua jalan bercabang dalam remang hutan kehidupan,
Dan sayang aku tak bisa menempuh keduanya
Dan sebagai pengembara, aku berdiri lama
Dan memandang ke satu jalan sejauh aku bisa
Kemana kelokannya mengarah dibalik semak belukar;

Kemudian aku memandang yang satunya, sama bagusnya,
Dan mungkin malah lebih bagus,
Karena jalan itu segar dan mengundang
Meskipun tapak yang telah melewatinya
Juga telah merundukkan rerumputannya,

Dan pagi itu keduanya sama-sama membentang
Dibawah hamparan dedaunan rontok yang belum terusik.
Oh, kusimpan jalan pertama untuk lain kali
Meski tahu semua jalan berkaitan,
Aku ragu akan pernah kembali.

Aku akan menuturkannya sambil mendesah
Suatu saat berpuluh tahun mendatang;
Dua jalan bercabang di hutan, dan aku―
Aku menempuh jalan yang jarang dilalui,
Dan itu mengubah segalanya.


===Jadilah pribadi yg Dewasa====



ROAD NOT TAKEN
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;


Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,


And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I marked the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.


I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.


THE END


(Robert Frost - 1916)

Minggu, 05 Mei 2013

Aku Ingin




"Aku ingin"
oleh : Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada



Sabtu, 04 Mei 2013

Inspiring musical cover




Cukup banyak yang bertanya-tanya, sembari tak sabar untuk menunggu kapan buku "Pendaki Menara Malam" ini terbit. Tenang ya, kawan. sebenarnya, buku ini sudah hampir selesai, kok. Pengerjaannya pun tidak terlalu rumit, karena berlatar seputar perjalanan hidup dan pengalaman saya semasa aktif belajar memimpin di dakwah kampus. Hanya saja mungkin tipologi novel seperti ini tidak akan terlalu cukup heboh di pasaran. Tapi, itu bukanlah masalah besar, menyalurkan passion sembari berbagi inspirasi adalah sebuah sensasi tersendiri bagi saya, itu sudah lebih dari cukup dan itu yang lebih penting.

Nah, sebelum saya kirimkan naskah yang utuh ke beberapa koneksi penerbit, saya ingin berbagi kepada sahabat semua, sebuah musik pengiring yang selalu saya putar di setiap malam ketika menulis novel ini. Sebuah lagu instrumental yang setia mengiringi pikiran saya ketika terhanyut di sungai keindahan langit malam dan selalu terjaga menjaga batas-batas romantika seorang pemuda pekerja keras agar tidak terjatuh ke dalam lubang monoton dan kompleksitas.      

semoga bermanfaat, semoga menginspirasi..

- untuk mendownload, klik gambar ilustrasi atau klik :
http://www.4shared.com/file/Ui09omHo/Pendaki_menara_malam.html


Song :
Do You? by Yiruma

Keyakinanku




Tentang Resignasi
Aku tak perlu merasa terhina
Karena hakikatnya aku tak memiliki pujian

Aku tak perlu merasa kehilangan
Karena hakikatnya aku tak memiliki apa-apa

Aku tak perlu merasa sedih
Karena hakikatnya aku tak memiliki bahagia

semuanya hanyalah rasa.

Aku bukan siapa-siapa, bukan apa-apa; tidak memiliki siapa-siapa, tak punya apa-apa; tidak pula dimiliki siapa-siapa dan apa-apa => kecuali Alloh Swt


Tentang Konfiksi
Aku berfikir untuk “melakukan yang terbaik” tak peduli menang atau kalah
Aku berfikir untuk “menjalani hidup dengan baik” tak peduli nikmat atau susah
Aku mencukupkan diri hanya Mencintai Sang Pemberi nikmat bukan nikmat itu sendiri.

oleh : Fahrur Rozi

Rabu, 01 Mei 2013

Selamat (jalan) Hari Pendidikan Nasional




Sajak Pertemuan Mahasiswa
Oleh : W.S. Rendra  


Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit,
melihat kali coklat menjalar ke lautan,
dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.

Lalu kini ia dua penggalah tingginya.
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini memeriksa keadaan.

Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.

Orang berkata “ Kami ada maksud baik “
Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”
Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka.
Ada yang duduk, ada yang diduduki.

Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.
Dan kita di sini bertanya :
“Maksud baik saudara untuk siapa ?
Saudara berdiri di pihak yang mana ?”

Kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.

Perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja.
Alat-alat kemajuan yang diimpor

tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.
Tentu kita bertanya : “Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”

Sekarang matahari, semakin tinggi.
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :

Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan,
ataukah alat penindasan ?

Sebentar lagi matahari akan tenggelam.
Malam akan tiba. Cicak-cicak berbunyi di tembok.
Dan rembulan akan berlayar.
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.
Akan hidup di dalam bermimpi.
Akan tumbuh di kebon belakang.

Dan esok hari matahari akan terbit kembali.
Sementara hari baru menjelma.

Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.
Atau masuk ke sungai menjadi ombak di samodra.

Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera.
Ada yang habis, ada yang mengikis.
Dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana!


Jakarta 1 Desember 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi

Selasa, 02 April 2013

Puisi Kehidupan





 Hari hari lewat, pelan tapi pasti
 Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
 Karena aku akan membuka lembaran baru
 Untuk sisa jatah umurku yang baru
  
 Daun gugur satu-satu
 Semua terjadi karena ijin Allah
 Umurku bertambah satu-satu
 Semua terjadi karena ijin Allah 

 Tapi… coba aku tengok kebelakang

 Ternyata aku masih banyak berhutang
 Ya, berhutang pada diriku
 Karena ibadahku masih pas-pasan 

 Kuraba dahiku

 Astaghfirullah, sujudku masih jauh dari khusyuk

 Kutimbang keinginanku

 Hemm… masih lebih besar duniawiku

 Ya Allah...

 Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
 Akankah aku masih merasakan rasa ini pada tanggal dan bulan yang sama di tahun depan?
 Masihkah aku diberi kesempatan?

 Ya Allah….
 Tetes airmataku adalah tanda kelemahanku
 Rasa sedih yang mendalam adalah penyesalanku
 Astaghfirullah….

 Jika Engkau ijinkan hamba bertemu tahun depan
 Ijinkan hambaMU ini, mulai hari ini lebih khusyuk dalam ibadah
 Timbangan dunia dan akhirat hamba seimbang
 Sehingga hamba bisa sempurna sebagai khalifahMu
 Hamba sangat ingin melihat wajahMu di sana
 Hamba sangat ingin melihat senyumMu di sana
 Ya Allah, Ijinkanlah

 (Chairil Anwar)

Rabu, 27 Maret 2013

The sound of reverie





I witnessed the scene
The change of night and day
But it feels obvious
Staying and enjoying the night resulted forgetting the day
But spending much time of the day, sleeping,
Then what is the night for

There are more trouble than I could predict
It feels quite clear,
The enemy was in the self
The time when there were disputes in the self,
When you felt the existence of the real you,
Because the pursue will not and never end

How can you blame yourself for what you've done when you were sleeping
I'm not sure at that time I was sleeping

See,
The sky is getting darker
And the sun is leaving you
What would you prepare?

by : Muhamad Hasan

Selasa, 19 Maret 2013

Melukis Malam


Senja turun di bukit cahaya,
mendesak satu persatu ujung pena rerumputan malam,
jiwaku masih saja mendaki menara malam yang curam,
seakan menari di antara celah impian manusia yang karam,

Diriku,
biarlah kau miskin harta,
juga miskin rupa,
asal jangan kau miskin rasa,
juga miskin air mata,
...
kau punya segenggam cinta dan airmata,
yang akan menumpahkan tinta dan derita,
yang akan menghiasi intan dan pelita, 

kau punya sejuta rasa dan cinta,
yang akan menyalakan warna dan pena,
yang akan mencerahkan mutiara dan dunia,


Hujan turun di lembah kehidupan,
melindungi satu persatu pendaran sinar perjuangan,
hatiku masih saja terpaut pada satu bukit yang terpendam,
seakan meneduh di antara rindang angan-angan manusia yang telah karam.