expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

beres

Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Maret 2013

Muhasabah

Bismillah.. 
Muhasabah diri -Brkt Hasan Al Bashri :  
"Aku tahu rizkiku tidak mungkin diambil orang lain, karenanya hatiku tenang. Aku tahu amal-amalku tidak mungkin dilakukan orang lain, karenanya aku sibukkan  diriku dengan bekerja dan beramal. Aku tahu Allah selalu melihatku, karenanya aku malu melakukan dosa. Aku tahu kematian menantiku maka aku persiapkan bekal untuk berjumpa dengan Rabb-ku"

Sabtu, 24 November 2012

~AL-GHINAT- MUHASABAH


****
Sinar mentari kian memudar,
Lembayung senjapun makin merona,
Membias indah kewajah rembulan,
Yang malu-malu menyapa sang malam.

Untaian bintang berkelip benderang
Menghias angkasa yang gelita
Kucoba arungi malam yang sunyi
Didalam zikir hatiku padanya,

****
Ya Allah.. ini malamMu tlah singgah
Kedalam hati hambaMu yang resah

Ya Allah... lukisan malamMu nan megah
Iringi daku sujud bermuhasabah

****
Sinar mentari bersinar lagi,
Menyapa kilauan siembun pagi,
Kicau kenari sapa melati,
Menjadi melodi warnai hari,

Langit biru berhiaskan awan,
Mengajak sang surya beranjak terang,
Hangat sinarnya beri harapan,
Tuk isi hari yang tlah kau beri.

****
Ya Robbi... siangMu kini kembali,
Kan kucari rizki dan taqwa diri,
Ya Robbi... kini kian aku sadari,
Dimalam dan siang hari.

.:. Munsyid: al-Ghinat
Nasyid: Muhasabah

Jumat, 19 Oktober 2012

Muhasabah - Meraih Syurga






al imanu yazid wa yanqus... yazidu bi at tho'at wa yanqus bil ma'siyat.

"Keimanan itu bertambah dan berkurang, 
Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan."

Lisan yang senantiasa basah dengan dzikir, hati yang senantiasa bersih dan putih hanya akan didapatkan  oleh mereka yang menjadikan muhasabah sebagai bagian dari ritme hidupnya. Manusia adalah tempat salah dan khilaf, namun tentu bukan bi'ahnya seorang muslim jika ia selalu berkubang dalam kekhilafan dan kemaksiatan yang menutupi hati dan akalnya. 

Muhasabah hendaknya tidak hanya menyentuh perasaan (hati), namun juga diharapkan dapat menyeru pemikiran (akal) seorang muslim agar ia dapat menjaga kuantitas dan kualitas ibadah. 

Mari bermuhasabah...

Download Materi - Meraih Syurga 
overview :
- Berbakti kepada orang tua
- Pertanyaan mendasar manusia
- Kepribadian Islam
- Dakwah berjamaah

Minggu, 14 Oktober 2012

Tentang nada & mata







Setiap ku bertemu denganmu, dengannya dan dengan mereka, yang pertama kali ku lihat adalah matamu, matanya dan mata mereka. Mata yang menuturkan indah perangaimu, gelap pribadinya dan bias kebiasaan mereka. Semua patahan teka-teki yang terangkai menjadi satu peristiwa yang berarti bagi mereka yang berusaha menemukan makna di balik rasa sesal, penat, gundah dan putus asa.
Terhenyak batinku dari sepi, saat kulihat sorotan matanya. Mata yang sudah lama ku kenal sejak menginjakkan kaki di kampus. Inikah mata yang selama ini ku impikan dalam hidup?  Mata yang menatap jauh dan dalam.  Jauh seiring dengan samudera ilmu yang ia layari dan begitu dalam bak palung pengalaman hidup yang ia selami. Mata bening yang penuh ketegasan, kasih sayang dan penuh arti.   

Ya Allah,, syurga adalah peristirahatan terakhir kami, fasyhad..

"Hai orang yang berkemul, bangunlah lalu berilah peringatan, dan
Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan
dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud)
memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi
perintah) Rabbmu, bersabarlah. " (Al-Muddatstsir: 1-7).


Minggu, 17 Juni 2012

Terima kasih ya Allah...

 
               Sesaat mata berkedip, rasa-rasanya, sadar atau tidak, kita mulai merasakan bahwa waktu begitu cepat berlalu. Ia bagai kereta listrik raksasa yang enggan berlari mundur di atas rel. Alhamdulillah, delapan semester akhirnya berhasil dilalui, manis-pahit menjalani kehidupan kampus menjadi modal berharga tuk menata kehidupan pasca kampus, kehidupan yang sesungguhnya.  

               Kereta dakwah terus berlari menuju stasiun kemenangan yang telah dijanjikan Masinis Alam Semesta, semoga sedikit bekal ilmu yang telah ditimba menjadi pelecut dakwah demi mengembalikan kembali tegaknya sistem terbaik yang pernah ada, syariah-khilafah!!   

            Ya Allah, ya Rabb, hamba sadar diri akan kealfaan , kekhilafan serta kesalahan-kesalahan yang hamba perbuat kepadaMu.  Semoga Engkau sudi memberikan ampunan kepada hambaMu yang jahil ini. Besar sekali harapan hamba, agar kelak di yaumil akhir, hamba mampu membawa amalan-amalan shaleh secara utuh ketika menghadapMu.  

                  . 
     Terima kasih ya Allah..
 atas benih cinta yang dulu telah tertanam, 
Terima kasih ya Allah..
 atas bulir rindu yang kini mulai tersemai.

Ya Allah, 
anugerahkanlah kepadaku singgasana keimanan yang kokoh, 
mahkota dakwah yang tiada dapat ditundukkan.

Ya Allah, 
bangunkan untukku sebuah rumah disisiMu dalam Jannah 
serta selamatkanlah aku dari tipu daya dunia, 
gila harta, ambisi tahta, serta dari fitnah wanita. 

Senin, 30 April 2012

Hidup itu...

Hidup adalah sebuah kemandirian, karena ia tak pernah banyak meminta, karena ia tak pernah menagih airmata, ia tak banyak meminjam kata-kata, ia hanya menuntut tanda tanya :

dapatkah kita menjaga tatapan di tengah buram fatamorgana dunia? mampukah kita memelihara lisan di sekeliling hambar tipu daya dunia? akankah kita menganugerahkan kado keistiqomahan kepadaNya yang tak pernah bosan memberi ampunan dan rahmah kepada kita yang selalu bermuram durja?


kelak, setiap kita akan menemukan satu kenyataan yang terkadang menyisakan luka, yang akan menagih airmata, yang menyita kata-kata, namun itulah yang membuat kita dewasa.

Selasa, 24 April 2012

Lovely Sister




menjadi seorang ummu wa robbatul bait tidak mudah, bukan?
perlu kesabaran, kesadaran, dan kesederhanaan.
namun hakikatnya kan terungkap pula di kemudian hari,
tatkala sisa usia mulai menepi, arus pahala terus mengalir.
tatkala telaga Jannah menanti kedatanganmu,
semoga engkau kelak menjadi ratunya para bidadari,
Allahumma amin, ya Allah ya Karim..

Senin, 05 Maret 2012

Cinta Seorang Ayah





Ketika kita merindukan ayah kita, namun lupa mengucapkan terimakasih padanya, dengarlah Suara dari Langit yang berkata:


"Saat Ku-ciptakan laki-laki, Aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga.

Dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi."

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya dan keperkasaannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya."

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari nafkah yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun mungkin dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya yang tidak puas atas hasil jerih payahnya itu."

"Kuberikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah. Demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari. Demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup dan kedinginan karena tersiram hujan serta terterpa hembusan angin. Dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya. Yang selalu dia ingat adalah di saat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."

"Ku-berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun di setiap perjalanan hidupnya dia diterpa keletihan dan kesakitan."

"Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha, berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya dalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidak jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal kasih sayangnya itu pula yang memberikan perlindungan rasa aman pada saat anak-anaknya tertidur lelap. Sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan bahwa istri yang baik adalah istri yang setia terhadap suaminya. Istri yang baik adalah istri yang senantiasa menemani dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada istrinya, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan di wajahnya untuk menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikir dan tenaganya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup bahagia. Badannya yang bungkuk adalah bukti bahwa sebagai laki-laki yang bertanggung-jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya."

"Ku-berikan kepada laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki."*


-------------------------~​-------------------------~​-------------------------

~Ketika kita merindukan ibu kita, namun terlalu sibuk untuk pulang ke kampung halaman, ingatlah suara hati kita yang berucap indah:

---- Ibuku Pahlawanku ----

Ibuku adalah orang yang paling hebat. Ia adalah pahlawanku. Aku bangga kepadanya.

Ibu tidak memiliki sayap dan tidak punya otot yang kuat. Tapi ia lebih hebat dari jagoan manapun.

Tanpa ibu, aku tak akan pernah ada di dunia.

Ibu mengandung dan membawa diriku di dalam perutnya selama Sembilan bulan.
Aku belum kuat tumbuh di luar.

Nyaman dan hangat sekali berada di dalam sana. Perut ibu jadi gendut dan berat.
Ibu merasa lelah, tapi ia tak pernah mengeluh.

Ketika aku lahir, ibu merasa sangat kesakitan. Tapi ibu tidak marah kepadaku.

Ibu malah tersenyum dan menangis.
Bukan karena sedih, tetapi karena bahagia.

Ibu memeluk dan menciumku. Pelukan pertama ibu menghentikan tangisku dan membuatku tenang.

Ibuku Pahlawanku..

Saat aku masih bayi, tak ada yang dapat aku lakukan. Jika aku ingin sesuatu, aku hanya bisa menangis.

Ibu segera memeluk dan mengayunku dalam dekapannya. Aku merasa nyaman berada dalam pelukan ibu.

Ibu selalu ada untukku. Malam haripun ibu sering terjaga dan menemaniku.

Saat aku lapar, haus, atau apabila popokku basah, ibu dengan sigap memenuhi kebutuhanku.
Meski mengantuk, ibuku berjaga setiap waktu.

Ketika aku sakit, ibu menjadi perawat nomor satuku.
karena badanku sakit, aku tidak berhenti menangis. Ibu tidak tidur karena berusaha menenangkanku siang dan malam.

Meski lelah, ibu tidak mengeluh.

Ibuku sangat pandai bernyanyi. Aku senang sekali mendengar nyanyian ibu.

Suaranya lembut, dan merdu sekali.

Ibu menyanyikan aku lagu tentang matahari, burung dan hujan.

Ibuku juga pandai bercerita.
Setiap malam ibu bercerita hingga aku tertidur. Tentang perahu keci, gajah dan kelinci.

Wajah ibu adalah yang pertama dan terakhir kulihat setiap harinya. Ibu selalu tersenyum.

Sekarang aku sudah besar. Lihatlah! Tubuhku sudah tinggi. Aku sudah bersekolah. Aku sudah dapat melakukan sesuatu sendiri.

Kata ibu aku adalah mataharinya yang shaliha. Aku tidak mengerti, tetapi aku senang menjadi anak shaliha.

Kata ibu karena itu aku disayang Allah.

Ibuku pahlawanku…

Aku akan membalas jasa ibu. Aku harus rajin belajar untuk meraih cita-citaku.

Aku berkata baik kepada ibu.
Aku selalu menuruti nasihat ibu.
Aku mendoakan ibu setiap hari.
Aku akan menjadi anak shaliha.

Aku sayang ibu dan ibu sayang padaku.
Kasih sayang ibu kepadaku besaaaar sekali, melebihi bumi dan planet-planet.

Sayangku pada ibu sepanjang matahari hingga Pluto. Kamu tahu planet terjauh itu bukan?

Aku selalu berdoa agar Allah Yang Maha Pengasih menyayangi ibuku.

Inilah doaku untuk ibu:

Allahummagh firlii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii saghiiraa

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil.

(Cerita Inspiratif untuk si kecil menjelang tidur karya Aminah Mustari)*


-------------------------~​-------------------------~​-------------------------

*) dikutip dari berbagai sumber,

-------------------------~​-------------------------~​-------------------------


Ayah dan Ibu, sangat luar biasa, kapan terakhir kali kita berlari memeluk dan mencium kening keduanya seperti saat kecil dulu?

Terlalu sibukkah kita dengan dimensi kehidupan yang sekarang kita jalani, hanya untuk sekali saja menelpon dan mengucapkan salam kepada keduanya, karena jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam tersimpan dengan rapi nama dan wajah kita?

Ayah dan Ibu, sangat luar biasa,
Karenanya, marilah kita sekuat tenaga, untuk menjadikan diri kita, istri kita (kelak), anak-anak kita (kelak) menjadi suami dari istri yang sholehah, istri dari suami yang sholeh, orang tua dari anak-anak yang sholeh dan sholihah.

Anak yang akan senantiasa mendo’akan kita kapan pun dan di manapun berada. Anak lelaki yang mampu menjadi qowwam bagi keluarganya, dan tetap berbakti kepada orang tuanya, serta anak perempuan yang menjadi istri dan ibu shalihah, yang mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang shaleh dan shalihah pula.

~ sky of poem

Senin, 27 Februari 2012

Belajar Bersyukur


Andai semua orang tahu bahwa hidup adalah anugrah,
tentu mereka tak kan pernah lupa untuk terus bersyukur
kepada-Nya..

Andai semua orang tahu bahwa mutiara iman adalah sebuah anugerah langka,
tentu banyak diantara mereka yang bersujud
karena takut terhadap-Nya..

Andai semua orang tahu bahwa nikmat berislam adalah anugerah berharga,
tentu sedikit diantara mereka yang durhaka dan
berpaling kepada-Nya..

Andai semua orang tahu bahwa aktivitas dakwah adalah kesempatan istimewa,
tentu banyak diantara mereka yang ikhlas
memperjuangan agama-Nya..

Sahabatku, mari kita belajar untuk terus bersyukur kepada Allah swt dengan taat-takut kepadaNya,
suka & benci karena-Nya, mengamalkan & memperjuangan sunnah rasul-Nya,
hingga kita memenangkannya atau binasa
karena memperjuangkannya.. 


Allah adalah sebaik-baik pemberi rizki,
maka terus berusalah agar kita bisa menjadi sebaik-baik penerima rizki..

Sabtu, 18 Februari 2012

Ibuku Pahlawanku..


Ibuku Pahlawanku..

Ibuku adalah orang yang paling hebat. Ia adalah pahlawanku. Aku bangga kepadanya.

Ibu tidak memiliki sayap dan tidak punya otot yang kuat. Tapi ia lebih hebat dari jagoan manapun.

Tanpa ibu, aku tak akan pernah ada di dunia.

Ibu mengandung dan membawa diriku di dalam perutnya selama Sembilan bulan.
Aku belum kuat tumbuh di luar.

Nyaman dan hangat sekali berada di dalam sana. Perut ibu jadi gendut dan berat.
Ibu merasa lelah, tapi ia tak pernah mengeluh.

Ketika aku lahir, ibu merasa sangat kesakitan. Tapi ibu tidak marah kepadaku.

Ibu malah tersenyum dan menangis.
Bukan karena sedih, tetapi karena bahagia.

Ibu memeluk dan menciumku. Pelukan pertama ibu menghentikan tangisku dan membuatku tenang.

Ibuku Pahlawanku..

Saat aku masih bayi, tak ada yang dapat aku lakukan. Jika aku ingin sesuatu, aku hanya bisa menangis.

Ibu segera memeluk dan mengayunku dalam dekapannya. Aku merasa nyaman berada dalam pelukan ibu.

Ibu selalu ada untukku. Malam haripun ibu sering terjaga dan menemaniku.

Saat aku lapar, haus, atau apabila popokku basah, ibu dengan sigap memenuhi kebutuhanku.
Meski mengantuk, ibuku berjaga setiap waktu.

Ketika aku sakit, ibu menjadi perawat nomor satuku.
karena badanku sakit, aku tidak berhenti menangis. Ibu tidak tidur karena berusaha menenangkanku siang dan malam.

Meski lelah, ibu tidak mengeluh.

Ibuku sangat pandai bernyanyi. Aku senang sekali mendengar nyanyian ibu.

Suaranya lembut, dan merdu sekali.

Ibu menyanyikan aku lagu tentang matahari, burung dan hujan.

Ibuku juga pandai bercerita.
Setiap malam ibu bercerita hingga aku tertidur. Tentang perahu keci, gajah dan kelinci.

Wajah ibu adalah yang pertama dan terakhir kulihat setiap harinya. Ibu selalu tersenyum.

Sekarang aku sudah besar. Lihatlah! Tubuhku sudah tinggi. Aku sudah bersekolah. Aku sudah dapat melakukan sesuatu sendiri.

Kata ibu aku adalah mataharinya yang shaliha. Aku tidak mengerti, tetapi aku senang menjadi anak shaliha.

Kata ibu karena itu aku disayang Allah.

Ibuku pahlawanku...

Aku akan membalas jasa ibu. Aku harus rajin belajar untuk meraih cita-citaku.

Aku berkata baik kepada ibu.
Aku selalu menuruti nasihat ibu.
Aku mendoakan ibu setiap hari.
Aku akan menjadi anak shaliha.

Aku sayang ibu dan ibu sayang padaku.
Kasih sayang ibu kepadaku besaaaar sekali, melebihi bumi dan planet-planet.

Sayangku pada ibu sepanjang matahari hingga Pluto. Kamu tahu planet terjauh itu bukan?

Aku selalu berdoa agar Allah Yang Maha Pengasih menyayangi ibuku.

Inilah doaku untuk ibu:

Allahummagh firlii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii saghiiraa

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil.

(Cerita Inspiratif untuk si kecil menjelang tidur karya Aminah Mustari)


Minggu, 12 Februari 2012

Istighfar


 
Istighfar

Ya Allah,
Engkau beri kami mata, tapi kami sering gunakan untuk melihat yang tidak pantas kami lihat; kami tidak menggunakannya untuk membaca ayat-ayat-Mu.

Engkau beri kami telinga, tapi kami sering gunakan untuk mendengar kata sia-sia; kami tidak menggunakannya untuk mendengar nasehat.

Engkau beri kami lidah, tapi kami sering gunakan untuk berbohong dan menggunjing; kami tidak menggunakannya untuk berdakwah, saling menasehati dalam kebenaran.

Engkau beri kami tangan, tapi kami sering gunakan untuk menzalimi orang dan menzalimi kami sendiri; kami tidak menggunakannya untuk menyingkirkan kemungkaran.

Engkau beri kami kaki, tapi kami sering gunakan untuk melangkah menuju tempat maksiat;  kami tidak menggunakannya untuk pergi berjihad.

Engkau beri kami akal, tapi akal itu jarang kami gunakan untuk memikirkan bagaimana berhukum dengan syari'at-Mu, akal kami yang liar justru sering memakainya untuk
 memikirkan hal-hal yang kotor dan licik.

Ya Allah, andaikata Engkau cabut itu semua?

Kalau Engkau cabut mata ini, bagaimana kami bisa melihat indahnya dunia?

Kalau Engkau cabut telinga ini, tentu bagi kami dunia ini akan sunyi tanpa nada dan irama?

Kalau engkau cabut lidah ini, tentu kami tak sanggup teriak minta tolong di kala ada marabahaya.
Kalau engkau cabut tangan kami, bagaimana akan menangkis serangan yang menghujam dada.

Kalau Engkau cabut kaki kami, kemana kami akan berlari ketika bencana melanda.

Dan kalau Engkau cabut akal kami, kami tak tahu apakah kami ini binatang atau manusia


Ya Allah..

Engkau beri kami usia hingga setua ini, tapi kami sering lalai hingga usia itu berlalu percuma.

Nafas demi nafas Engkau berikan, tapi tidak menjadi amal apapun jua.

Sehat lebih menyertai hari-hari kami, tapi tidak membuat kami ringan untuk berjihad.

Cahaya matahariMu menerangi kami setiap hari, tapi kami justru mencari kegelapan.

Bumi yang Kau sediakan untuk berpijak, sering kami injak-injak dengan penuh kesombongan

Langit yang Kau ciptakan sebagai atap, jarang mengingatkan kami kepada keagungan-Mu, padahal kami tidak pernah akan sanggup mengungkap rahasianya.

Ya Allah, kami sungguh ngeri.

bila detik-demi-detik yang telah Kau berikan, di akherat nanti menuntut mengapa dia kami sia-siakan.

bila setiap molekul oksigen-Mu yang pernah kami hirup dengan cuma-cuma, di hari kiamat nanti menuntut kami mengapa dia kami gunakan untuk maksiat kepada-Mu ya Allah.

bila kesehatan kami akan meringankan timbangan amal kami,
karena selama kami di dunia kami anggap ringan sehat pemberian-Mu ini ya Allah.

bila cahaya matahari-Mu membakar kami di padang mahsyar,
karena cahayanya yang ramah setiap pagi tidak menjadikan- kami mengingat kasih sayang-Mu.

bila bumi yang perkasa menghimpit kami di alam kubur,
karena selama di dunia kami dengan congkak berjalan di punggungnya

bila langit yang agung menimpa kami di hari kiamat,
karena kami lupa keangungan penciptanya.

Ya Allah…

Orang tua sangat menyayangi kami, tapi kami amper tak pernah membalas budi mereka.

Saudara dan kerabat menjaga kami  sejak kecil, tapi kami lama tidak bertutur sapa dengan mereka

Tetangga menjaga rumah kami kalau kami pergi, tapi kami jarang peduli dengan kesulitan mereka.

Teman sejawat selalu membantu, tapi kami hanya ingat padanya ketika kami butuh lagi pertolongan mereka.

Pasangan hidup mendampingi kami di kala suka dan duka, tapi kami sering berkhayal pada orang selain dia.

Anak-anak kami adalah harapan kami kelak,
tapi kami tidak memperkenalkan mereka pada Tuhan dan Rasul Teladan mereka.

Ya Allah, Bila engkau cabut nikmat ini,

Andaikata dulu ibu kami mengaborsi kami,
lewat siapa lagi kami harapkan curahan Kasihmu ya Allah?

Andaikata kerabat kami memusuhi kami,
lewat siapa lagi kami harapkan Kau menanggung kami ya Allah?

Andaikata tetangga kami tak lagi peduli pada kami,
lewat siapa lagi kami harapkan Kau jaga rumah dan keluarga kami ya Allah?

Andaikata teman sejawat kami mengucilkan kami,
lewat siapa lagi kami harapkan Kau beri kesempatan kami maju ya Allah?

Andaikata pasangan hidup kami selingkuh di belakang kami,
lewat siapa lagi kami harapkan cinta-Mu ya Allah?

Andaikata anak-anak kami semua durhaka melawan kami,
lewat siapa lagi kami harapkan kebahagiaan dalam hidup kami dariMu ya Allah?

Oh Ya Allah, Ampunilah kami ya Allah,
selama ini kami tak juga mensyukuri nikmat yang begitu besar ini ya Allah.

Ya Allah…

Engkau telah beri kami nikmat yang tak terhingga.

Engkau mengeluarkan kami dari rahim ibu kami tanpa membawa apa-apa.

Namun kini kadang-kadang ada makanan yang lezat terhidang di hadapan kami.

ada pakaian yang bagus menghiasi tubuh kami.

ada rumah tempat kami berlindung dari hujan dan terik matahari.

kami mudah menggunakan kendaraan ke tempat yang kami mau.

ada sejumlah uang di dompet atau rekening kami.

Dan ada pula sedikit banyak penghormatan yang disematkan orang pada kami.

Tapi mengapa kami masih suka mengeluh ya Allah, seakan nikmatMu tiada cukup.

Mengapa selama ini kami tak pandai mensyukurinya ya Allah?

Makanan lezat itu tidak membuat tubuh kami makin giat beribadah.

Pakaian bagus itu tidak membuat kami tergerak untuk menghias jalan-Mu.

Rumah megah itu tidak bercahaya oleh bacaan Qur'an dan Majlis orang-orang shaleh.

Kendaraan itu tidak membawa kami ke majlis ilmu maupun ladang-ladang jihad.

Uang yang banyak itu belum menjadi manfaat bagi kaum dhuafa atau anak-anak yatim.

Apalagi kehormatan ini, orang bertanya siapa yang telah mereguk manfaatnya.

Ya Allah…

Padahal mudah sekali bagiMu untuk meminta kembali apa yang Engkau titipkan.

Kau bisa kirim bakteri, sehingga makanan ini jadi berbahaya bagi manusia.

Kau bisa kirim jamur sehingga pakaian ini menjadi kusam dan busuk baunya.
Kau bisa kirim api, sehingga rumah ini terbakar sempurna.
Kau bisa kirim bencana, sehingga kendaraan itu rusak binasa.

Kau bisa kirim banyak masalah, sehingga uang yang banyak itu ludes seketika.

Kau bisa buka aib kami pada manusia, sehingga dari kehormatan itu justru malu yang ada.

Ya Allah, Engkau begitu menyayangi kami, sungguh kami manusia yang durhaka.

Ya Allah..

Kau curahkan ilmu kepada kami, tetapi ilmu itu belum banyak kami amalkan dan kami gunakan untuk membawa manusia agar selalu ingat kepada-Mu.

Kau mudahkan kami sholat, tetapi sholat itu belum membuat kami mampu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar; pula sholat kami jauh dari khusyu'.

Kau mudahkan kami puasa, tetapi puasa kami belum membuat kami mencintai orang-orang yang lapar dan dahaga bertahun-tahun lamanya.

Kau mudahkan kami shodaqoh, tetapi masih terselip perasaan riya' di dada.

Kau mudahkan kami berzikir, tetapi zikir kami sebatas di masjid dan rumah-rumah saja.

Sungguh malu kami menghadapMu ya Allah, apalagi memohon sesuatu kepadaMu.

Tapi bila tidak kepadaMu, kepada siapa lagi kami harus memohon?

Kabulkanlah permohonan kami yang hina berikut ini ya Allah..



Duhai Allah..

Jadikanlah mata ini penglihatanMu ya Allah, agar ia hanya melihat hal-hal yang halal dilihatnya.

Jadikanlah telinga ini pendengaranMu ya Allah, agar ia hanya mendengar hal-hal yang halal didengarnya.

Jadikanlah lidah ini gaung wahyuMu, agar manusia hanya merasakan kedamaian dan cinta dariMu.

Jadikanlah tangan ini perpanjangan Kasih SayangMu ya Allah,

Perjalankanlah kaki ini ke tempat-tempat yang Engkau ridha.

Dan selimuti akal ini selalu dalam cahaya kebijaksanaanMu – wahai Al-Hakim.



Duhai Allah

Jadikanlah agar ilmu yang Kau bagi pada kami, bermanfaat dan menyelamatkan kami di dunia dan di akherat

Jadikanlah agar harta yang Kau titipkan pada kami, selalu barokah bagi manusia, terutama kaum dhuafa

Jadikanlah agar jabatan yang Kau amanahkan pada kami, senantiasa kami gunakan untuk melayani ummat, melindungi yang lemah dan tertindas, dengan menerapkan syari’atMu

Jadikanlah keluarga kami keluarga yang penuh cinta, sakinah-mawaddah wa rahmah

Jadikanlah anak-anak kami anak-anak sholeh, yang doanya akan menerangi kubur-kubur kami

Jadikanlah makanan yang kami makan energi ibadah kami

Jadikanlah pakaian yang kami pakai, manifestasi ketaqwaaan kami



Duhai Allah

Berilah pada mereka yang kesempitan, hati dan dunia yang lapang

Berilah pada mereka yang sakit, kesembuhan dan sehat yang tidak melenakan

Berilah pada mereka yang miskin, kekayaan yang tidak melalaikan

Berilah pada mereka yang tertindas, kemerdekaan yang tidak memperdayakan

Berilah pada mereka yang sendirian, jodoh-jodoh yang kepadaMu akan saling mendekatkan



Duhai Allah

Berilah hidayah pada para pemimpin kami, agar mereka mengurus dan melayani kami dengan syariatMu yang penuh berkah, dan jadilahkan kami bersatu dalam menerapkan syariatMu ya Allah

Kami rindu dengan Rasulullah, dengan Khulafaur Rasyidin, dengan para Khalifah,
dengan keadilan, kemakmuran dan keberkahan yang diciptakan oleh penerapan SyariahMu,

dengan keberanian Thariq bin Ziyad ketika membakar kapalnya untuk menghapus keraguan pasukannya
dengan kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz sehingga rakyat tak ada lagi yang pantas menerima zakat.

dengan kejeniusan Harun ar-Rasyid ketika membangun pusat-pusat ilmu pengetahuan di Baghdad
dengan ketegasan al-Mu’tashim Billah yang menyerbu Romawi
untuk membela kehormatan seorang muslimah.

dengan kemuliaan jihad Salahuddin al-Ayubi ketika memperlakukan Richard Lion Heart yang terluka
dengan keyakinan Muhammad al-Fatih ketika masuk Konstantinopel untuk memenuhi nubuwah Rasul
dengan ketegasan Sultan Abdul Hamid ketika menolak tawaran-tawaran zionis di Palestina
Berilah kami nikmat sebagaimana Engkau telah beri nikmat kepada mereka ya Allah

Kami yakin bahwa RasulMu benar, Khilafah ala minhajin Nubuwwah akan datang lagi,
Berilah kesempatan kami untuk menyaksikan kebesaranMu itu ya Allah,
dan berilah kami kekuatan dan kesabaran untuk menyumbangkan harta dan jiwa kami dalam perjuangan itu.

Amien ya Rabbal Alamien
oleh : Fahmi Amhar,

Allah berfirman, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau selama berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku pasti akan memberikan ampunan kepadamu atas segala dosa-dosamu dan Aku tidak akan mempedulikan (kecil dan besarnya dosa). Wahai anak Adam, andaikata dosa-dosamu sampai ke Langit kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku, maka pasti Aku akan memberikan ampunan kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh Bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku, tapi engkau tidak menyekutukan-Ku sedikit pun, maka pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh Bumi." (HR.At-Tirmidzi)











Rabu, 25 Januari 2012

Sebutir Harapan

Harapan Cemerlang

المدينة كالكبر تنفي خبثها، وينصع طيبها

“Madinah ini seperti tungku (tukang besi) yang bisa membersihkan debu-debu yang kotor dan membuat cemerlang yang baik.”

Senin, 09 Januari 2012

RENUNGAN HIDUP


RENUNGAN HIDUP 

(Duh! betapa singkatnya kita hidup di dunia ini)


Saat tulisan ini dibuat, dua hari lagi, tahun Hijriah segera berganti, dari tahun 1430 H ke 1431 H. Lima belas hari lagi, tahun Masehi berganti, dari tahun 2009 ke tahun 2010. Beberapa hari lagi, kawan saya si Fulan genap berusia 38 tahun. Itu berarti jatah hidupnya telah berkurang lagi setahun dibandingkan tahun lalu. Ia lalu mengajak saya untuk merenung. Ia kemudian berandai-andai sebagai berikut:

Andai jatah hidup kita di dunia ini 60 tahun. Dengan usia kiita saat ini 38 tahun, berarti sisa hidup kita tinggal 22 tahun lagi. Andai jatah hidup kita di dunia ini 50 tahun, berarti sisa hidup kita tinggal 12 tahun lagi. Andai jatah hidup kita di dunia ini 40 tahun, berarti sisa hidup kita tinggal 2 tahun lagi. Bagaimana jika jatah umur kita sudah habis dan besok atau lusa Malaikat Ijrail mencabut nyawa kita? Duh! Betapa singkatnya hidup 38 tahun. Jika demikian, betapa tidak akan terasa menjalani sisa hidup yang lebih pendek lagi; 22 tahun, 12 tahun, 2 tahun, atau malah Cuma dua hari lagi..


Mendengar ‘ocehan’-nya, saya mulai tersentak. Diam-diam, saya pun mulai merenungkan kata-katanya. Ia lalu melanjutkan:

Andai selama 38 tahun itu kita tidur selama delapan jam perhari, berarti sepertiga hidup kita hanya dipakai untuk tidur, yaknis sekitar 12,7 tahun. Andai sisa waktu kita perhari yang tinggal 16 jam itu kita pakai 4 jam untuk nonton tivi, ngobrol ngalor-ngidul, santai, dan melakukan hal-hal yang tak berguna. Berarti sisa waktu kita perhari tinggal 12 jam. Sebab, yang 12 jamnya dipakai untuk tidur dan melakukan hal-hal tadi. Dua belas jam berarti setengah hari, jika dikalikan 38 tahun, berarti 19 tahun (separuh umur kita) hanya kita pakai untuk tidur dan melakukan hal-hal yang tak berguna.

Saya makin termenung. Diam-diam saya makin hanyut dalam kontemplasinya. Ia pun bertutur lagi:

Dalam usia 38 tahun itu, kita misalkan, baru mulai bekerja efektif pada usia 25 tahun. Berarti kita bekerja 8 jam perhari, berarti kita telah menghabiskan waktu kita untuk bekerja 1/3x13 tahun=3,9 tahun. Artinya dari 38 tahun itu kita menghabiskan total kira-kira 2,9 tahun hanya untuk tidur dan bekerja mencari dunia; termasuk nonton tivi, ngobrol ngalor-ngidul, santai , dan mungkin melakukan hal-hal tak berguna.

Mari kita bandingkan dengan aktivitas ibadah kita, juga dakwah kita. Andai shalat kita yang lima waktu, ditambah shalat-shalat sunnah, memakan waktu total hanya 1,5 jam perhari, berarti kita hanya menghabiskan 547 jam pertahun untuk shalat. Itu berarti hanya sekitar 23 hari pertahun. Andai kita baru benar-benar menunaikan shalat umur 15 tahun (saat mulai balig) , berarti kita baru menghabiskan sekitar 414 hari (=23x18[38-15]) untuk shalat. Artinya, selama 38 tahun, kita menunaikan shalat hanya 1 tahun 49 hari!

Bagaimana dengan aktivitas dakwah kita? Andai dakwah kita baru kita mulai pada usia 20 tahun dan hanya memaan waktu rata-rata 2 jam perhari, berarti kita menghabiskan waktu kira-kira 547,5 hari untuk berdakwah. Artinya, kita hanya menghabiskan waktu 1, 5 tahun saja untuk berdakwah.

Aku semakin larut dalam kata-katanya. Emosiku tak tertahan. Namun, si Fulan kawanku terus ‘berceloteh’. Ia lalu mengajakakku untuk merenungkan kembali firman Allah SWT (yang artinya) : Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku (QS adz-Dzariyat [51]:56). Ia kemudian bertutur lagi:

Saat merenungkan kembali ayat itu, hatiku menangis. Betapa tidak. Allah menciptakan hidupku dan member usia sekian puluh tahun sesungguhnya agar aku gunakan untuk beribadah kepada-Nya. Namun kenyataannya, hidupku habis untuk tidur dan bekerja mencari dunia, juga melakukan hal yang sia-sia. Sebaliknya, hanya sebagian kecil usiaku aku habiskan untuk ibadah dan dakwah.

Saya menyela. “Bekerja kan termasuk ibadah juga.”
Namun, segera ia mengajukan pertanyaan retoris kepada saya:

Baik. Sekarang bagaimana jika semua itu ternyata tidak bernilai di ssi Allah? Bagaimana jika amal-amal kita ternyata tidak diterima oleh Allah? Bagaimana jika shalat kita yang jarang sekali khusyuk itu ditolak oleh Allah? Bagaiman pula jika dakwah kita pun-yang mungkin kadang bercampur dengan riya dan tak jarang minimalis-tak dipandang oleh Allah?
Betul. Kita tidak boleh pesimis. Kita harus penuh harap kepada Allah. Semoga semua amal-amal kita Dia terima. Namun, kita pun sepantasnya khawatir jika semua amal yang selama ini kita anggap amal shalih dan bernilai pahala, ternyata sebagian besarnya tidak bernilai apa-apa di sisi Allah. Na’udzubillah. Kita memang tidak berharap seperti itu.
Di sisi lain, setiap hari, puluhan kali kita bermaksiat. Kalikan saja, misalkan, dengan 23 tahun usia kita (38 tahun dikurangi masa kanak-kanak prabalig).

Tak terasa, saya pun mencucurkan air mata, tak kuasa menahan tangis, seraya bergumam, “Ya Allah, setiap detik karunia dan nikmat-Mu turun kepadaku. Namun, setiap detik pula dosa dan kesalahanku naik kepada-Mu.”

Saya lantas berdoa dengan do’a Nabi Adam as. :

Ya Allah, Tuhan kami. Selama ini kami hanya menzalimi dan menganiaya diri kami sendiri. Jika saja Engkau tidak mengampuni dosa-dosa kami, tentu kami termasuk orang-orang yang merugi.

Saya pun berdo’a dengan do’a Imam al-Ghazali:

Tuhanku, tidaklah pantas aku menjadi penghuni Firdaus-Mu. Namun, tak mungkin pula aku kuat menahan panasnya Neraka-Mu. Karena itu, terimalah tobatku dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa dan Engkau Mahabesar. Amin.   

tulisan insipratif oleh kakak kita : Kang Arief B. Iskandar
Diambil dari majalah bulanan favorit,
Al-wa’ie No. 113 Tahun X, 1-31 Januari 2010


Kamis, 19 Agustus 2010

Kemana engkau akan melangkah?

Mengapa dan untuk apa kita ada?

Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Pernahkah kita merenungkan mengapa kita ada? Mengapa kita hidup di dunia ini?
Apakah kerena keinginan dan rencana-rencana kita sehingga kita ada? Tidak, kita tidak mungkin dapat menginginkan dan merencanakan karena kita belum ada.
Lalu, apakah karena keinginan dan rencana kedua orang tua kita? Bukan juga, berapa banyak pasangan suami istri yang menginginkan dikarunia anak tetapi belum juga diberi. Adanya kita bukan atas kehendak kita, bukan juga karena kehendak orang tua kita, lantas atas kehendak siapa?

Allah ta’ala menjelaskan dalam Al-Quran yang mulia

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاء إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّى وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya” (Al-Hajj: 5)

Ya, adanya kita, adanya manusia, adanya jin, adanya alam semesta ini karena kehendak dan rencana Allah. Lantas, adanya kita tentu bukan karena Allah kurang kerjaan, iseng, atau hanya main-main saja, Allah menegaskan hal ini sebagaimana firman-Nya

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main” (Al-Anbiya: 16)

Allah menerangkan bahwa Dia ingin menguji para hamba-Nya, siapa yang taat dan siapa yang durhaka, jadi kehidupan di dunia kita adalah untuk ujian! Sadarkah kita? Mengapa kalau UAN, kalau SPMB, begitu disiapkan dengan betul, sementara ujian yang paling besar terkadang kita lupa, atau pura-pura lupa, atau yang lebih parah lagi kelau kita tidak tau bahwa hidup kita untuk diuji! Mereka hidup seperti binatang, mereka hanya mengenyangkan perut dan apa yang di bawahnya, mengumpulkan harta, berbangga-bangga dengan dunia, lalu mati! Allah menjelaskan

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

"[Dialah Allah] Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al-Mulk:2)

Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Betul bahwa kehidupan adalah ujian kita, Allah akan menguji kebaikan amalan kita. Mengapa Allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya? tetapi Allah mengatakan yang paling baik amalnya. Dijelaskan oleh Fudhail bin Iyadh bahwa yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling sesuai dengan contoh karena amalan tidak akan diterima kecuali ikhlas karena Allah dan sesuai dengan contoh Nabi shalallahu’alaihi wa sallam. Kalau begitu, penting sekali seseorang harus ngaji, harus belajar ilmu syar’i karena tidak mungkin kita mengetahui materi ujian, mengetahui apa-apa yang dilarang dan apa-apa yang diperintahkan kecuali dengan menuntut ilmu syar’i. Bagaimana kalau seseorang ikut ujian tetapi tidak mau tahu materi ujiannya?

Surga dan Neraka, yakinkah kita?
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Mengapa beberapa waktu yang lalu ketika diskusi tentang poligami, kita begitu yakin dan bersemangat membela ayat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi tentang syariat poligami; mengapa ketika diskusi tentang Ahmadiyah, kita begitu lantang mengatakan bahwa dalam surat Al-Ahzab ayat 40: “Khootaman Nabiyyin” maknanya adalah penutup para Nabi, tetapi,…mengapa kita jarang mengungkit-ungkit ayat dan hadits tentang surga dan neraka? Apakah kita lupa atau pura-pura lupa sehingga topik ini jarang kita pelajari?

Seringkali kita lupa diri, tidak tahu diri, sehingga kita lupa dengan tujuan hidup ini, yakni ujian! Untuk mengingatkan kembali untuk apa kita di dunia ini, saya bawakan hadits-hadits tentang surga dan neraka

Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda
“Surga dan neraka telah diperlihatkan kepadaku, maka aku belum pernah memandang hari yang lebih banyak mengandung kebaikan sekaligus keburukan daripada hari ini. Kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” Anas bin Malik melanjutkan, “Tidak ada hari setelah itu yang lebih berat bagi para Sahabat dibandingkan dengan hari tersebut. Pada hari itu, mereka semua menutup kepalanya sambil terisak-isak karena tangisan” (HR Bukhari dan Muslim)

Bagaimana saudaraku? Apakah hatimu tergetar mendengar hadits ini? Kalau seandainya tidak, maka engkau adalah manusia yang sangat perlu untuk dikasihani, bagaimana tidak? Para sahabat yang jiwa, raga dan hartanya telah mereka curahkan untuk membela dan memperjuangkan Islam, dengan ketakwaannya mereka adalah manusia yang sangat takut kalau-kalau akhir kehidupan mereka di neraka. Sementara kita….? Apa yang telah kita persiapkan? Apa yang telah kita berikan untuk Islam dan kaum muslimin? Mereka dihina, dimusuhi, dilempari, diusir dari kampung halaman, disiksa seperti Bilal, lantas…pernahkah kita mengalami hal seperti itu?

Dalam riwayat lain disebutkan:
“Demi Allah, kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit bersenang-senang dan banyak menangis, dan kalian juga tidak akan bersenang-senang terus di atas ranjang dengan istri kalian, lalu kalian akan keluar menuju ke pegunungan (tempat menyepi) untuk beribadah kepada Allah” Abu Dzar berkata, “Sampai-sampai aku menginginkan kalau diriku hanyalah pohon yang tumbang” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad yang hasan)

Begitulah, begitu mengerikannya ketika kita dihisab di akhirat, hanya ada 2 pilihan, surga atau neraka, sampai-sampai Abu Dzar, seorang sahabat Nabi yang keimanan dan amalnya tidak kita ragukan, membela Nabi, membela Islam…, beliau kalau diminta memilih daripada dihisab, beliau memilih menjadi sebatang pohon karena pohon tidak ada beban yang harus dipertanggungjawabkan. Bagaimana dengan kita? Apa yang sudah kita siapkan untuk hari perhitungan nanti? Apakah kita sudah menyiapkan amalan-amalan kebaikan? Apakah kita sudah berprinsip bahwa “waktu adalah ibadah”, atau malah selama ini kita hanya membuang-buang waktu dengan sesuatu yang kurang bermanfaat atau bahkan diisi dengan dosa dan kemaksiatan?!

Allah menjanjikan bagi hambanya yang taat akan diberi balasan yang tiada taranya di Surga kelak. Surga merupakan tempat yang tidak ada di dalamnya kecuali kenikmatan, dan kenikmatan yang paling nikmat adalah melihat wajah Allah, dzat yang selama ini kita bergantung kepadanya, dzat yang ketika kita sakit kita memohon kepada-Nya agar disembuhkan, dzat yang ketika kita kekurangan kita memohon kepadanya, dzat yang apabila kita mendapat nikmat kita bersyukur kepada-Nya, dzat yang selalu kita mohon kebaikan-kebaikan kepada-Nya.

Kita adalah perantau …
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Bayangkan jika kita dalam sebuah perjalanan untuk menuju suatu pulau-kampung halaman kita. Kemudian dalam perjalanan melewati sebuah pulau kecil, nahkoda memerintahkan agar para penumpang singgah 3 hari untuk mengumpulkan bekal berupa makanan dan minuman. Kemudian kita masuk hutan untuk mengumpulkan bekal. Setiap penumpang bertanggung jawab masing-masing dan tidak dapat saling berbagi bekal, nafsi..nafsi. Semuanya memikirkan keselamatan masing-masing karena begitu berat perjalanan bahkan seorang bapak tidak mungkin mau berbagi bekal dengan istri dan anak-anaknya, seorang ibu juga tidak akan mau berbagi bekal kepada anaknya, masing-masing sangat membutuhkan bekal tersebut untuk keselamatannya.

Apa yang akan engkau lakukan dalam 3 hari tersebut? Tentu engkau akan memanfaatkan waktu yang hanya 3 hari untuk mencari makanan, mencari buah-buahan dan air segar untuk bekal perjalanan karena perjalanan masih jauh. Tetapi tidak semua seperti itu saudaraku, banyak diantara mereka malah bersenang-senang di pulau kecil tersebut, membuat rumah bahkan ditingkat, bersenang-senang sampai lupa bahwa mereka akan kembali melanjutkan perjalanan sehingga harus mengumpulkan bekal yang cukup untuk sampai ke pulau kampung asal kita. Ketika nahkoda mengumumkan agar semua penumpang naik ke kapal karena perjalanan akan dilanjutkan, apa yang terjadi? Sebagian penumpang mengumpulkan bekal yang cukup, sebagian hanya sedikit saja, dan sebagian lagi lupa untuk pulang ke kampung halaman-mereka malah bersenang-senang di pulau tersebut, membuat rumah bertingkat, membuat sawah yang luas, beternak binatang dan lain sebagainya. Orang yang mengumpulkan bekal cukup maka akan sampai ke kampung asal dengan selamat, orang yang mengumpulkan bekal sedikit akan sakit-sakitan di perjalanan bahkan bisa jadi meinggal dunia, adapun orang yang lupa akan perjalanan akan tinggal dipulau kecil tersebut dan tidak akan pernah kembali ke kampung asalnya. Kemudian tersiar kabar bahwa Pulau kecil tersebut ternyata pada hari ke 7 sudah hilang tersapu tsunami!

Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Hakikatnya kita semua adalah perantau, kita hanya singgah sebentar di dunia ini. Ingatlah saudaraku, kampung halaman kita adalah di Surga, kakek moyang kita asalnya tinggal di surga. Bukankah Adam ‘alaihissalam asalnya tinggal di surga? Kalau kita tidak dapat pulang ke surga, berarti kita telah terlena seperti penumpang yang bersenang-senang dipulau kecil tersebut.

Saudaraku, saya sampaikan wasiat yang wasiat ini juga merupakan wasiat Nabi shalallahu’alaihi wa sallam dan Sahabatnya yang mulia, Ibnu Umar radhiallahu’anhuma

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمنْكبيَّ فَقَالَ: (كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ) وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ. وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لمَوْتِكَ

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata:
”Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam pernah memegang pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau pegembara’. Ibnu Umar radhiallahu’anhuma berkata, “Apabila kamu berada pada waktu sore janganlah kamu menunggu pagi hari, dan jika kamu berada pada waktu pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang kematianmu’ (HR. Bukhari, Hadits Arbain An-Nawawiyah No.40)

Demikianlah wasiat Nabi shalallahu’alaihi wa sallam dan juga wasiat sahabat Ibnu Umar radhiallahu’anhuma.

Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Agar engkau tidak tersesat, agar engkau dapat pulang ke kampung halaman-yakni ke Surga, maka engkau harus mempelajari agama ini dengan serius. Untuk urusan kuliah saja engkau dapat serius, berapa banyak waktu, fikiran, tenaga dan dana tercurahkan untuk kuliah? Sekarang, berapa banyak waktu, fikiran, tenaga dan dana untuk menuntut ilmu syar’i yang telah engkau curahkan?

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, (HR. Al-Hakim)

Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Kita sering berdoa“Rabbana atina fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah” Ya Rabb, berikanlah kami kebaikan di dunia dan berikanlah kami kebaikan di akhirat” Kebaikan di dunia adalah iman dan amal shalih dan kebaikan di akhirat tidak ada yang lain kecuali Surga. Tidaklah dikatakan iman kecuali dibangun diatas ilmu.

Kemanakah engkau akan pergi melangkah?
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Jalan petunjuk telah jelas, dan jalan kesesatan juga jelas. Saya yakin bahwa engkau akan mengikuti jalan petunjuk, mempelajari ilmu syar’i dan mengamalkannya. Engkau tidak akan mau terlena seperti penumpang yang bersenang-senang di pulau kecil itu bukan? Jangan sampai engkau memohon ketika ajal menjemput, pada saat meregang nyawa kemudian engkau memohon kepada Allah

ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

Kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan (Al-Mu’minun :100)

Dan saat itu, keinginanmu tidak pernah akan dikabulkan