expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

beres

Tampilkan postingan dengan label Longlife Motivation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Longlife Motivation. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Agustus 2013

Menggores Khatulistiwa

 
photo: google.com

#1st -daily note:

Dan waktu yang telah ditulis pun akhirnya tiba, mendebarkan, mengoyak dan menghujam ke dalam hati, itulah kira-kira rasanya ketika kita harus meninggalkan tanah kelahiran yang dihuni semenjak lahir hingga dewasa  menuju tempat asing yang baru, tempat yang benar-benar tak dapat terduga! 


Tepat saat ini, Jum'at, 23 Agustus 2013 pukul 00.30 wib, setelah letih beraktivitas di Jatinangor, setelah menyampaikan target hidup dan meminta do'a kepada rekan seperjuangan, akhirnya transit sejenak di Laboratorium eSPe Bandung. Ternyata, ruangannya masih sama, tidak banyak yang berubah. Lorong-lorong panjang di sepanjang koridor depan masih gelap dan remang, mesin-mesin bubut dan peralatan kimia hampir semuanya terlapis debu, semuanya tampak tidak lebih rapi dibandingkan satu tahun yang lalu, mungkin wajar, karena tahun lalu, disana ada seorang laki-laki bermuka tirus yang setiap hari melakukan eksperimen untuk menyelesaikan penelitian tingkat akhir dan begitu menyayangi lab tua peninggalan jaman Belanda itu. Baginya, Lab eSPe adalah rumah ketiga, setelah Masjid IbnuSina di Jatinangor. 

Di tempat ini ia berproses, di tempat ini pula ia mulai membentuk karakter seorang peneliti dan seorang pemimpi besar. Meski pun ternyata, mimpi besar yang ia bangun saat ini harus ia simpan hingga beberapa tahun ke depan. Istana mimpinya belum dapat ia bangun dengan sempurna.       

nah, Berbicara tentang pilihan menunda mimpi, mengingatkanku pada seorang kawan lama yang beranggapan telah mengubur dalam-dalam mimpi yang ia banggakan hanya karena terpaksa mengambil keputusan lain dibandingkan mewujudkan mimpinya. 
"Seorang pemimpin besar memiliki mimpi besar, karenanya ia diuji dan dihadapkan dengan realitas2 kehidupan yg akan mengukur seberapa besar mimpinya, seberapa kuat komitmennya" ucapku kepadanya..

Pesan yang sederhana, namun begitu sarat makna. Sebuah pesan yang membangun optimisme dan keyakinan bahwa kita pasti bisa melewati proses demi proses yang terbentang di depan kita, bahwa semakin besar dan berkualitas impian itu, maka semakin berat dan banyak ujian yang akan dihadapi, itulah yang namanya "prinsip kesebandingan".   

Lelaki romantis adalah lelaki yang memperjuangkan prinsip & visi hidup hingga "titik darah penghabisan terakhir" meski realitas-realitas kehidupan terus menerus menguji dan menertawakannya.

Selama ada kehidupan, pasti selalu ada kisah yang dapat diceritakan. Ada sejarah yang dapat ditorehkan. Ada impian yang menunggu untuk diwujudkan. 

bismillahirrahmanirrahim, bersiap menuju Jakarta untuk menjalani sebuah ekspedisi, menggores Khatulistiwa.
    

Senin, 25 Maret 2013

Point of No Return



Agustus 2005. Pagi itu, atap langit begitu memanjakan mata setiap yang memandangnya, langit pagi yang cerah, bertaburkan pendaran bintang laksana sorotan mata bidadari yang mengintip bumi, menatap penuh kagum para hamba Allah  yang terlipat dalam sujud, terlarut dalam khusyuk, dan  tertunduk di hadapan Rabbnya. Begitu indah lukisan alam, dengan mahkota surya yang kokoh di atas singgasana langit menggores pena malam yang kini mulai pudar. Membiaskan sunyi senyap menjadi rentetan warna kedamaian pagi. Perlahan tapi pasti, peluru cahaya menerobos pohon beringin yang berjejal diantara jalanan aspal yang kering dan retak, Akarnya dalam menghujam laksana keimanan para syuhada, rantingnya menusuk setiap lembar angin yang melaluinya. Dedaunan pun mulai mengalun syahdu tanda syukur dan tunduk akan kekuasaanNya.


Di antara barisan burung yang berkicau, ku temukan kayuh yang berdecit karena gesekan gear dan rantai yang kering karena kurang oli, itulah suara gowes sepeda balap hitam kebanggaanku yang  meluncur kencang delapan kilometer jauhnya menuju sekolah favorit kampung halaman. Sudah menjadi irama hidupku, di setiap pagi, selepas membantu ibu menyiapkan nasi kuning di halaman rumah dan menyantap sarapan pagi bersama bapak dan kedua saudara perempuanku aku langsung bersemangat menuntun sepeda balap hadiah dari Kang Herfin, abang laki-laki ku setahun yang lalu. Saat itu aku baru duduk di bangku kelas satu SMA, masih menjadi bocah ingusan yang penuh semangat dan cita-cita. Aku adalah bocah pemimpi.



Sabtu, 24 November 2012

Pemuda Sejati



****
Dengan berat hati harus diakui, kemerosotan masyarakat saat ini paling kentara ditandai dengan kemerosotan mentalitas pemuda-pemudinya. Kita bisa lihat pelaku seks bebas adalah pemuda, pemadat adalah pemuda, pelaku tawuran adalah pemuda, suporter-suporter anarkis adalah pemuda, dan kebanyakan gelandangan adalah pemuda. Simpelnya, hancurnya masyarakat kita digawangi oleh kehancuran para pemudanya. Kebanyakan Pemuda saat ini sudah kehilangan segala-galanya; baik Identitas, Kapasitas, Integritas, maupun Kapabilitas. Alih-alih menjadi Bagian dari solusi malah ternyata menjadi bagian dari masalah!.

Kisah berikut semoga bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Kisah ini akan memberi gambaran kepada kita Bagaimana sesunggunya karakteristik ideal dari seorang pemuda. Dari cerita berikut setidaknya kita akan mendapat ibroh tentang Ketaatan kepada Allah Swt, rasa Tanggung Jawab, Kepedulian, serta Persaudaraan. Berikut penggalan kisahnya;
***

Jumat, 23 November 2012

Kontemplasi Keimanan



Dalam satu hentakan buas, peluru itu menumbuk seikat kepala yang dingin dan penuh dengan ide brilian. konservasi momentum yang terpenuhi menjadikan energi peluru itu terpecah ke dalam dua bagian, satu menjadi energi gerak ideologi dan satu menjadi energi potensial akan kebangkitan sebuah pemikiran.

ini langkah perjuangan kami, kontemplasi abadi dalam puing-puing cahaya yang dulu pernah merona,
ini tangga ekskalasi kami, yang mengantarkan tubuh dan jiwa kami ke dalam sentuhan lembut langit di awan pahala,

satu persatu dedaunan yang hinggap dalam kolam, menyibak pikiran keruh yang menghalangi jernih suara iman, meluap tinggi, menciptakan buih-buih melodi yang mengiringi derap langkah pejuang yang lelah di satu jalan yang berarah.

ingatkan mereka yang kini asyik berambivalensi dengan citra diri,
yang palsu dan menipu,

ingatkan, namun jika tetap melakukan,
maka biarkan, lalu diamkan
karena suatu hari nanti, boroknya akan menganga,
membagi bau anyir dan bau pesing kepada umat tercinta,

mari kita lihat kelak, siapa yang akan rontok gigi taring idealismenya,
siapa yang akan kehilangan mahkota militansi dakwah yang luhungnya,
sejenak terkapar, sehati kebenaran itu akan terungkap dan menetap dalam sanubari.

intifadha yang terkuantisasi dalam satu paket gelombang perjuangan,
terhanyut dalam langkah kontinyu meraup batu kerikil di atas senjata dan tank baja,

ini darah kami, ini kehormatan iman kami,
merahnya api dalam sekam pencetak baja prajurit tak semerah tangisan dan airmata kami, bersimbah penuh peluh dan duri yang telah terlalui,

suatu hari nanti, saat institusi itu tegak kembali,
suatu hari nanti, ketika akidah berdaulat dalam sehelai panji kemuliaan,
engkau akan tahu dan dunia akan mencatat!
atas kembalinya sejarah yang berulang,
sebagai balasan atas hakikat perjuangan,

untuk melangkah meninggalkan nestapa dan melesat menuju cahaya keabadian,
menuju rona abadi yang berpijar menerangi sudut-sudut dunia yang gelap.

selamat berjuang sahabatku,
semoga Allah memberkatimu..

Senin, 11 Juni 2012

The Rise of Spirit



Kejahatan kapitalisme yang kita saksikan saat ini semakin bengis dan apatis. Kebiadabannnya telah meluluh-lantakan sendi-sendi kehidupan umat tercinta. Tiada lagi senyuman, tiada lagi kehangatan, tiada lagi kesejahteraan. Kini yang ada hanyalah jeritan, tangisan dan penderitaan. Namun, janganlah engau bersedih wahai umat tercinta, karena saat ini telah terbit purnama dakwah yang kelak akan menaungi seluruh jagad raya dengan cahaya kemenangan. Mereka adalah para remaja yang terlahir untuk menjadi generasi pembebas dunia dari kotak pandora kapitalisme, para remaja yang terlahir untuk menjadi generasi pelukis lazuardi peradaban mulia.

The Rise of SPIRIT!
momen dahsyat dan memikat bersama Agus Nasrul Suryana "THE GREAT MUSLIM INSPIRATOR"

waktu : AHAD, 17 Juni 2012
tempat : Aula Pusdiklat Gerkopin, Jatinangor-Sumedang.

Tiket : Rp 5.000,- (untuk 150 orang pendaftar pertama)
Rp 10.000,- (untuk 150 orang pendaftar selanjutnya)

untuk daftar ketik:
NAMA(spasi)SEKOLAH
kirim ke
0857 200 60 859 (fatih)
0818 09160 441 (arya)

salam spirit!!
Lembaga Dakwah Sekolah Hizbut Tahrir Indonesia Sumedang

Rabu, 22 Februari 2012

Kisah Bijak Para Sufi: Orang-Orang Buta dan Gajah

  


Dalam kitab Ad-Daulah al-Islamiyah karangan as-Syaikh Abu Ibrahim Taqiyuddin Muhammad bin Ibrahim bin Mushthofa bin Isma il bin Yusuf bin Hasan bin Muhammad bin Nashiruddin an-Nabhani atau yang akrab dipanggil dengan nama as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, kita mendapati penjelasan yang begitu terang, jelas dan menakjubkan tentang metode perjuangan yang ditempuh Rasulullah saw dalam meraih kepemimpinan ditinjau dari sisi politis, sisi yang terkadang kerap tidak disoroti oleh kebanyakan umat islam saat ini.



Dalam muqodimah kitab tersebut, seorang ulama polymath (seorang mujtahid mutlak, expertis dalam bidang ushl fiqh, pemikir politik Islam, peletak dasar ilmu ekonomi Islam, penyusun konstitusi Islam) yang telah hafizh Qur'an sebelum usianya 13 tahun ini pun mewanti-wanti kita untuk sabar membimbing dan mengarahkan umat dalam memperkenalkan Islam, karena disadari atau tidak, umat islam sendiri telah banyak kehilangan memori tentang Islam dan memiliki persepsi/gambaran yang tidak utuh terhadap islam dan bentuk pemerintahan islam itu sendiri.



Umat saat ini hanya dapat menyaksikan sisa-sisa islam dengan fosil-fosil Pemerintahan Islam yang sudah dimuseumkan dengan rapi. Betapa sulit sekali bagi umat untuk memperoleh gambaran tentang Islam dan Pemerintahan Islam yang mendekati fakta sebenarnya, hal ini merupakan kondisi yang sangat wajar akibat persepsi umat telah dibangun secara tersistematis oleh standar sistem demokrasi terhadap Islam yang penuh dengan pengebirian dan pengkerdilan terhadap wujud Islam itu sendiri, apalagi diperparah dengan melemahnya kekuatan berpikir umat yang disertai dengan serangan bertubi-tubi tsaqofah Barat yang rusak dan merusakan.



Sahabat seperdjoeangan, mari kita bersama-sama menyimak sebuah kisah yang sejak berabad-abad lalu menjadi nasihat para Sufi kepada murid-murdinya, sebuah kisah yang menggambarkan kepada kita betapa pentingnya umat memahami Islam secara menyeluruh dan utuh, enggak setengah-setengah. selamat menikmati..



*** ***

Kisah Bijak Para Sufi: Orang-Orang Buta dan Gajah




Alkisah, di seberang Negeri Ghor ada sebuah kota. Semua penduduknya buta. Seorang raja beserta rombongannya lewat dekat kota itu; ia membawa pasukan dan berkemah di gurun. Raja itu mempunyai seekor gajah perkasa, yang digunakannya untuk berperang dan membuat rakyat kagum.



Penduduk kota itu sangat antusias ingin melihat gajah tersebut, dan beberapa dari mereka yang buta pun berlari untuk mendekatinya.



Karena sama sekali tak tahu rupa atau bentuk gajah, mereka hanya bisa meraba-raba, mencari kejelasan dengan menyentuh bagian tubuhnya. Masing-masing hanya menyentuh satu bagian, tetapi berpikir telah mengetahui sesuatu.



Orang buta pertama mendekati gajah. Ia tersandung dan ketika terjatuh, ia menabrak sisi tubuh gajah yang kokoh. “Oh, sekarang aku tahu!” katanya, “Gajah itu seperti tembok.”



Orang buta kedua meraba gading gajah. “Mari kita lihat...,” katanya, “Gajah ini bulat, licin dan tajam. Jelaslah gajah lebih mirip sebuah tombak.”



Yang ketiga kebetulan memegang belalai gajah yang bergerak menggeliat-geliat. “Kalian salah!” jeritnya, “Gajah ini seperti ular!”



Berikutnya, orang buta keempat melompat penuh semangat dan jatuh menimpa lutut gajah. “Ah!” katanya, “Bagaimana kalian ini, sudah jelas binatang ini mirip sebatang pohon.”



Yang kelima memegang telinga gajah. “Kipas!” teriaknya, “Bahkan orang yang paling buta pun tahu, gajah itu mirip kipas.”



Orang buta keenam, segera mendekati sang gajah, ia menggapai dan memegang ekor gajah yang berayun-ayun. “Aku tahu, kalian semua salah.” Katanya. Gajah mirip dengan tali.”



Sekembalinya ke kota, orang-orang yang hendak tahu segera mengerubungi mereka. Orang-orang itu tidak sadar bahwa mereka mencari tahu tentang kebenaran kepada sumber yang sebenamya telah tersesat.

Mereka bertanya tentang bentuk dan wujud gajah, dan menyimak semua yang disampaikan.



Orang yang menubruk bagian tubuh gajah yang kokoh ditanya tentang bentuk gajah. Ia menjawab, "Gajah itu besar, terasa kasar, luas, dan kokoh seperti tembok."



Orang yang tangannya meraba gading gajah berkata, "Engkau keliru, aku tahu yang lebih benar tentang bentuk gajah. Gajah itu mirip tombak bulat, licin dan tajam."



Orang yang meraba belalai gajah berkata, "Kalian berdua keliru, aku tahu yang lebih benar tentang bentuk gajah.

Gajah itu mirip ular menggeliat, mengerikan dan suka merusak."



Selanjutnya, orang yang memegang kaki gajah berkata, "Gajah itu kuat dan tegak, seperti batang."



Orang yang memegang telinga gajah berkata, "Gajah seperti kipas, lebar dan kasar."



Terakhir, orang yang memegang ekor gajah berkata, "Sudah kukatakan, kalian semua salah! Gajah itu berayun-ayun seperti tali!"



Demikianlah keenam orang buta itu bertengkar. Masing-masing tidak mau mengalah. Semua teguh dengan pendapatnya sendiri, yang sebagian benar, namun semuanya salah. Mereka semua hanya meraba bagian tubuh gajah yang berlainan, mereka tidak melihat keseluruhan hewan gajah itu sendiri, masyarakat pun ada yang percaya kepada yang satu dan tidak percaya kepada yang lain, ada juga yang tidak mempercayai kesemuanya dan ada sedikit yang bisa menyimpulkan keseluruhan pendapat para orang buta.



**** ****



Sahabatku,

Umat saat ini telah kehilangan gambaran yg utuh tentang Islam, mereka mengenali Islam dan memang diperkenalkan kepada Islam secara parsial saja oleh para pemandunya. Di satu sisi, ada yang memperkenalkan Islam hanya sebatas akhlak sehingga umat beranggapan bahwa Islam ya sebatas akhlak dan perbaikannya, di sisi yang lain ada yang memperkenalkan islam sebatas ibadah mahdlah sehingga umat beranggapan bahwa islam jauh dari pengurusan umat/politik dan merasa jijik ketika beraktivitas dengannya. Padahal, setiap hari, setiap jam bahkan setiap detik umat bersentuhan dengan aktivitas politik dan menjadi korban akibat kesalahan basis dan derivat politik (baca: basis ideologi kapitalisme, derivat: demokrasi, sekularisme, liberalisme).



Tentu kita tidak mengatakan bahwa perbaikan akhlak, peningkatan kualitas-kuantitas ibadah adalah hal yang keliru, wah wah, jelas bukan itu yang dimaksud, karena keduanya tentu akan berganjar pahala dari Allah swt. Jangan salah paham dulu ya. Fokus pembahasan kita disini adalah kaitan atau hubungan antara persepsi & aktivitas parsial yang dilakukan umat dengan dampaknya kepada kebangkitan yang sejati. Pertanyaannya cukup sederhana, apakah dengan perbaikan individu dan peningkatan frekuensi serta amplitudo ibadah secara otomatis akan menghantarkan kita kepada kebangkitan?



Apakah keberhasilan memperbaiki individu (akhlak-ibadah) akan serta merta menjadikan umat sebagai masyarakat yang islami? sementara aturan yang diterapkan di negeri-negeri mereka adalah aturan kufur? sementara keamanan di dalam negeri mereka didominasi oleh orang kufur, fasik dan gemar melakukan maksiyat?



Jelas tidak, seribu kali tidak! kenapa?

karena unsur pembentuk individu sudah berbeda dengan unsur pembentuk masyarakat. Pilar-pilar individu adalah akidah, ibadah, akhlak dan muamalah. Baik-buruknya individu sangat bergantung pada baik-buruknya unsur atau pilar pembentuknya. Sementara pilar-pilar masyarakat adalah pemikiran, perasaan dan aturan yang sama. Baik-buruknya masyarakat bergantung pada baik-buruknya pemikiran, perasaan, dan aturan-aturannya. karena unsur pembentuk keduanya berbeda, tentu upaya untuk memperbaiki masyarakat berbeda dengan upaya memperbaiki individu.





hufh, Sayang sekali bukan, jika potensi dan gelora kebangkitan umat teredam hanya karena persepsi parsial telah terbangun dan terhujam begitu mendalam di benak mereka. Dan lebih parah lagi, kemunduran berpikir umat ini malah dijadikan sebagai legitimasi dan pendalilan sebagian kalangan aktifis dakwah (sebagian, hanya sebagian kok ;) yang menolak secara halus untuk mendukung perjuangan penegakkan sistem syariah dalam rezim khilafah dengan metode kenabian (Syariah-Khilafah ala minhaj nubuwwah, bukan ala minhaj dimuqratiyah wa rosimaliyah-demokrasi kapitalisme) dengan alasan umat belum siap untuk menerima kebangkitan melalui perjuangan secara revolusioner dan totaliter.



Tentu, kita tidak bisa berdiam diri dan berpangku tangan membiarkan umat dan generasi baru ini tumbuh dengan persepsi yang tidak utuh dan aktivitas yang parsial karena hal ini sangat fatal jika dibiarkan berlanjut. Kemunduran berpikir umat yang telah menjadi salah satu faktor keterpurukan disegala bidang hendaknya menjadi sebuah faktor penguat kita untuk terus 'berdjoeang' menggoreskan pena kemuliaan (izzah) Islam, demi cinta kita yang begitu mendalam kepada umat, demi kedalaman aqidah kita yang menuntut 'perdjoeangan' yang tak kenal henti, dan ingat, umat tidak serta merta menggantungkan secercah harapannya diatas ufuk timur; karena mereka percaya sepenuh hati bahwa masa depan mereka tergantung kepada kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas yang kita lakukan mulai saat ini.



Sahabatku,

di pundak kurus kita umat menggantungkan harapan,

di kepalan tangan kita umat mengharapkan masa depan.

di lisan kita umat mengharapkan pencerahan,

di hati kita umat merindukan kasih sayang,

di mata kita umat melihat sebuah kejayaan,

di atas keberanian kita umat berlindung, bergerak dan bangkit menuju lorong kebangkitan yang penuh dengan lautan pahala dan negeri syurga yang kekal abadi, penuh kenikmatan hakiki.



Sahabatku,

jika kita terlahir bukan untuk menjadi pemenang atas pertarungan ideologi demi meraih peradaban yang hakiki, lantas untuk alasan apa kita lahir ke bumi ini? Bukankah kita dilahirkan sebagai pemenang? Bukankah kita dilahirkan untuk berjuang meraih kemuliaan dan kegemilangan umat di atas panji Islam, diatas Al-Qur'an dan as-Sunnah.



Sungguh jika suatu hari Khilafah tegak kembali, air mata kita pasti akan jatuh berlinang, hati kita akan riang tiada terperi karena perjalanan yang telah dititi. Perdjoeangan inilah yang akan menjadi kado amalan yang akan kita banggakan dihadapan Allah swt kelak, yaitu ketika di yaumil akhir nanti, Allah SWT brtanya kepada kita :



"Wahai fulan/fulanah, apa yang telah engkau lakukan di dunia sehingga Aku harus memasukanmu ke SyurgaKu?"



tentu kita semua berharap bisa berucap dengan penuh rasa bangga, air mata kita jatuh berlinang penuh cinta,

segala penderitaan yang kita alami di dunia lenyap seketika, karena balasan yang akan diberikan Allah swt kepada kita, sungguh jika saat itu tiba, kita memohon kepada Allah swt agar kita bisa berucap lirih :



" Duhai Allah.. telah ku jadikan hidupku sebagai pengabdian kepadaMu, telah kujadikan islam sebagai agama dan sistem hidupku, telah kujadikan Muhammad sebagai kekasihku dan suri teladanku, telah ku jadikan al-Qur'an petunjuk dan pedoman hidupku, dan telah ku jadikan hidupku sebagai perjuangan kepada umatMu, inilah persembahan

terbaikku,terimalah perjuangan hambaMu, ya Rabb..""



Wallahu'alam bi ash-shawwab.

Sabtu, 18 Februari 2012

Ibuku Pahlawanku..


Ibuku Pahlawanku..

Ibuku adalah orang yang paling hebat. Ia adalah pahlawanku. Aku bangga kepadanya.

Ibu tidak memiliki sayap dan tidak punya otot yang kuat. Tapi ia lebih hebat dari jagoan manapun.

Tanpa ibu, aku tak akan pernah ada di dunia.

Ibu mengandung dan membawa diriku di dalam perutnya selama Sembilan bulan.
Aku belum kuat tumbuh di luar.

Nyaman dan hangat sekali berada di dalam sana. Perut ibu jadi gendut dan berat.
Ibu merasa lelah, tapi ia tak pernah mengeluh.

Ketika aku lahir, ibu merasa sangat kesakitan. Tapi ibu tidak marah kepadaku.

Ibu malah tersenyum dan menangis.
Bukan karena sedih, tetapi karena bahagia.

Ibu memeluk dan menciumku. Pelukan pertama ibu menghentikan tangisku dan membuatku tenang.

Ibuku Pahlawanku..

Saat aku masih bayi, tak ada yang dapat aku lakukan. Jika aku ingin sesuatu, aku hanya bisa menangis.

Ibu segera memeluk dan mengayunku dalam dekapannya. Aku merasa nyaman berada dalam pelukan ibu.

Ibu selalu ada untukku. Malam haripun ibu sering terjaga dan menemaniku.

Saat aku lapar, haus, atau apabila popokku basah, ibu dengan sigap memenuhi kebutuhanku.
Meski mengantuk, ibuku berjaga setiap waktu.

Ketika aku sakit, ibu menjadi perawat nomor satuku.
karena badanku sakit, aku tidak berhenti menangis. Ibu tidak tidur karena berusaha menenangkanku siang dan malam.

Meski lelah, ibu tidak mengeluh.

Ibuku sangat pandai bernyanyi. Aku senang sekali mendengar nyanyian ibu.

Suaranya lembut, dan merdu sekali.

Ibu menyanyikan aku lagu tentang matahari, burung dan hujan.

Ibuku juga pandai bercerita.
Setiap malam ibu bercerita hingga aku tertidur. Tentang perahu keci, gajah dan kelinci.

Wajah ibu adalah yang pertama dan terakhir kulihat setiap harinya. Ibu selalu tersenyum.

Sekarang aku sudah besar. Lihatlah! Tubuhku sudah tinggi. Aku sudah bersekolah. Aku sudah dapat melakukan sesuatu sendiri.

Kata ibu aku adalah mataharinya yang shaliha. Aku tidak mengerti, tetapi aku senang menjadi anak shaliha.

Kata ibu karena itu aku disayang Allah.

Ibuku pahlawanku...

Aku akan membalas jasa ibu. Aku harus rajin belajar untuk meraih cita-citaku.

Aku berkata baik kepada ibu.
Aku selalu menuruti nasihat ibu.
Aku mendoakan ibu setiap hari.
Aku akan menjadi anak shaliha.

Aku sayang ibu dan ibu sayang padaku.
Kasih sayang ibu kepadaku besaaaar sekali, melebihi bumi dan planet-planet.

Sayangku pada ibu sepanjang matahari hingga Pluto. Kamu tahu planet terjauh itu bukan?

Aku selalu berdoa agar Allah Yang Maha Pengasih menyayangi ibuku.

Inilah doaku untuk ibu:

Allahummagh firlii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii saghiiraa

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil.

(Cerita Inspiratif untuk si kecil menjelang tidur karya Aminah Mustari)


Kamis, 16 Februari 2012

Setangkai pucuk do'a untuk Sang Kekasih



peluit malam pun berbunyi,
tanda malam sudah dimulai.

di balik jendela langit angkasa luar,
ku dengar, pemuda-pemudi menyanyikan lagu cinta,
katanya demi menyiapkan hari spesial 14Februari bersama dambaan hati.

di belahan bumi yang lain,
ku lihat, pemuda-pemudi mencelupkan pena tinta,
katanya demi menyadarkan pemuda-pemudi yang dimabuk cinta.
dambaan umat.

hari kasih sayang akan menghias 7 milyar penduduk bumi,
simbol kekhidmatan di setiap relung pesona hati manusia.

hari kasih sayang benar-benar jadi euforia cinta,
tapi malah bermuara syahwat yang memperbudak manusia yang merdeka.

aku tersenyum sinis,
memang iya? tapi, kok cinta diobral dengan nafsu syahwat.
semurah itu kah harga sebuah permata berharga bernama cinta?
serendah itu kah derajat para 'pejuang yang mengatasnamakan cinta?

andai semua tahu, andai semua orang sadar,
bahwa cinta adalah belaian hangat Khadijah di atas tubuh gemetar Muhammad di kala wahyu pertama turun.

andai semua tahu, andai semua orang sadar,
bahwa cinta adalah dekapan terakhir Aisyah pada tubuh lemas Muhammad di kala Izrail mengucap salam kehormatan terakhir.

andai semua tahu, andai semua orang sadar,
bahwa cinta adalah kesetiaan tak terkira Fatimah pada kesederhanaan Ali yang istiqomah memupuk ridho tuhannya.

andai semua tahu, andai semua orang sadar,
bahwa cinta adalah ketika Mu'tasim billah menyahut seruan seorang Muslimah yang memanggil-manggilnya karena terdzolimi.

andai semua tahu, andai semua orang sadar,
bahwa cinta adalah ketika Sultan Abdul Hamid II menolak tawaran si zionis Hertlz atas Palestina karena kecintaan pada umat ini.

andai semua tahu, andai semua orang sadar,
bahwa cinta adalah ketika rasa rindu akan kedalaman iman membuahkan perjuangan tiada henti tuk membawa pulang cerita kejayaan umat, dengan kembalinya Khilafah Rasyidah..

peluit malam pun masih berbunyi,
tanda bulan masih bertengger di lengkung langit malam.

aku kembali larut dalam keheningan,
dalam bait-bait ilmu,
bab demi bab mulai antri.
demi sebuah kertas berstempel tanda kelulusan.

satu tahun, dua tahun, tiga tahun berlalu begitu cepat,
rasa-rasanya baru kemarin sore aku tiba di sini,
saat itu aku adalah remaja kurus yang rakus ilmu.
hingga kini aku baru sadar, hampir semua orang yang berjumpa memanggilku dengan gelar depan : " kang, a atau bahkan bapak"

ah, rasanya aku tak setua itu,
aku masih Fen2 kecil yang senang bermain kelereng & layangan,
aku masih Fen2 kecil yang tertawa ketika bahagia, menangis ketika bersedih.

tapi sudahlah, zaman memang terus berlari.
generasi harus terus baru,
karena peradaban membutuhkan kontribusi mereka.

setiap kita, akan terus memasuki dimensi kehidupan yang baru.
yang lahir tumbuh kuat,
yang muda berubah dewasa,
yang tua semakin senja,
hingga kembali ke titik nol.

akankah ini menjadi akhir perjalanan ilmu,
atau awal perjalanan yang baru.

peluit malam pun tetap berbunyi,
tanda bahwa bintang-bintang datang berkerlipan menemani bulan,

Ya Allah..
setiap hari ku persiapkan bekal & kado amalan untuk menemui-Mu,
sebenarnya aku malu, karena kado yang ku berikan pada-Mu sungguh tak sebanding dengan nikmat dan karunia-Mu kepadaku.
sungguh aku malu ya Rabb,

Allahu Robbi,
Bangunkan untukku dan keluargaku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Jannah, serta mudahkanlah kami dalam melangkah beriringan memenuhi panggilan-Mu.

Allahu Robbi,
Bangunkan pula untuk teman, sahabat, handai taulan, serta orang-orang yang setia di jalan-Mu sebuah rumah istimewa di samping kiri-kanan rumah Jannahku dekat dengan telaga Jannah.
agar pada hari itu, kami bisa tersenyum bahagia, puas akan kehidupan dan perjuangan yang dilalui.

Allahu Robbi,
sampaikan salam darku untuk kekasih-Mu, Rasul saw tercinta.
yang setiap malam selalu ku ingat namanya dan ku simpan namanya jauuuh di lubuk hatiku yang paliiing dalam. Tak ada satu pun yang boleh menggantikannya sedikit pun, di hatiku juga di mata-Mu..

Rabu, 25 Januari 2012

Khabbab bin Arats, Guru dalam Ilmu dan Pengorbanan



Khabbab bin Arats adalah seorang pandai besi yang ahli membuat alat-alat senjata, terutama pedang. Senjata dan pedang buatannya dijualnya kepada penduduk Makkah dan dikirimnya ke pasar-pasar.

Sejak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Khabbab pun mendapatkan kedudukan yang tinggi di antara orang-orang yang tersiksa dan teraniaya. Ia mendapat kedudukan itu di antara orang-orang yang walau pun miskin dan tak berdaya, tetapi berani dan tegak menghadapi kesombongan, kesewenangan dan kegilaan kaum Quraisy.

Jumat, 12 November 2010

bagian dua - Petualangan di Sebuah Masjid Tua

Lihatlah rembulan dengan singgasananya..
Bertabur bintang berlian yang menemani..
Seindah tatapan mentari pagi esok hari..
Tertawa sendu memandangi hati..
Secercah cahaya kan merekah..
Seperti itulah janji dakwah kita..
Tak pernah padam dilalap dunia..
Suatu hari di bulan Februari 2010. di malam hari yang dingin, aspal jalanan mulai merasakan sunyi senyap malam yang mulai merayapi kampus. Di malam itu, atap langit begitu memanjakan mata setiap yang memandangnya, langit yang indah, bertaburkan bintang laksana sorotan mata bidadari yang mengintip bumi, menatap penuh kagum para hamba Allah yang tersungkur sujud menundukkan jiwa kepada Rabbnya. Begitulah lukisan malam, dengan mahkota rembulan yang kokoh di singgasana langit. Ribuan kilometer dibawahnya tampak sebuah pohon beringin raksasa, akarnya menghujam dan rantingnya menusuk setiap lembar angin yang melaluinya. Dedaunannya mulai mengalun syahdu tanda syukur dan tunduk akan kekuasanNya.
              Perlahan, angin berhembus menyelinap dinding masjid tua yang gelap, kusam. Hanya diterangi oleh cahaya lampu pijar 5 watt kami semua hening dalam kebersamaan. Nafas tumbuhan begitu terasa disana. Sinar rembulan yang keperakan menyepuh atap  Masjid Ibnusina. Malam yang penuh berkah, karena disana mereka tidak hanya berkumpul untuk mabit, namun berkumpul karena berdzikir, berkumpul karena tuntunan yang menjadi kewajiban semua insan yang mencari arti pengorbanan dan perjuangan di jalan yang telah digariskan oleh Sang Khalik, Yang Maha Penyayang.
Di sela-sela waktu jeda, Ali & Aryo sempatkan mengobrol di teras masjid yang berwarna hijau lumut. Seperti hari-hari biasa, mereka berbincang-bincang seputar masalah  dakwah, kulyah, dan mahisyah. Mereka berbincang seru ketika saling menceritakan pengalaman pertama masuk kulyah dengan semangat dan motivasi yang begitu idealis, bahkan terlalu melambung tinggi bagi dua orang biasa seperti mereka. Bagaimana tidak, mana bisa terwujud sebuah impian yang setinggi bintang di langit, yang para astronot pun tak sanggup mengemban misi tadi. Ali adalah tipe orang yang idealis dan perfeksionis, sedangkan Aryo, ia tipe orang yang idealis dan sederhana. Meski pun, memiliki perbedaan karakter, namun karena perbedaan itulah, persahabatan mereka semakin kokoh. Mereka saling memberikan motivasi, pernah suatu waktu Ali mengalami masa depresi ketika ada beberapa teman di jurusan yang mencemooh kelakuannya yang dianggap luar biasa. Ali terbiasa memotivasi diri sendiri dengan menuliskan nama lengkapnya bersama rentetan gelar pada sebuah buku catatan kuliah.
Disana tertulis : Prof. Dr. Ali, M.Eng, banyak orang yang mencemooh, mengatakan bahwa ia ngeyel, sok dan juga sombong. Apalagi ketika ia sadar dan teringat akan  kondisi ekonomi orang tuanya dengan segudang impiannya. Bapaknya hanya seorang petani, ibunya seorang pedagang gorengan, untuk mencukupi kebutuhan hidup pun serasa  susah minta ampun. Apalagi memenuhi kebutuhan perkuliahannya dan adik perempuannya yang sekarang masih SMP. Karena beasiswa lah dia bisa berkuliah di sini. Kebutuhan hidupnya ia cukupi dengan honor yang ia dapat selepas mengajar anak-anak SD di dekat kampus Unpad. Mungkin, jika kenyataan berkata lain, banyak orang akan lebih menghargainya karena status dan kekayaan orang tuanya. Berhari-hari ia, mengeluh, menggerutu, dalam hati, ia sering mengatakan bahwa Allah benar-benar tidak adil.
Kenapa Allah begitu kejam dan tidak memilihkan aku terlahir dan besar di keluarga lain yang lebih terjamin. Kenapa aku harus hidup di keluarga ini. Kenapa?!”

Pikiran itu berkecamuk, memenuhi seisi otak dan rongga dada. Ia benar-benar kacau kala itu. Ketika datang suasana mood seperti itu, mendadak sikapnya yang dikenal riang, peramah dan gampang membuat orang tertawa pun hilang seketika. Ia pun berubah menjadi seorang yang pendiam, pemurung dan tidak perduli dengan lingkungan. Melihat perubahan drastis itu, Aryo tahu bahwa ada sesuatu yang sedang hinggap di benaknya. Saat itu, Ali sedang melamun di teras masjid, semakin dalam ia melamun, saat itu tak terasa, rasa kesal begitu dalam merasuk memenuhi rongga dada. Lalu, tangan seorang pemuda menepuk bahu dan mengusap kepalanya.
”Ada apa sahabatku? Kenapa engkau bersedih? Aku lihat sudah beberapa hari ini   
antum tampak sedih. Ada yang bisa sahabatmu ini bantu?”
Suara itu menyadarkan dirinya. Ia tetap tidak bergeming.
Kalau antum masih menganggap aku sebagai orang lain, ya pendam saja terus masalahmu itu, mas. Karena kau ndak lagi percaya bahwa aku bisa membantumu. Kita sudah lama menjadi sahabat, antum bahagia, aku pun ikut bahagia. Tapi kalau antum ndak ngasih kesempatan sama aku, mana bisa aku nolongmu, mas?”
Kata-kata sahabatnya mulai menyadarkan ia bahwa ia memiliki seorang yang selalu memperhatikannya. Akhirnya ia pun, buka suara,
”Mas, aku gak tau bilang apa lagi. Aku bingung, aku kesel. Andai saja saya terlahir jadi orang kaya, bisa ini lah, itu lah.” ucapnya.
”Oh, aku ngerti masalah sampean,” ujar Aryo.
Mana bisa antum ngerti mas, nasibmu saja beda sama nasibku. Antum gak ngerti apa-apa!” selorohnya.
”Aku ngerti, mas”
”antum gak bakalan pernah ngerti perasaanku, mas. Ayahku petani biasa, ibuku penjual gorengan!”
Ayahku kuli bangunan, ibuku penjual jamu! Satu tahun aku jadi buruh panggul, adikku sampai sekarang jadi tukang koran.  Rumah kami, Pakaian kami seadanya, sehari makan sehari tidak. Aku juga miskin, mas. Hidup kami lebih susah daripada sampeyan. Adik laki-lakiku setiap hari memungut buku pelajaran di sekitar sekolahan untuk dibaca dijalanan karena terpaksa putus sekolah karena kekurangan biaya. Padahal umurnya baru 9 tahun, masa depannya masih panjang. Tapi aku berjanji, selama aku masih bisa berjalan, selama Allah memberiku kesehatan, selama Allah bersamaku, aku akan berjuang untuk mereka!”
Ali pun tersentak kaget, ia tak menyangka sahabat baiknya bertutur dengan begitu dalam, menceritakan latar keluarga dan kondisi keluarganya.
”Kenapa antum harus  bersedih, mas. Antum punya bakat ngajar yang luar biasa., IPK antum sekarang pun 3,54. Wawasan antum jauh melebihi seseorang yang telah dewasa. Antum punya semangat yang tidak dimiliki semua orang, Antum istimewa. Masa depan antum begitu cerah. Apa yang antum tangisi? Pekerjaan ayah antum? Atau ibu antum? Lupakah antum siapa yang menyapih diwaktu kecil, selama bertahun-tahun ibu antum membimbing dan mengajarkan tentang kehidupan, karena antumlah jatah waktu tidur malam ibu antum dahulu terganggu. Apakah hanya karena beliau seorang penjual gorengan lantas membuat antum lupa akan jasa beliau. Coba lihat ayah antum, siang malam keringatnya ia peras hanya untuk membahagiakan keluarganya, termasuk antum.Di setiap petak tanah yang ia cangkul, beliau menitipkan secuil harapan agar keluarga antum bisa hidup. Di setiap benih padi yang beliau tebarkan, beliau menitipkan setangkai doa agar antum bahagia. Ibu dan ayah antum, mereka berdua telah mengubur impiannya hanya untuk kebahagiaan anak-anak mereka. Ingatlah, setiap ibu dan ayah pasti mempunyai kasih sayang. Tapi, kasih sayang ibu dan ayah antum, gak bakalan bisa antum dapatkan dari ibu atau ayah orang lain. Ishbir, ya Akhi!”

Kata-kata Aryo begitu menusuk rongga dadaknya yang kurus, kacamatanya pun kini basah oleh tetesan air matanya. Dalam benaknya, langsung terbayang sekelebat wajah ayahandanya yang sudah mulai tua, dengan tulang muka yang menonjol. Ayahnya yang setiap ba’da shubuh berangkat ke sawah bersama sebuah cangkul yang ia sandarkan di bahunya yang kurus. Kemudian bayangan ibunya mulai hadir di benaknya, sosok seorang ibu tua, yang setiap malam mengiris-iris wortel, kol, bawang dan mempersiapkan terigu dan bahan-bahan lain untuk dijadikan gorengan. Semasa SMP, hampir di setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia dan adiknya yang saat itu masih berusia 7 tahun berkeliling berjualan gorengan bersama sang ibu. Siang harinya, mengantarkan rantang berisi makanan siang untuk sang ayahanda yang sedang asik mencangkul di tengah teriknya panas matahari siang. Kemudian mereka menepi di sebuah saung bambu di tengah sawah sambil menyantap makanan siang yang telah disiapkan ibu. Suasana yang ia rindukan sampai sekarang.
Terakhir, ia teringat sms adik perempuannnya yang kini sudah SMP, sms nya berisikan tentang penahanan raport oleh pihak sekolah karena biaya tunggakan biaya semesteran. Semua memori itu hadir begitu saja, Masya Alloh.
Dadanya semakin sesak, keharuan bercampur dengan penyesalan karena telah berpikir salah membuat air matanya semakin deras menyeruak dari matanya.
Aryo segera menepuk-nepuk pundak sahabatnya, kemudian ia mengisahkan sebuah kisah-kisah teladan yang selama ini ia jadikan pelajaran dalam hidupnya. Ia berkisah tentang seorang laki-laki di jaman Rasul yang bernama Julaibib.

Ada seorang miskin yang mengenakan kain usang pakaian lusuh, perut lapar, kaki tak beralas, berasal dari garis keturunan yang tidak terhormat, tidak punya kedudukan, harta dan keluarga besar, tidak punya rumah untuk berteduh, tidak punya perabotan yang berharga, minum hanya dari air kolam umum yang diambil dengan gayung kedua tangannya, tidur di masjid, tidur hanya berbantalkan tangan, dan berkasur pasir bercampur kerikil. Namun, begitu, dia adalah seorang yang selalu berdzikir kepada Rabb-nya, selalu membaca Kitab Allah, dan selalu berada pada shaf terdepan dalam shalat maupun dalam perang. Suatu ketika dia lewat di dekat Rasulullah. Lalu Rasulullah memanggil namanya dengan nyaring, "Wahai Julaibib, tidakkah kamu menikah?"

Orang itu menjawab, "Wahai Rasulullah, siapalah yang mau menikahkan (puterinya) denganku? Aku tidak punya kedudukan dan tidak pula harta." Beberapa hari kemudian Rasulullah bertemu dengannya. Rasulullah menanyakan pertanyaan yang sama, dan dia pun menjawabnya dengan jawaban yang sama pula. Pada pertemuan yang ketiga Rasulullah mengajukan pertanyaaan yang sama, dan dijawab dengna jawaban serupa. Maka bersabdalah Rasululah,"Wahai Julaibib, pergilah ke rumah Fulan (Rasulullah menyebut nama seorang Ashar) lalu katakan padanya, 'Rasulullah menyampaikan salam untukmu dan memintamu untuk mengawinkanku dengan anak perempuanmu'."

Shahabat Anshar yang dimaksud itu berasal dari keluarga terhormat dan terpandang. Maka, berangkatlah Julaibib menemui sahabat Anshar itu. Shabat Anshar itu mengatakan,"Semoga kesejahteraan tercurah untuk Rasulullah. Tapi bagaimnana bisa aku mengawinkan anakku denganmu yang tidak punya kedudukan dan harta benda?"

Dari dalam anak puterinya yang mukminah mendengar apa yang dikatakan oleh Julaibib dan pesan Rasulullah yang disampaikanya, segera anak perempuan mukminah itu berkata kepada kedua orang tuanya,"Apakah kalian menolak permintaan Rasulullah? Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya!"

Selanjutnya, terjadilah pernikahan yang melahirkan sebuah keluarga yang penuh berkah. Beberapa waktu kemudian datanglah seruan jihad. Julaibib pun ikut perang. Dengan tangannya terbunuh tujuh orang musuh. Namun, dia sendiri juga terbunuh. Dia meninggal dengan berbantalkan tanah dengan penuh keridhaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada prinsip-prinsip yang menghantarkannya kepada ajal. Setelah itu Rasullah memeriksa semua korban dalam perang itu. Dan, para sahabat memberitahukan nama-nama siapa saja yang terbunuh. Tak ada nama Julaibib disebut, sebab memang dia tidak terkenal di kalangan sahabat. Namun Rasulullah ingat sekali Julaibib. Beliau hafal nama itu di tengah nama-nama besar yang terbunuh. Sergah Rasulullah,"Tapi kini aku kehilangan Julaibib."

Rasulullah mendapati jasadnya penuh dengan debu, dan mengusap debu dari wajahnya seraya berkata:"Engkau telah membunuh tujuh orang, lalu engkau sendiri kini terbunuh. Engkau bagian diriku, dan aku bagian dirimu. Engkau bagian diriku dan aku bagian dirimu. Engkau bagian diriku dan aku bagian dirimu. " Ucapan yang merupakan tanda pengenal dari Nabi ini sudah cukup buat Julaibib sebagai tanda dan hadiah.

Sesungguhnya, nilai diri itu ada dalam makna-makna dan sifat-sifat mulia yang ada dalam diri. Kemiskinan dan kelemahan bukan hambatan bagi seseorang untuk mencapai prestasi yang baik, untuk sampai ke tujuan, dan unggul atas orang lain. Maka, berbahagialah orang yang mengetahui harga dirinya, berbahagialah orang yang telah membuat jiwanya bahagia dengan impian yang telah dicapainya, jihad yang diikutinya, dan akhlak baik yang menjadi nilainya. Berbahagialah bagi yang telah menjadi baik sebanyak dua kali, yang berbahagia di dua kehidupan, dan mendapat kemenangan dua kali di dunia dan di akhirat.* 
*[Disarikan dari La Tahzan karya fenomenal DR 'Aidh al-Qarni]


ia ikut haru melihat sahabat yang selama ini riang, bersemangat dalam setiap waktunya kini terlihat seperti seorang anak kecil yang menangis. Ia pun tak kuasa, menahan air matanya. Ia ikut menangis.
”Astaghfirulloh,, ya Alloh,, Astaghfirulloh.. ya Rabb.. maafkan aku ya Alloh..” sesegukan Ali sambil menyeka kedua pipinya.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari dalam masjid menuju teras, kemudian terlihat seorang laki-laki tinggi, berkulit putih dengan tampak jenggot di dagunya memakai kemeja biru yang rapi.


”Assalamu’alaikum akhi, bisa kita lanjutkan Materi Keislaman 3 nya lagi? Teman-teman yang lain sudah pada menunggu”

Ternyata laki-laki yang keluar tadi adalah musyrif kami sekaligus Ketua Lembaga Dakwah Kampus yang selama ini dikenal orang sebagai pemuda yang berwibawa dan bermental baja, ialah  kang Yuda Wardhana.        

Kepada Seorang Ayah yang berbahagia,

Kubayangkan butir air mata memenuhi pelupuk matamu
saat kau membacakan baris-baris kasih sayang kepada buah hatimu
Kusapa, ada beberapa butir air mata menggantung di sukmaku
hendak menyeruak ke dunia menemani keharuanmu


Tak ada yang dapat kuucapkan hari ini seperti hari kemarin,
aku hanya bisa membisu coba kutulis beberapa kata ungkapan kehormatan kepadamu
yang kini duduk menyaksikan ilham Allah merasuki tulang-tulang tuamu.


Adakah aku akan melihat orang tuaku sebahagia lantunan nyanyian hatimu
yang hendak menempuh tahap tertinggi kodrat manusia?
aku merenung menggores bayangan butiran air matamu y
ang terdorong keluar oleh kebahagiaan
aku berusaha menutupi jalan untuk air mataku yang tak sanggup menahan keharuan
menuntut jalan keluar, mungkin hendak berteman dengan air matamu

[bersambung..]


Terinspirasi sewaktu di bogor-jakarta, awal juli 2010.
Ditulis di Jatinangor, Kampus Unpad, awal September 2010
Sebuah pengantar untuk mereka yang memiliki sahabat

Bagian satu- Bertualang di sebuah Bis Damri

Lihatlah ufuk senja,
Ditemaram langit kelabu,
Merangkak tunduk di atas haribaan,
Seandainya kau ada disini,
Kan ku ajak engkau menari bersama angin senja.
Namun kau tak lagi disana,
Di sini aku menunggumu, sahabat.

Bagian satu-
Bertualang di sebuah Bis Damri

Sore itu, hujan deras mengguyur seisi desa.
      ”Ayo buruan,  li. Nanti hujannya tambah gede!” teriak Aryo.
      ”Iya, sabar dong mas, kan aku gak bawa payung gede nih” selorohku.
       Sore itu, hujan memang tidak seperti biasanya, angin begitu kencang berhembus dari arah barat mengajak menari dedaunan yang berguguran di sepanjang masjid. Pohon-pohon pun seakan bergeser karena menahan laju angin yang begitu kencang. Saat ku lihat masih jam 16.45 wib. Aku dan sahabat baikku, Aryo baru saja beranjak pulang menuju kosan sehabis menghadiri pengajian bersama teman-teman ikhwan lainnya di sebuah masjid tua bernamakan seorang ahli kedokteran yang namanya sampai sekarang masih dipuji-puji, masjid itu bernama Masjid Raya Ibnusina.
      Aryo sudah kuanggap saudara sendiri, ia sendiri benar-benar menganggap aku sebagai saudara kembarnya, bahkan lebih dari itu, aku dan ia bagaikan soulmate yang tidak akan pernah terpisahkan oleh budaya, tempat asal dan tradisi. Ia seorang lelaki jawa yang benar-benar ulet, rajin, struggle, ia memiliki perwatakan khas seorang jawa yang memang dikenal seperti itu di mata semua orang. Kami berdua saling mengenal sewaktu aktif menjadi anggota pengurus Lembaga Dakwah Kampus di masjid Unpad Jatinangor. Ada perasaan geli ketika mengingat saat-saat awal pertemuan kami.

      Pagi itu,  bis Damri Dipati Ukur-Jatinangor berhenti sejenak beberapa meter dari pintu gerbang tol Muhammad Toha-Cileunyi. Satu persatu penjual  makanan ringan dan penjual majalah masuk ke dalam bis menawarkan dagangannya.
      ”Walau pun akhir bulan bertamu, semangat membaca tak pernah jemu. Tilu rebu, tilu rebu, Aril peterpan berlaga di video porno, cut tari pun parno. Pengen cantik dan anggun seperti Inneke Kusherawati,berbelanjalah di toko baju zukhruf muslimah, murah dan berkah. Fernando Torres alami masa paceklik, 3 bulan tak kunjung cetak gol, Steven Gerrard pun resah. Tilu rebu, tilu rebu!” Promosi sang penjual majalah dengan suara kerasnya yang khas dan membuat semua mata tertuju padanya. Tak ada satu pun penumpang yang tertarik untuk membeli majalah bekas tersebut. Akhirnya, sang penjual majalah meninggalkan bis dengan muka masam yang menyeramkan sambil menggerutu.

      Aku duduk tepat di barisan bangku kedua dari belakang. Saat pintu otomatis damri mulai menutup, bis pun melaju perlahan.
Tapi tidak lama kemudian, terdengar suara kencang sang konektur yang berteriak dengan bahasa loma (bahasa sunda agak sedikit kasar).
       ”Heup!!! Heup!!! Eureunkeun heula, Sardun!! Itu budak lalaki rek naek!!”  Pintu otomatis pun berdebum terbuka. Lalu ketika menoleh ke arah pintu yang sedang terbuka, ku lihat ada seorang anak muda yang naik tergopoh-gopoh menggandong tas dan membawa koper besar berwarna hitam kecoklatan. Ia kesulitan mengangkat koper besar tadi, dengan sekuat tenaga ia berusaha, akhirnya sang konektur turun dan membantu anak muda tadi menaikkan koper besar tersebut. Ia naik, mukanya pucat, nafasnya pun terengah-engah. Lucu sekali melihat tampilan dan sikap tubuhnya, jelas dia seorang perantau yang baru saja tiba di kota Bandung. Terlihat tatapan lega seorang yang tadinya kebingungan di tempat baru yang ia singgahi.Keningnya penuh dengan keringat, saat itu semua kursi telah terisi penuh, kecuali sebuah kursi tepat disampingku. Ia meminta izin untuk duduk di kursi tadi, setelah duduk ia menoleh ke arahku, ia tersenyum simpul sambil bertanya dengan nada jawa yang khas

      ”Nuwun sewu mas, numpang tanya. Kalo ini betul ya, bis ke jatinangor?”
      "ya, mas. Betul. Ini Bis ke Jatinangor.” Jawabku.
      "Alhamdulillah, akhirnya bener juga toh” ungkapnya lega.
      "Memang dari mana, mas?” tanyaku.
      "Aku dari Jawa Timur, Mas. Dari Madiun tepatnya.” tuturnya masih dengan nada jawa yang khas, apalagi sewaktu lafadz ”J & D” keluar dari  
      mulutnya. Hihi, lucu banget.
      ”Unpad ya, mas? Fakultas apa mas? Jurusan apa?” tanyaku lagi.
      ”ya, mas. Kebetulan aku masuk jurusan Teknik Manajemen Industri Pertanian.  Fakultas ini, apa itu, nganu.. ehm... itu loh mas, teknologi
      ilmu eee.. eeee.. apa ya?”
      ”oh, jurusan TMIP ya, itu di  Fakultas Teknologi Ilmu Pertanian” sahutku.
      ”ya, hooh bener, itu maksudku, mas. Lali aku tadi,hehe” ungkapnya polos.
      ”perkenalkan nama saya Ali. Dari Fakultas MIPA, jurusan Fisika” ucapku sambil mengulurkan tangan kepadanya.
      ”oh, nje. Namaku Aryo, Aryo Prayogo. Panggil saja Aryo.” Katanya sambil membalas uluran tanganku.

       Tak terasa, kami pun bercakap-cakap hingga bis damri pun terisi penuh oleh mereka yang berdiri berdesak-desakan di dalam bis. Tak lama kemudian, bis pun melaju kencang di jalanan yang bebas hambatan, antara bandung dan jatinangor. Sepanjang perjalanan, terlihat hijau pesawahan yang terbentang dari arah barat hingga timur, namun sayang. Pemandangan indah tadi, hilang sekejap ketika bis melewati suatu daerah yang kering gersang, hanya ditumbuhi oleh bangunan pabrik yang mengepulkan asap hitam pekat. Pemandangan ini terus menerus terlihat di sepanjang jalan yang kami lewati, Langit yang biru seakan terbatuk-batuk menghisap polusi asap hitam dan beracun yang berasal karena ketamakan manusia. Atas nama materi, mereka menyakiti alam yang indah ini, atas nama dunia mereka melupakan hakikat keberadaan manusia yang seharusnya saling mengerti. Masya Alloh.

        Dua puluh menit kemudian, bis sampai di gerbang tol cileunyi. Pintu otomatis kembali berdebum terbuka, satu persatu penumpang turun dari bis, ada seorang ibu yang menggendong anaknya yang baru berumur satu tahun, sambil menuntun kedua anak laki-lakinya. Lalu giliran seorang kakek tua yang membawa tongkat, mukanya tirus, rambutnya yang penuh uban ditutupi sebuah peci hitam yang sudah luntur di kedua sisinya. Tidak lama kemudian, melintas seorang perempuan muda memakai jilbab warna biru. Ia memakai tas selendang berwarna merah muda yang sedikit terbuka. Tingginya semampai, dengan kerudung putih yang serasi dengan warna jilbabnya. Di belakangnya, tampak seorang laki-laki berkulit gelap mengenakan jaket kulit sewarna dengan warna kulitnya. Ketika sang perempuan akan turun, laki-laki tadi tidak sengaja menabrak kursi kosong yang ada di depan kami sehingga badannya sedikit mengenai perempuan tadi. Laki-laki tadi pun, langsung meminta maaf. Lantas ia berlalu dengan cepat.

      Beberapa detik kemudian, Aryo bangkit dari kursinya seraya menunjuk laki-laki yang baru turun tadi, sambil berteriak :
      ”Cepot,, eh,,, copet!! Hey, hey..copet!!!”
      Aku pun tersentak kaget, melihat teman yang baru ku kenal tadi. Dengan cekatannya, ia berlari turun dari bis kemudian menghampiri laki-laki
      tadi. Laki-laki tadi diam ketika temanku menghampirinya.
      ”Hey, pak.. balikin dompetnya.. hayoo,, ta laporin sama pulisi!” selorohnya,
     ”Apaan kamu, enak aja nuduh. Gak sopan banget kamu!” jawab laki-laki hitam tadi.
      ”Aku tadi liat, bapak ngambil dompet perempuan itu di damri!” ungkap Aryo lantang.
     ”Betekok, nuduh kuring maok, nuduh dewek maling?” teriaknya kasar.
      Di samping kami, berdiri perempuan berbaju kurung biru, ia berdiri mematung, mungkin sedikit kaget akan situasi yang ada dihadapannya. 
      Kemudian, aku pun menoleh kepadanya.
      ”Teh, punten teh. Lekas periksa tasnya, barangkali ada yang hilang.” ucapku padanya.
      ”oh, iya, afwan, sebentar.” kata perempuan tadi dengan khawatir.
       ”Masya Alloh. ...” sebelum perempuan itu menyelesaikan perkataanya.
       Tiba-tiba sebuah tinju keras mendarat di pipi kiri temanku.
        ”hiyaaah... paeh maneh!” teriak laki-laki itu sambil menghujamkan tangannya ke arah temanku. Tubuh kurus Aryo pun tumbang, seketika itu suasana mulai tak karuan. Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu, berteriak histeris, termasuk sang perempuan berbaju kurung biru.
      ”arrrrgghhhh!!!! Astaghfirulloh,,” nadanya cemas. Refleks, aku pun meninju balik laki-laki tadi, meski pun dengan dada yang berdebar-debar dan tak karuan. Laki-laki tadi ternyata masih tegar, hanya hidungnya mengucurkan darah merah. Kemudian ia mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat jantungku berdegup sepuluh kali lipat. Ia mengeluarkan sebilah pisau belati dari jaket kulit hitamnya. Ia mengancam siapa saja yang berusaha mengepungnya. Tak  ada satu pun dari kerumunan orang yang berani maju menghadapi laki-laki seram itu. Rasa-rasanya jantung ini berdetak makin kencang, dua puluh kali dari biasanya. Matanya agak sedikit teler, tercium bau alkohol ketika dia berteriak-teriak tidak karuan, mencaci maki Aryo dan semua orang yang ada di sekelilingnya.
            ”Maju selangkah, ku hunuskan pisau ini sama anak ini!” teriaknya lagi sambil mengarahkan pisau ke arah Aryo yang masih tergeletak di 
            atas aspal. Seorang bapak-bapak setengah baya berucap dengan nada khawatir.
            ”jang, jang. Eling jang, ulah nyiar-nyiar picilakaeun! Enggeus, bapak mah kaweur ningali na ge. Ulah sologoto kawas kitu! (nak, nak.
             Sadar, nak. Jangan cari-cari masalah! Sudahlah, bapak khawatir lihatnya. Jangan bertindak sembarangan kaya gitu!)”
            Laki-laki yang sedang dilanda kenekatan itu pun, makin menjadi-jadi. Meski pun dia teler, tapi tatapannya tajam, matanya merah, seperti mata setan. Namun, dengan biusan alkohol, laki-laki itu berjalan sedikit sempoyongan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya makin kotor, jijik dan tidak enak didengar bahkan oleh preman sekali pun. Namun, situasi ini tak lama. Ketika tangan sang laki-laki hitam itu mengayun-ayun, mengancam siapa saja yang mendekat, tak lama kemudian dari bawah tampak sebuah sepatu hitam yang mengayun ke arah betis laki-laki hitam itu. Sepatu itu berasal dari kaki sahabatku, Aryo yang tadi tergeletak. Tak ayal, tendangan sleding membuat si penjahat tadi rubuh seketika.
”Brukkk!!” terdengar debum jatuh disertai suara raungan si penjahat. Suaranya mengerikan, seperti auman singa yang sedang diterkam kawanan singa lainnya. Sebelum ia bangkit, Aryo pun dengan cekatan menendang tangan si penjahat yang sedang menghunuskan pisau belati. Pisau pun terlempar sejauh dua meter. Aku dan semua yang melihat pun mendekati kedua orang yang sedang berperang itu dan langsung memegangi si penjahat. Situasi pun sedikit aman terkendali. Barulah datang tiga orang berseragam coklat abu-abu berlari dari arah terminal.
       ”Semuanya menyingkir, ada apa ini? Ada apa ribut-ribut kayak gini?” ujar salah seorang dari mereka.
       ”Kamana wungkul atuh, pak. Aya copet teh lakah cicing wae?” kata seorang ibu yang dari awal menyaksikan kejadian aneh itu.
       ”Oh, copet nyak. Nya enggeus weh, kadaritu, kadaritu. Awas, ku kami urang uruskeun nu kieu mah! (Oh, copet ya. Ya sudah, semuanya  
        bubar. Kami akan menanganinya!). Selepas kedatangan petugas yang datang terlambat, situasi pun mulai kembali dingin. Si penjahat,
        akhirnya digiring ke pos penjagaan yang tidak jauh dari terminal.
       Aku pun melihat Aryo yang sedang menutupi hidungnya yang berdarah, dan penuh debu.
       ”Astaghfirulloh, yo. Kamu gak apa-apa?” tanyaku sambil melihat luka di wajahnya.
       ”oh, ndak apa-apa toh mas, ini sih biasa.” ucapnya datar sambil mengeluarkan sebuah dompet berwarna pink.
       ”Mbak, ini dompetnya.” katanya.
       ”Masya Alloh, Syukron. Afwan jiddan, karena kecerobohan saya, mas jadi babak belur seperti ini?” jawab perempuan berjilbab biru, masih
       dengan nada cemas dan khawatir.
       ”Sama-sama, mbak. Lain kali musti hati-hati kalo simpen dompetnya ya, mbak?” ucap Aryo.
       ”Saya antar ke AMC ya, kita obati luka masnya?” kata perempuan berjilbab biru.
        ”Ndak usah, mbak. Watur nuwun, ndak apa-apa kok. Cuman sedikit memar, dibiarkan sehari juga sembuh.”
       ”Afwan ya, sekali lagi afwan. Nama saya Kaviani. salam kenal. ”
       ”Saya Aryo Prayogo. Salam kenal juga” kata Aryo. Kemudian perempuan itu menolehku, alisnya sedikit terangkat.
       ”Oh, iya. Nama saya Ali.” ujarku kaget.
       ”Sekali lagi syukron jazakalloh semuanya” ucap perempuan itu.
       ”Saya mohon pamit, sedang terburu-buru.”
       Kami berdua pun mengangguk.
       ”Assalamu’alaikum”
       ”wa alaikumussalam warrohmatulloh” serentak kami menjawab.

Itulah cerita singkat awal perjumpaan kami. sedikita aneh memang, baru saja bertemu sudah dimulai dengan petualangan yang membuat geli. Awal perjumpaan yang berlanjut dengan kisah-kisah persahabatan dalam dakwah. Kisah-kisah yang penuh dengan haru, tangis dan tawa. Ternyata memliki seorang teman adalah sebuah anugerah. Apalagi memiliki seorang sahabat. Sahabat sejati, yang akan menjadi pelipur lara dikala gundah datang, dikala asa ditepian jurang, dikala risau mengacau. Itulah makna sahabat.
(bersambung ke bagian II)


Pertemuan kita kali ini
Bukan sekedar kawan lama tak jumpa
Tapi kita bertemu ada satu makna
Kita punya satu perjuangan

Sambutlah tangan sahabat saudaramu
Pimpinlah ia melangkah bersama
Satukan hati kita teguhkan ia
Berdiri bersama untuk kebenaran

Sahabat Perjuangan
-Tazzaka-

Jumat, 20 Agustus 2010

Bagaimana Mungkin Doa Kita dikabulkan ?

Al-Qadliy berkata,Hadits dibawah ini merupakan salah satu pilar agama Islam dan tonggak dari hukum-hukum Islam. Ada 40 hadits yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hadits ini. Di dalam hadits ini ada perintah kepada kaum muslim untuk berinfak dengan yang rejeki halal, serta larangan untuk berinfak dengan rejeki yang haram. Hadits ini juga menerangkan, bahwa minuman, makanan, pakaian, dan lain-lain harus halal dan terjauh dari syubhat; dan siapa saja yang berdoa hendaknya ia memenuhi syarat-syarat tersebut, dan menjauhi minuman, makanan, dan pakaian yang haram.”[1]
Imam al-Hafidz Abu al-’Ala al-Mubarakfuriy, dalam Tuhfat al-Ahwadziy, menyatakan bahwa makna hadits ini adalah, Allah swt suci dari noda, dan tidak akan menerima dan tidak boleh mendekatkan diri kepadaNya, kecuali sejalan dengan makna hadits tersebut.[2]
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
Wahai manusia, sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik (thayyib), dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukmin sebagaimana halnya Ia memerintah para Rasul. Kemudian, Ia berfirman, “Wahai para Rasul, makanlah dari rejeki yang baik-baik, dan berbuat baiklah kalian. Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang engkau ketahui.” Selanjutnya, beliau bercerita tentang seorang laki-laki yang berada di dalam perjalanan yang sangat panjang, hingga pakaiannya lusuh dan berdebu. Laki-laki itu lantas menengadahkan dua tangannya ke atas langit dan berdoa, “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku..”, sementara itu makanan yang dimakannya adalah haram, minuman yang diminumnya adalah haram, dan pakaian yang dikenakannya adalah haram; dan ia diberi makanan dengan makanan-makanan yang haram. Lantas, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?.”. [HR. Muslim]

[1] Imam Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, hadits no. 1686
[2] Tuhfat al-Ahwadziy bi Syarh Jaami’ al-Tirmidziy, hadits no. 2722