beres
Sabtu, 17 Desember 2011
STAND PAMERAN SYAITANIRRAJIM
Hampir di setiap malam tiba, selepas membolak-balik buku tebal berisi turunan rumus dan konsep fisika, biasanya saya mengatasi kepenatan kepala dengan menerawang dan mengingat momen-momen lucu masa silam sambil memutar lagu nasyid yang menjadi hits 6 tahun silam, kadang pula usil menuliskan nama orang-orang terdekat kita, mulai dari keluarga, guru, teman, sahabat hingga orang-orang yang kita sayangi lainnya. Satu per satu wajah ceria mereka hadir berkelebatan dalam layar kepala. Senyum pun kembali mengembang diwaktu hati lirih mengucap : “Ah, begitu indah cerita masa lalu itu..” Terkadang, dengan jurus tadi cukup ampuh buat menghadirkan kembali cahaya semangat yang kian melemah.
Jumat, 12 November 2010
bagian dua - Petualangan di Sebuah Masjid Tua
Lihatlah rembulan dengan singgasananya..Suatu hari di bulan Februari 2010. di malam hari yang dingin, aspal jalanan mulai merasakan sunyi senyap malam yang mulai merayapi kampus. Di malam itu, atap langit begitu memanjakan mata setiap yang memandangnya, langit yang indah, bertaburkan bintang laksana sorotan mata bidadari yang mengintip bumi, menatap penuh kagum para hamba Allah yang tersungkur sujud menundukkan jiwa kepada Rabbnya. Begitulah lukisan malam, dengan mahkota rembulan yang kokoh di singgasana langit. Ribuan kilometer dibawahnya tampak sebuah pohon beringin raksasa, akarnya menghujam dan rantingnya menusuk setiap lembar angin yang melaluinya. Dedaunannya mulai mengalun syahdu tanda syukur dan tunduk akan kekuasanNya.
Bertabur bintang berlian yang menemani..
Seindah tatapan mentari pagi esok hari..
Tertawa sendu memandangi hati..
Secercah cahaya kan merekah..
Seperti itulah janji dakwah kita..
Tak pernah padam dilalap dunia..
Perlahan, angin berhembus menyelinap dinding masjid tua yang gelap, kusam. Hanya diterangi oleh cahaya lampu pijar 5 watt kami semua hening dalam kebersamaan. Nafas tumbuhan begitu terasa disana. Sinar rembulan yang keperakan menyepuh atap Masjid Ibnusina. Malam yang penuh berkah, karena disana mereka tidak hanya berkumpul untuk mabit, namun berkumpul karena berdzikir, berkumpul karena tuntunan yang menjadi kewajiban semua insan yang mencari arti pengorbanan dan perjuangan di jalan yang telah digariskan oleh Sang Khalik, Yang Maha Penyayang.
Di sela-sela waktu jeda, Ali & Aryo sempatkan mengobrol di teras masjid yang berwarna hijau lumut. Seperti hari-hari biasa, mereka berbincang-bincang seputar masalah dakwah, kulyah, dan mahisyah. Mereka berbincang seru ketika saling menceritakan pengalaman pertama masuk kulyah dengan semangat dan motivasi yang begitu idealis, bahkan terlalu melambung tinggi bagi dua orang biasa seperti mereka. Bagaimana tidak, mana bisa terwujud sebuah impian yang setinggi bintang di langit, yang para astronot pun tak sanggup mengemban misi tadi. Ali adalah tipe orang yang idealis dan perfeksionis, sedangkan Aryo, ia tipe orang yang idealis dan sederhana. Meski pun, memiliki perbedaan karakter, namun karena perbedaan itulah, persahabatan mereka semakin kokoh. Mereka saling memberikan motivasi, pernah suatu waktu Ali mengalami masa depresi ketika ada beberapa teman di jurusan yang mencemooh kelakuannya yang dianggap luar biasa. Ali terbiasa memotivasi diri sendiri dengan menuliskan nama lengkapnya bersama rentetan gelar pada sebuah buku catatan kuliah.
Disana tertulis : Prof. Dr. Ali, M.Eng, banyak orang yang mencemooh, mengatakan bahwa ia ngeyel, sok dan juga sombong. Apalagi ketika ia sadar dan teringat akan kondisi ekonomi orang tuanya dengan segudang impiannya. Bapaknya hanya seorang petani, ibunya seorang pedagang gorengan, untuk mencukupi kebutuhan hidup pun serasa susah minta ampun. Apalagi memenuhi kebutuhan perkuliahannya dan adik perempuannya yang sekarang masih SMP. Karena beasiswa lah dia bisa berkuliah di sini. Kebutuhan hidupnya ia cukupi dengan honor yang ia dapat selepas mengajar anak-anak SD di dekat kampus Unpad. Mungkin, jika kenyataan berkata lain, banyak orang akan lebih menghargainya karena status dan kekayaan orang tuanya. Berhari-hari ia, mengeluh, menggerutu, dalam hati, ia sering mengatakan bahwa Allah benar-benar tidak adil.
”Kenapa Allah begitu kejam dan tidak memilihkan aku terlahir dan besar di keluarga lain yang lebih terjamin. Kenapa aku harus hidup di keluarga ini. Kenapa?!”
Pikiran itu berkecamuk, memenuhi seisi otak dan rongga dada. Ia benar-benar kacau kala itu. Ketika datang suasana mood seperti itu, mendadak sikapnya yang dikenal riang, peramah dan gampang membuat orang tertawa pun hilang seketika. Ia pun berubah menjadi seorang yang pendiam, pemurung dan tidak perduli dengan lingkungan. Melihat perubahan drastis itu, Aryo tahu bahwa ada sesuatu yang sedang hinggap di benaknya. Saat itu, Ali sedang melamun di teras masjid, semakin dalam ia melamun, saat itu tak terasa, rasa kesal begitu dalam merasuk memenuhi rongga dada. Lalu, tangan seorang pemuda menepuk bahu dan mengusap kepalanya.
”Ada apa sahabatku? Kenapa engkau bersedih? Aku lihat sudah beberapa hari iniantum tampak sedih. Ada yang bisa sahabatmu ini bantu?”
Suara itu menyadarkan dirinya. Ia tetap tidak bergeming.
”Kalau antum masih menganggap aku sebagai orang lain, ya pendam saja terus masalahmu itu, mas. Karena kau ndak lagi percaya bahwa aku bisa membantumu. Kita sudah lama menjadi sahabat, antum bahagia, aku pun ikut bahagia. Tapi kalau antum ndak ngasih kesempatan sama aku, mana bisa aku nolongmu, mas?”Kata-kata sahabatnya mulai menyadarkan ia bahwa ia memiliki seorang yang selalu memperhatikannya. Akhirnya ia pun, buka suara,
”Mas, aku gak tau bilang apa lagi. Aku bingung, aku kesel. Andai saja saya terlahir jadi orang kaya, bisa ini lah, itu lah.” ucapnya.Ali pun tersentak kaget, ia tak menyangka sahabat baiknya bertutur dengan begitu dalam, menceritakan latar keluarga dan kondisi keluarganya.
”Oh, aku ngerti masalah sampean,” ujar Aryo.
”Mana bisa antum ngerti mas, nasibmu saja beda sama nasibku. Antum gak ngerti apa-apa!” selorohnya.
”Aku ngerti, mas”
”antum gak bakalan pernah ngerti perasaanku, mas. Ayahku petani biasa, ibuku penjual gorengan!”
”Ayahku kuli bangunan, ibuku penjual jamu! Satu tahun aku jadi buruh panggul, adikku sampai sekarang jadi tukang koran. Rumah kami, Pakaian kami seadanya, sehari makan sehari tidak. Aku juga miskin, mas. Hidup kami lebih susah daripada sampeyan. Adik laki-lakiku setiap hari memungut buku pelajaran di sekitar sekolahan untuk dibaca dijalanan karena terpaksa putus sekolah karena kekurangan biaya. Padahal umurnya baru 9 tahun, masa depannya masih panjang. Tapi aku berjanji, selama aku masih bisa berjalan, selama Allah memberiku kesehatan, selama Allah bersamaku, aku akan berjuang untuk mereka!”
”Kenapa antum harus bersedih, mas. Antum punya bakat ngajar yang luar biasa., IPK antum sekarang pun 3,54. Wawasan antum jauh melebihi seseorang yang telah dewasa. Antum punya semangat yang tidak dimiliki semua orang, Antum istimewa. Masa depan antum begitu cerah. Apa yang antum tangisi? Pekerjaan ayah antum? Atau ibu antum? Lupakah antum siapa yang menyapih diwaktu kecil, selama bertahun-tahun ibu antum membimbing dan mengajarkan tentang kehidupan, karena antumlah jatah waktu tidur malam ibu antum dahulu terganggu. Apakah hanya karena beliau seorang penjual gorengan lantas membuat antum lupa akan jasa beliau. Coba lihat ayah antum, siang malam keringatnya ia peras hanya untuk membahagiakan keluarganya, termasuk antum.Di setiap petak tanah yang ia cangkul, beliau menitipkan secuil harapan agar keluarga antum bisa hidup. Di setiap benih padi yang beliau tebarkan, beliau menitipkan setangkai doa agar antum bahagia. Ibu dan ayah antum, mereka berdua telah mengubur impiannya hanya untuk kebahagiaan anak-anak mereka. Ingatlah, setiap ibu dan ayah pasti mempunyai kasih sayang. Tapi, kasih sayang ibu dan ayah antum, gak bakalan bisa antum dapatkan dari ibu atau ayah orang lain. Ishbir, ya Akhi!”
Kata-kata Aryo begitu menusuk rongga dadaknya yang kurus, kacamatanya pun kini basah oleh tetesan air matanya. Dalam benaknya, langsung terbayang sekelebat wajah ayahandanya yang sudah mulai tua, dengan tulang muka yang menonjol. Ayahnya yang setiap ba’da shubuh berangkat ke sawah bersama sebuah cangkul yang ia sandarkan di bahunya yang kurus. Kemudian bayangan ibunya mulai hadir di benaknya, sosok seorang ibu tua, yang setiap malam mengiris-iris wortel, kol, bawang dan mempersiapkan terigu dan bahan-bahan lain untuk dijadikan gorengan. Semasa SMP, hampir di setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia dan adiknya yang saat itu masih berusia 7 tahun berkeliling berjualan gorengan bersama sang ibu. Siang harinya, mengantarkan rantang berisi makanan siang untuk sang ayahanda yang sedang asik mencangkul di tengah teriknya panas matahari siang. Kemudian mereka menepi di sebuah saung bambu di tengah sawah sambil menyantap makanan siang yang telah disiapkan ibu. Suasana yang ia rindukan sampai sekarang.
Terakhir, ia teringat sms adik perempuannnya yang kini sudah SMP, sms nya berisikan tentang penahanan raport oleh pihak sekolah karena biaya tunggakan biaya semesteran. Semua memori itu hadir begitu saja, Masya Alloh.
Dadanya semakin sesak, keharuan bercampur dengan penyesalan karena telah berpikir salah membuat air matanya semakin deras menyeruak dari matanya.
Aryo segera menepuk-nepuk pundak sahabatnya, kemudian ia mengisahkan sebuah kisah-kisah teladan yang selama ini ia jadikan pelajaran dalam hidupnya. Ia berkisah tentang seorang laki-laki di jaman Rasul yang bernama Julaibib.
”Ada seorang miskin yang mengenakan kain usang pakaian lusuh, perut lapar, kaki tak beralas, berasal dari garis keturunan yang tidak terhormat, tidak punya kedudukan, harta dan keluarga besar, tidak punya rumah untuk berteduh, tidak punya perabotan yang berharga, minum hanya dari air kolam umum yang diambil dengan gayung kedua tangannya, tidur di masjid, tidur hanya berbantalkan tangan, dan berkasur pasir bercampur kerikil. Namun, begitu, dia adalah seorang yang selalu berdzikir kepada Rabb-nya, selalu membaca Kitab Allah, dan selalu berada pada shaf terdepan dalam shalat maupun dalam perang. Suatu ketika dia lewat di dekat Rasulullah. Lalu Rasulullah memanggil namanya dengan nyaring, "Wahai Julaibib, tidakkah kamu menikah?"
Orang itu menjawab, "Wahai Rasulullah, siapalah yang mau menikahkan (puterinya) denganku? Aku tidak punya kedudukan dan tidak pula harta." Beberapa hari kemudian Rasulullah bertemu dengannya. Rasulullah menanyakan pertanyaan yang sama, dan dia pun menjawabnya dengan jawaban yang sama pula. Pada pertemuan yang ketiga Rasulullah mengajukan pertanyaaan yang sama, dan dijawab dengna jawaban serupa. Maka bersabdalah Rasululah,"Wahai Julaibib, pergilah ke rumah Fulan (Rasulullah menyebut nama seorang Ashar) lalu katakan padanya, 'Rasulullah menyampaikan salam untukmu dan memintamu untuk mengawinkanku dengan anak perempuanmu'."
Shahabat Anshar yang dimaksud itu berasal dari keluarga terhormat dan terpandang. Maka, berangkatlah Julaibib menemui sahabat Anshar itu. Shabat Anshar itu mengatakan,"Semoga kesejahteraan tercurah untuk Rasulullah. Tapi bagaimnana bisa aku mengawinkan anakku denganmu yang tidak punya kedudukan dan harta benda?"
Dari dalam anak puterinya yang mukminah mendengar apa yang dikatakan oleh Julaibib dan pesan Rasulullah yang disampaikanya, segera anak perempuan mukminah itu berkata kepada kedua orang tuanya,"Apakah kalian menolak permintaan Rasulullah? Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya!"
Selanjutnya, terjadilah pernikahan yang melahirkan sebuah keluarga yang penuh berkah. Beberapa waktu kemudian datanglah seruan jihad. Julaibib pun ikut perang. Dengan tangannya terbunuh tujuh orang musuh. Namun, dia sendiri juga terbunuh. Dia meninggal dengan berbantalkan tanah dengan penuh keridhaan kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada prinsip-prinsip yang menghantarkannya kepada ajal. Setelah itu Rasullah memeriksa semua korban dalam perang itu. Dan, para sahabat memberitahukan nama-nama siapa saja yang terbunuh. Tak ada nama Julaibib disebut, sebab memang dia tidak terkenal di kalangan sahabat. Namun Rasulullah ingat sekali Julaibib. Beliau hafal nama itu di tengah nama-nama besar yang terbunuh. Sergah Rasulullah,"Tapi kini aku kehilangan Julaibib."
Rasulullah mendapati jasadnya penuh dengan debu, dan mengusap debu dari wajahnya seraya berkata:"Engkau telah membunuh tujuh orang, lalu engkau sendiri kini terbunuh. Engkau bagian diriku, dan aku bagian dirimu. Engkau bagian diriku dan aku bagian dirimu. Engkau bagian diriku dan aku bagian dirimu. " Ucapan yang merupakan tanda pengenal dari Nabi ini sudah cukup buat Julaibib sebagai tanda dan hadiah.
Sesungguhnya, nilai diri itu ada dalam makna-makna dan sifat-sifat mulia yang ada dalam diri. Kemiskinan dan kelemahan bukan hambatan bagi seseorang untuk mencapai prestasi yang baik, untuk sampai ke tujuan, dan unggul atas orang lain. Maka, berbahagialah orang yang mengetahui harga dirinya, berbahagialah orang yang telah membuat jiwanya bahagia dengan impian yang telah dicapainya, jihad yang diikutinya, dan akhlak baik yang menjadi nilainya. Berbahagialah bagi yang telah menjadi baik sebanyak dua kali, yang berbahagia di dua kehidupan, dan mendapat kemenangan dua kali di dunia dan di akhirat.*
*[Disarikan dari La Tahzan karya fenomenal DR 'Aidh al-Qarni]
ia ikut haru melihat sahabat yang selama ini riang, bersemangat dalam setiap waktunya kini terlihat seperti seorang anak kecil yang menangis. Ia pun tak kuasa, menahan air matanya. Ia ikut menangis.
”Astaghfirulloh,, ya Alloh,, Astaghfirulloh.. ya Rabb.. maafkan aku ya Alloh..” sesegukan Ali sambil menyeka kedua pipinya.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari dalam masjid menuju teras, kemudian terlihat seorang laki-laki tinggi, berkulit putih dengan tampak jenggot di dagunya memakai kemeja biru yang rapi.
”Assalamu’alaikum akhi, bisa kita lanjutkan Materi Keislaman 3 nya lagi? Teman-teman yang lain sudah pada menunggu”
Ternyata laki-laki yang keluar tadi adalah musyrif kami sekaligus Ketua Lembaga Dakwah Kampus yang selama ini dikenal orang sebagai pemuda yang berwibawa dan bermental baja, ialah kang Yuda Wardhana.
Kepada Seorang Ayah yang berbahagia,
Kubayangkan butir air mata memenuhi pelupuk matamu
saat kau membacakan baris-baris kasih sayang kepada buah hatimu
Kusapa, ada beberapa butir air mata menggantung di sukmaku
hendak menyeruak ke dunia menemani keharuanmu
Tak ada yang dapat kuucapkan hari ini seperti hari kemarin,
aku hanya bisa membisu coba kutulis beberapa kata ungkapan kehormatan kepadamu
yang kini duduk menyaksikan ilham Allah merasuki tulang-tulang tuamu.
Adakah aku akan melihat orang tuaku sebahagia lantunan nyanyian hatimu
yang hendak menempuh tahap tertinggi kodrat manusia?
aku merenung menggores bayangan butiran air matamu y
ang terdorong keluar oleh kebahagiaan
aku berusaha menutupi jalan untuk air mataku yang tak sanggup menahan keharuan
menuntut jalan keluar, mungkin hendak berteman dengan air matamu
[bersambung..]
Terinspirasi sewaktu di bogor-jakarta, awal juli 2010.
Ditulis di Jatinangor, Kampus Unpad, awal September 2010
Sebuah pengantar untuk mereka yang memiliki sahabat
Bagian satu- Bertualang di sebuah Bis Damri
Lihatlah ufuk senja,
Ditemaram langit kelabu,
Merangkak tunduk di atas haribaan,
Seandainya kau ada disini,
Kan ku ajak engkau menari bersama angin senja.
Namun kau tak lagi disana,
Di sini aku menunggumu, sahabat.
Bagian satu-
Bertualang di sebuah Bis Damri
Sore itu, hujan deras mengguyur seisi desa.
”Ayo buruan, li. Nanti hujannya tambah gede!” teriak Aryo.
”Iya, sabar dong mas, kan aku gak bawa payung gede nih” selorohku.
Sore itu, hujan memang tidak seperti biasanya, angin begitu kencang berhembus dari arah barat mengajak menari dedaunan yang berguguran di sepanjang masjid. Pohon-pohon pun seakan bergeser karena menahan laju angin yang begitu kencang. Saat ku lihat masih jam 16.45 wib. Aku dan sahabat baikku, Aryo baru saja beranjak pulang menuju kosan sehabis menghadiri pengajian bersama teman-teman ikhwan lainnya di sebuah masjid tua bernamakan seorang ahli kedokteran yang namanya sampai sekarang masih dipuji-puji, masjid itu bernama Masjid Raya Ibnusina.
Aryo sudah kuanggap saudara sendiri, ia sendiri benar-benar menganggap aku sebagai saudara kembarnya, bahkan lebih dari itu, aku dan ia bagaikan soulmate yang tidak akan pernah terpisahkan oleh budaya, tempat asal dan tradisi. Ia seorang lelaki jawa yang benar-benar ulet, rajin, struggle, ia memiliki perwatakan khas seorang jawa yang memang dikenal seperti itu di mata semua orang. Kami berdua saling mengenal sewaktu aktif menjadi anggota pengurus Lembaga Dakwah Kampus di masjid Unpad Jatinangor. Ada perasaan geli ketika mengingat saat-saat awal pertemuan kami.
Pagi itu, bis Damri Dipati Ukur-Jatinangor berhenti sejenak beberapa meter dari pintu gerbang tol Muhammad Toha-Cileunyi. Satu persatu penjual makanan ringan dan penjual majalah masuk ke dalam bis menawarkan dagangannya.
”Walau pun akhir bulan bertamu, semangat membaca tak pernah jemu. Tilu rebu, tilu rebu, Aril peterpan berlaga di video porno, cut tari pun parno. Pengen cantik dan anggun seperti Inneke Kusherawati,berbelanjalah di toko baju zukhruf muslimah, murah dan berkah. Fernando Torres alami masa paceklik, 3 bulan tak kunjung cetak gol, Steven Gerrard pun resah. Tilu rebu, tilu rebu!” Promosi sang penjual majalah dengan suara kerasnya yang khas dan membuat semua mata tertuju padanya. Tak ada satu pun penumpang yang tertarik untuk membeli majalah bekas tersebut. Akhirnya, sang penjual majalah meninggalkan bis dengan muka masam yang menyeramkan sambil menggerutu.
Aku duduk tepat di barisan bangku kedua dari belakang. Saat pintu otomatis damri mulai menutup, bis pun melaju perlahan.
Tapi tidak lama kemudian, terdengar suara kencang sang konektur yang berteriak dengan bahasa loma (bahasa sunda agak sedikit kasar).
”Heup!!! Heup!!! Eureunkeun heula, Sardun!! Itu budak lalaki rek naek!!” Pintu otomatis pun berdebum terbuka. Lalu ketika menoleh ke arah pintu yang sedang terbuka, ku lihat ada seorang anak muda yang naik tergopoh-gopoh menggandong tas dan membawa koper besar berwarna hitam kecoklatan. Ia kesulitan mengangkat koper besar tadi, dengan sekuat tenaga ia berusaha, akhirnya sang konektur turun dan membantu anak muda tadi menaikkan koper besar tersebut. Ia naik, mukanya pucat, nafasnya pun terengah-engah. Lucu sekali melihat tampilan dan sikap tubuhnya, jelas dia seorang perantau yang baru saja tiba di kota Bandung. Terlihat tatapan lega seorang yang tadinya kebingungan di tempat baru yang ia singgahi.Keningnya penuh dengan keringat, saat itu semua kursi telah terisi penuh, kecuali sebuah kursi tepat disampingku. Ia meminta izin untuk duduk di kursi tadi, setelah duduk ia menoleh ke arahku, ia tersenyum simpul sambil bertanya dengan nada jawa yang khas
”Nuwun sewu mas, numpang tanya. Kalo ini betul ya, bis ke jatinangor?”
"ya, mas. Betul. Ini Bis ke Jatinangor.” Jawabku.
"Alhamdulillah, akhirnya bener juga toh” ungkapnya lega.
"Memang dari mana, mas?” tanyaku.
"Aku dari Jawa Timur, Mas. Dari Madiun tepatnya.” tuturnya masih dengan nada jawa yang khas, apalagi sewaktu lafadz ”J & D” keluar dari
mulutnya. Hihi, lucu banget.
”Unpad ya, mas? Fakultas apa mas? Jurusan apa?” tanyaku lagi.
”ya, mas. Kebetulan aku masuk jurusan Teknik Manajemen Industri Pertanian. Fakultas ini, apa itu, nganu.. ehm... itu loh mas, teknologi
ilmu eee.. eeee.. apa ya?”
”oh, jurusan TMIP ya, itu di Fakultas Teknologi Ilmu Pertanian” sahutku.
”ya, hooh bener, itu maksudku, mas. Lali aku tadi,hehe” ungkapnya polos.
”perkenalkan nama saya Ali. Dari Fakultas MIPA, jurusan Fisika” ucapku sambil mengulurkan tangan kepadanya.
”oh, nje. Namaku Aryo, Aryo Prayogo. Panggil saja Aryo.” Katanya sambil membalas uluran tanganku.
Tak terasa, kami pun bercakap-cakap hingga bis damri pun terisi penuh oleh mereka yang berdiri berdesak-desakan di dalam bis. Tak lama kemudian, bis pun melaju kencang di jalanan yang bebas hambatan, antara bandung dan jatinangor. Sepanjang perjalanan, terlihat hijau pesawahan yang terbentang dari arah barat hingga timur, namun sayang. Pemandangan indah tadi, hilang sekejap ketika bis melewati suatu daerah yang kering gersang, hanya ditumbuhi oleh bangunan pabrik yang mengepulkan asap hitam pekat. Pemandangan ini terus menerus terlihat di sepanjang jalan yang kami lewati, Langit yang biru seakan terbatuk-batuk menghisap polusi asap hitam dan beracun yang berasal karena ketamakan manusia. Atas nama materi, mereka menyakiti alam yang indah ini, atas nama dunia mereka melupakan hakikat keberadaan manusia yang seharusnya saling mengerti. Masya Alloh.
Dua puluh menit kemudian, bis sampai di gerbang tol cileunyi. Pintu otomatis kembali berdebum terbuka, satu persatu penumpang turun dari bis, ada seorang ibu yang menggendong anaknya yang baru berumur satu tahun, sambil menuntun kedua anak laki-lakinya. Lalu giliran seorang kakek tua yang membawa tongkat, mukanya tirus, rambutnya yang penuh uban ditutupi sebuah peci hitam yang sudah luntur di kedua sisinya. Tidak lama kemudian, melintas seorang perempuan muda memakai jilbab warna biru. Ia memakai tas selendang berwarna merah muda yang sedikit terbuka. Tingginya semampai, dengan kerudung putih yang serasi dengan warna jilbabnya. Di belakangnya, tampak seorang laki-laki berkulit gelap mengenakan jaket kulit sewarna dengan warna kulitnya. Ketika sang perempuan akan turun, laki-laki tadi tidak sengaja menabrak kursi kosong yang ada di depan kami sehingga badannya sedikit mengenai perempuan tadi. Laki-laki tadi pun, langsung meminta maaf. Lantas ia berlalu dengan cepat.
Beberapa detik kemudian, Aryo bangkit dari kursinya seraya menunjuk laki-laki yang baru turun tadi, sambil berteriak :
”Cepot,, eh,,, copet!! Hey, hey..copet!!!”
Aku pun tersentak kaget, melihat teman yang baru ku kenal tadi. Dengan cekatannya, ia berlari turun dari bis kemudian menghampiri laki-laki
tadi. Laki-laki tadi diam ketika temanku menghampirinya.
”Hey, pak.. balikin dompetnya.. hayoo,, ta laporin sama pulisi!” selorohnya,
”Apaan kamu, enak aja nuduh. Gak sopan banget kamu!” jawab laki-laki hitam tadi.
”Aku tadi liat, bapak ngambil dompet perempuan itu di damri!” ungkap Aryo lantang.
”Betekok, nuduh kuring maok, nuduh dewek maling?” teriaknya kasar.
Di samping kami, berdiri perempuan berbaju kurung biru, ia berdiri mematung, mungkin sedikit kaget akan situasi yang ada dihadapannya.
Kemudian, aku pun menoleh kepadanya.
”Teh, punten teh. Lekas periksa tasnya, barangkali ada yang hilang.” ucapku padanya.
”oh, iya, afwan, sebentar.” kata perempuan tadi dengan khawatir.
”Masya Alloh. ...” sebelum perempuan itu menyelesaikan perkataanya.
Tiba-tiba sebuah tinju keras mendarat di pipi kiri temanku.
”hiyaaah... paeh maneh!” teriak laki-laki itu sambil menghujamkan tangannya ke arah temanku. Tubuh kurus Aryo pun tumbang, seketika itu suasana mulai tak karuan. Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu, berteriak histeris, termasuk sang perempuan berbaju kurung biru.
”arrrrgghhhh!!!! Astaghfirulloh,,” nadanya cemas. Refleks, aku pun meninju balik laki-laki tadi, meski pun dengan dada yang berdebar-debar dan tak karuan. Laki-laki tadi ternyata masih tegar, hanya hidungnya mengucurkan darah merah. Kemudian ia mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat jantungku berdegup sepuluh kali lipat. Ia mengeluarkan sebilah pisau belati dari jaket kulit hitamnya. Ia mengancam siapa saja yang berusaha mengepungnya. Tak ada satu pun dari kerumunan orang yang berani maju menghadapi laki-laki seram itu. Rasa-rasanya jantung ini berdetak makin kencang, dua puluh kali dari biasanya. Matanya agak sedikit teler, tercium bau alkohol ketika dia berteriak-teriak tidak karuan, mencaci maki Aryo dan semua orang yang ada di sekelilingnya.
”Maju selangkah, ku hunuskan pisau ini sama anak ini!” teriaknya lagi sambil mengarahkan pisau ke arah Aryo yang masih tergeletak di
atas aspal. Seorang bapak-bapak setengah baya berucap dengan nada khawatir.
”jang, jang. Eling jang, ulah nyiar-nyiar picilakaeun! Enggeus, bapak mah kaweur ningali na ge. Ulah sologoto kawas kitu! (nak, nak.
Sadar, nak. Jangan cari-cari masalah! Sudahlah, bapak khawatir lihatnya. Jangan bertindak sembarangan kaya gitu!)”
Laki-laki yang sedang dilanda kenekatan itu pun, makin menjadi-jadi. Meski pun dia teler, tapi tatapannya tajam, matanya merah, seperti mata setan. Namun, dengan biusan alkohol, laki-laki itu berjalan sedikit sempoyongan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya makin kotor, jijik dan tidak enak didengar bahkan oleh preman sekali pun. Namun, situasi ini tak lama. Ketika tangan sang laki-laki hitam itu mengayun-ayun, mengancam siapa saja yang mendekat, tak lama kemudian dari bawah tampak sebuah sepatu hitam yang mengayun ke arah betis laki-laki hitam itu. Sepatu itu berasal dari kaki sahabatku, Aryo yang tadi tergeletak. Tak ayal, tendangan sleding membuat si penjahat tadi rubuh seketika.
”Brukkk!!” terdengar debum jatuh disertai suara raungan si penjahat. Suaranya mengerikan, seperti auman singa yang sedang diterkam kawanan singa lainnya. Sebelum ia bangkit, Aryo pun dengan cekatan menendang tangan si penjahat yang sedang menghunuskan pisau belati. Pisau pun terlempar sejauh dua meter. Aku dan semua yang melihat pun mendekati kedua orang yang sedang berperang itu dan langsung memegangi si penjahat. Situasi pun sedikit aman terkendali. Barulah datang tiga orang berseragam coklat abu-abu berlari dari arah terminal.
”Semuanya menyingkir, ada apa ini? Ada apa ribut-ribut kayak gini?” ujar salah seorang dari mereka.
”Kamana wungkul atuh, pak. Aya copet teh lakah cicing wae?” kata seorang ibu yang dari awal menyaksikan kejadian aneh itu.
”Oh, copet nyak. Nya enggeus weh, kadaritu, kadaritu. Awas, ku kami urang uruskeun nu kieu mah! (Oh, copet ya. Ya sudah, semuanya
bubar. Kami akan menanganinya!). Selepas kedatangan petugas yang datang terlambat, situasi pun mulai kembali dingin. Si penjahat,
akhirnya digiring ke pos penjagaan yang tidak jauh dari terminal.
Aku pun melihat Aryo yang sedang menutupi hidungnya yang berdarah, dan penuh debu.
”Astaghfirulloh, yo. Kamu gak apa-apa?” tanyaku sambil melihat luka di wajahnya.
”oh, ndak apa-apa toh mas, ini sih biasa.” ucapnya datar sambil mengeluarkan sebuah dompet berwarna pink.
”Mbak, ini dompetnya.” katanya.
”Masya Alloh, Syukron. Afwan jiddan, karena kecerobohan saya, mas jadi babak belur seperti ini?” jawab perempuan berjilbab biru, masih
dengan nada cemas dan khawatir.
”Sama-sama, mbak. Lain kali musti hati-hati kalo simpen dompetnya ya, mbak?” ucap Aryo.
”Saya antar ke AMC ya, kita obati luka masnya?” kata perempuan berjilbab biru.
”Ndak usah, mbak. Watur nuwun, ndak apa-apa kok. Cuman sedikit memar, dibiarkan sehari juga sembuh.”
”Afwan ya, sekali lagi afwan. Nama saya Kaviani. salam kenal. ”
”Saya Aryo Prayogo. Salam kenal juga” kata Aryo. Kemudian perempuan itu menolehku, alisnya sedikit terangkat.
”Oh, iya. Nama saya Ali.” ujarku kaget.
”Sekali lagi syukron jazakalloh semuanya” ucap perempuan itu.
”Saya mohon pamit, sedang terburu-buru.”
Kami berdua pun mengangguk.
”Assalamu’alaikum”
”wa alaikumussalam warrohmatulloh” serentak kami menjawab.
Itulah cerita singkat awal perjumpaan kami. sedikita aneh memang, baru saja bertemu sudah dimulai dengan petualangan yang membuat geli. Awal perjumpaan yang berlanjut dengan kisah-kisah persahabatan dalam dakwah. Kisah-kisah yang penuh dengan haru, tangis dan tawa. Ternyata memliki seorang teman adalah sebuah anugerah. Apalagi memiliki seorang sahabat. Sahabat sejati, yang akan menjadi pelipur lara dikala gundah datang, dikala asa ditepian jurang, dikala risau mengacau. Itulah makna sahabat.
(bersambung ke bagian II)
Pertemuan kita kali ini
Bukan sekedar kawan lama tak jumpa
Tapi kita bertemu ada satu makna
Kita punya satu perjuangan
Sambutlah tangan sahabat saudaramu
Pimpinlah ia melangkah bersama
Satukan hati kita teguhkan ia
Berdiri bersama untuk kebenaran
Sahabat Perjuangan
-Tazzaka-
Ditemaram langit kelabu,
Merangkak tunduk di atas haribaan,
Seandainya kau ada disini,
Kan ku ajak engkau menari bersama angin senja.
Namun kau tak lagi disana,
Di sini aku menunggumu, sahabat.
Bagian satu-
Bertualang di sebuah Bis Damri
Sore itu, hujan deras mengguyur seisi desa.
”Ayo buruan, li. Nanti hujannya tambah gede!” teriak Aryo.
”Iya, sabar dong mas, kan aku gak bawa payung gede nih” selorohku.
Sore itu, hujan memang tidak seperti biasanya, angin begitu kencang berhembus dari arah barat mengajak menari dedaunan yang berguguran di sepanjang masjid. Pohon-pohon pun seakan bergeser karena menahan laju angin yang begitu kencang. Saat ku lihat masih jam 16.45 wib. Aku dan sahabat baikku, Aryo baru saja beranjak pulang menuju kosan sehabis menghadiri pengajian bersama teman-teman ikhwan lainnya di sebuah masjid tua bernamakan seorang ahli kedokteran yang namanya sampai sekarang masih dipuji-puji, masjid itu bernama Masjid Raya Ibnusina.
Aryo sudah kuanggap saudara sendiri, ia sendiri benar-benar menganggap aku sebagai saudara kembarnya, bahkan lebih dari itu, aku dan ia bagaikan soulmate yang tidak akan pernah terpisahkan oleh budaya, tempat asal dan tradisi. Ia seorang lelaki jawa yang benar-benar ulet, rajin, struggle, ia memiliki perwatakan khas seorang jawa yang memang dikenal seperti itu di mata semua orang. Kami berdua saling mengenal sewaktu aktif menjadi anggota pengurus Lembaga Dakwah Kampus di masjid Unpad Jatinangor. Ada perasaan geli ketika mengingat saat-saat awal pertemuan kami.
Pagi itu, bis Damri Dipati Ukur-Jatinangor berhenti sejenak beberapa meter dari pintu gerbang tol Muhammad Toha-Cileunyi. Satu persatu penjual makanan ringan dan penjual majalah masuk ke dalam bis menawarkan dagangannya.
”Walau pun akhir bulan bertamu, semangat membaca tak pernah jemu. Tilu rebu, tilu rebu, Aril peterpan berlaga di video porno, cut tari pun parno. Pengen cantik dan anggun seperti Inneke Kusherawati,berbelanjalah di toko baju zukhruf muslimah, murah dan berkah. Fernando Torres alami masa paceklik, 3 bulan tak kunjung cetak gol, Steven Gerrard pun resah. Tilu rebu, tilu rebu!” Promosi sang penjual majalah dengan suara kerasnya yang khas dan membuat semua mata tertuju padanya. Tak ada satu pun penumpang yang tertarik untuk membeli majalah bekas tersebut. Akhirnya, sang penjual majalah meninggalkan bis dengan muka masam yang menyeramkan sambil menggerutu.
Aku duduk tepat di barisan bangku kedua dari belakang. Saat pintu otomatis damri mulai menutup, bis pun melaju perlahan.
Tapi tidak lama kemudian, terdengar suara kencang sang konektur yang berteriak dengan bahasa loma (bahasa sunda agak sedikit kasar).
”Heup!!! Heup!!! Eureunkeun heula, Sardun!! Itu budak lalaki rek naek!!” Pintu otomatis pun berdebum terbuka. Lalu ketika menoleh ke arah pintu yang sedang terbuka, ku lihat ada seorang anak muda yang naik tergopoh-gopoh menggandong tas dan membawa koper besar berwarna hitam kecoklatan. Ia kesulitan mengangkat koper besar tadi, dengan sekuat tenaga ia berusaha, akhirnya sang konektur turun dan membantu anak muda tadi menaikkan koper besar tersebut. Ia naik, mukanya pucat, nafasnya pun terengah-engah. Lucu sekali melihat tampilan dan sikap tubuhnya, jelas dia seorang perantau yang baru saja tiba di kota Bandung. Terlihat tatapan lega seorang yang tadinya kebingungan di tempat baru yang ia singgahi.Keningnya penuh dengan keringat, saat itu semua kursi telah terisi penuh, kecuali sebuah kursi tepat disampingku. Ia meminta izin untuk duduk di kursi tadi, setelah duduk ia menoleh ke arahku, ia tersenyum simpul sambil bertanya dengan nada jawa yang khas
”Nuwun sewu mas, numpang tanya. Kalo ini betul ya, bis ke jatinangor?”
"ya, mas. Betul. Ini Bis ke Jatinangor.” Jawabku.
"Alhamdulillah, akhirnya bener juga toh” ungkapnya lega.
"Memang dari mana, mas?” tanyaku.
"Aku dari Jawa Timur, Mas. Dari Madiun tepatnya.” tuturnya masih dengan nada jawa yang khas, apalagi sewaktu lafadz ”J & D” keluar dari
mulutnya. Hihi, lucu banget.
”Unpad ya, mas? Fakultas apa mas? Jurusan apa?” tanyaku lagi.
”ya, mas. Kebetulan aku masuk jurusan Teknik Manajemen Industri Pertanian. Fakultas ini, apa itu, nganu.. ehm... itu loh mas, teknologi
ilmu eee.. eeee.. apa ya?”
”oh, jurusan TMIP ya, itu di Fakultas Teknologi Ilmu Pertanian” sahutku.
”ya, hooh bener, itu maksudku, mas. Lali aku tadi,hehe” ungkapnya polos.
”perkenalkan nama saya Ali. Dari Fakultas MIPA, jurusan Fisika” ucapku sambil mengulurkan tangan kepadanya.
”oh, nje. Namaku Aryo, Aryo Prayogo. Panggil saja Aryo.” Katanya sambil membalas uluran tanganku.
Tak terasa, kami pun bercakap-cakap hingga bis damri pun terisi penuh oleh mereka yang berdiri berdesak-desakan di dalam bis. Tak lama kemudian, bis pun melaju kencang di jalanan yang bebas hambatan, antara bandung dan jatinangor. Sepanjang perjalanan, terlihat hijau pesawahan yang terbentang dari arah barat hingga timur, namun sayang. Pemandangan indah tadi, hilang sekejap ketika bis melewati suatu daerah yang kering gersang, hanya ditumbuhi oleh bangunan pabrik yang mengepulkan asap hitam pekat. Pemandangan ini terus menerus terlihat di sepanjang jalan yang kami lewati, Langit yang biru seakan terbatuk-batuk menghisap polusi asap hitam dan beracun yang berasal karena ketamakan manusia. Atas nama materi, mereka menyakiti alam yang indah ini, atas nama dunia mereka melupakan hakikat keberadaan manusia yang seharusnya saling mengerti. Masya Alloh.
Dua puluh menit kemudian, bis sampai di gerbang tol cileunyi. Pintu otomatis kembali berdebum terbuka, satu persatu penumpang turun dari bis, ada seorang ibu yang menggendong anaknya yang baru berumur satu tahun, sambil menuntun kedua anak laki-lakinya. Lalu giliran seorang kakek tua yang membawa tongkat, mukanya tirus, rambutnya yang penuh uban ditutupi sebuah peci hitam yang sudah luntur di kedua sisinya. Tidak lama kemudian, melintas seorang perempuan muda memakai jilbab warna biru. Ia memakai tas selendang berwarna merah muda yang sedikit terbuka. Tingginya semampai, dengan kerudung putih yang serasi dengan warna jilbabnya. Di belakangnya, tampak seorang laki-laki berkulit gelap mengenakan jaket kulit sewarna dengan warna kulitnya. Ketika sang perempuan akan turun, laki-laki tadi tidak sengaja menabrak kursi kosong yang ada di depan kami sehingga badannya sedikit mengenai perempuan tadi. Laki-laki tadi pun, langsung meminta maaf. Lantas ia berlalu dengan cepat.
Beberapa detik kemudian, Aryo bangkit dari kursinya seraya menunjuk laki-laki yang baru turun tadi, sambil berteriak :
”Cepot,, eh,,, copet!! Hey, hey..copet!!!”
Aku pun tersentak kaget, melihat teman yang baru ku kenal tadi. Dengan cekatannya, ia berlari turun dari bis kemudian menghampiri laki-laki
tadi. Laki-laki tadi diam ketika temanku menghampirinya.
”Hey, pak.. balikin dompetnya.. hayoo,, ta laporin sama pulisi!” selorohnya,
”Apaan kamu, enak aja nuduh. Gak sopan banget kamu!” jawab laki-laki hitam tadi.
”Aku tadi liat, bapak ngambil dompet perempuan itu di damri!” ungkap Aryo lantang.
”Betekok, nuduh kuring maok, nuduh dewek maling?” teriaknya kasar.
Di samping kami, berdiri perempuan berbaju kurung biru, ia berdiri mematung, mungkin sedikit kaget akan situasi yang ada dihadapannya.
Kemudian, aku pun menoleh kepadanya.
”Teh, punten teh. Lekas periksa tasnya, barangkali ada yang hilang.” ucapku padanya.
”oh, iya, afwan, sebentar.” kata perempuan tadi dengan khawatir.
”Masya Alloh. ...” sebelum perempuan itu menyelesaikan perkataanya.
Tiba-tiba sebuah tinju keras mendarat di pipi kiri temanku.
”hiyaaah... paeh maneh!” teriak laki-laki itu sambil menghujamkan tangannya ke arah temanku. Tubuh kurus Aryo pun tumbang, seketika itu suasana mulai tak karuan. Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu, berteriak histeris, termasuk sang perempuan berbaju kurung biru.
”arrrrgghhhh!!!! Astaghfirulloh,,” nadanya cemas. Refleks, aku pun meninju balik laki-laki tadi, meski pun dengan dada yang berdebar-debar dan tak karuan. Laki-laki tadi ternyata masih tegar, hanya hidungnya mengucurkan darah merah. Kemudian ia mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat jantungku berdegup sepuluh kali lipat. Ia mengeluarkan sebilah pisau belati dari jaket kulit hitamnya. Ia mengancam siapa saja yang berusaha mengepungnya. Tak ada satu pun dari kerumunan orang yang berani maju menghadapi laki-laki seram itu. Rasa-rasanya jantung ini berdetak makin kencang, dua puluh kali dari biasanya. Matanya agak sedikit teler, tercium bau alkohol ketika dia berteriak-teriak tidak karuan, mencaci maki Aryo dan semua orang yang ada di sekelilingnya.
”Maju selangkah, ku hunuskan pisau ini sama anak ini!” teriaknya lagi sambil mengarahkan pisau ke arah Aryo yang masih tergeletak di
atas aspal. Seorang bapak-bapak setengah baya berucap dengan nada khawatir.
”jang, jang. Eling jang, ulah nyiar-nyiar picilakaeun! Enggeus, bapak mah kaweur ningali na ge. Ulah sologoto kawas kitu! (nak, nak.
Sadar, nak. Jangan cari-cari masalah! Sudahlah, bapak khawatir lihatnya. Jangan bertindak sembarangan kaya gitu!)”
Laki-laki yang sedang dilanda kenekatan itu pun, makin menjadi-jadi. Meski pun dia teler, tapi tatapannya tajam, matanya merah, seperti mata setan. Namun, dengan biusan alkohol, laki-laki itu berjalan sedikit sempoyongan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya makin kotor, jijik dan tidak enak didengar bahkan oleh preman sekali pun. Namun, situasi ini tak lama. Ketika tangan sang laki-laki hitam itu mengayun-ayun, mengancam siapa saja yang mendekat, tak lama kemudian dari bawah tampak sebuah sepatu hitam yang mengayun ke arah betis laki-laki hitam itu. Sepatu itu berasal dari kaki sahabatku, Aryo yang tadi tergeletak. Tak ayal, tendangan sleding membuat si penjahat tadi rubuh seketika.
”Brukkk!!” terdengar debum jatuh disertai suara raungan si penjahat. Suaranya mengerikan, seperti auman singa yang sedang diterkam kawanan singa lainnya. Sebelum ia bangkit, Aryo pun dengan cekatan menendang tangan si penjahat yang sedang menghunuskan pisau belati. Pisau pun terlempar sejauh dua meter. Aku dan semua yang melihat pun mendekati kedua orang yang sedang berperang itu dan langsung memegangi si penjahat. Situasi pun sedikit aman terkendali. Barulah datang tiga orang berseragam coklat abu-abu berlari dari arah terminal.
”Semuanya menyingkir, ada apa ini? Ada apa ribut-ribut kayak gini?” ujar salah seorang dari mereka.
”Kamana wungkul atuh, pak. Aya copet teh lakah cicing wae?” kata seorang ibu yang dari awal menyaksikan kejadian aneh itu.
”Oh, copet nyak. Nya enggeus weh, kadaritu, kadaritu. Awas, ku kami urang uruskeun nu kieu mah! (Oh, copet ya. Ya sudah, semuanya
bubar. Kami akan menanganinya!). Selepas kedatangan petugas yang datang terlambat, situasi pun mulai kembali dingin. Si penjahat,
akhirnya digiring ke pos penjagaan yang tidak jauh dari terminal.
Aku pun melihat Aryo yang sedang menutupi hidungnya yang berdarah, dan penuh debu.
”Astaghfirulloh, yo. Kamu gak apa-apa?” tanyaku sambil melihat luka di wajahnya.
”oh, ndak apa-apa toh mas, ini sih biasa.” ucapnya datar sambil mengeluarkan sebuah dompet berwarna pink.
”Mbak, ini dompetnya.” katanya.
”Masya Alloh, Syukron. Afwan jiddan, karena kecerobohan saya, mas jadi babak belur seperti ini?” jawab perempuan berjilbab biru, masih
dengan nada cemas dan khawatir.
”Sama-sama, mbak. Lain kali musti hati-hati kalo simpen dompetnya ya, mbak?” ucap Aryo.
”Saya antar ke AMC ya, kita obati luka masnya?” kata perempuan berjilbab biru.
”Ndak usah, mbak. Watur nuwun, ndak apa-apa kok. Cuman sedikit memar, dibiarkan sehari juga sembuh.”
”Afwan ya, sekali lagi afwan. Nama saya Kaviani. salam kenal. ”
”Saya Aryo Prayogo. Salam kenal juga” kata Aryo. Kemudian perempuan itu menolehku, alisnya sedikit terangkat.
”Oh, iya. Nama saya Ali.” ujarku kaget.
”Sekali lagi syukron jazakalloh semuanya” ucap perempuan itu.
”Saya mohon pamit, sedang terburu-buru.”
Kami berdua pun mengangguk.
”Assalamu’alaikum”
”wa alaikumussalam warrohmatulloh” serentak kami menjawab.
Itulah cerita singkat awal perjumpaan kami. sedikita aneh memang, baru saja bertemu sudah dimulai dengan petualangan yang membuat geli. Awal perjumpaan yang berlanjut dengan kisah-kisah persahabatan dalam dakwah. Kisah-kisah yang penuh dengan haru, tangis dan tawa. Ternyata memliki seorang teman adalah sebuah anugerah. Apalagi memiliki seorang sahabat. Sahabat sejati, yang akan menjadi pelipur lara dikala gundah datang, dikala asa ditepian jurang, dikala risau mengacau. Itulah makna sahabat.
(bersambung ke bagian II)
Pertemuan kita kali ini
Bukan sekedar kawan lama tak jumpa
Tapi kita bertemu ada satu makna
Kita punya satu perjuangan
Sambutlah tangan sahabat saudaramu
Pimpinlah ia melangkah bersama
Satukan hati kita teguhkan ia
Berdiri bersama untuk kebenaran
Sahabat Perjuangan
-Tazzaka-
Jumat, 20 Agustus 2010
Bagaimana Mungkin Doa Kita dikabulkan ?
Al-Qadliy berkata, “Hadits dibawah ini merupakan salah satu pilar agama Islam dan tonggak dari hukum-hukum Islam. Ada 40 hadits yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hadits ini. Di dalam hadits ini ada perintah kepada kaum muslim untuk berinfak dengan yang rejeki halal, serta larangan untuk berinfak dengan rejeki yang haram. Hadits ini juga menerangkan, bahwa minuman, makanan, pakaian, dan lain-lain harus halal dan terjauh dari syubhat; dan siapa saja yang berdoa hendaknya ia memenuhi syarat-syarat tersebut, dan menjauhi minuman, makanan, dan pakaian yang haram.”[1]
Imam al-Hafidz Abu al-’Ala al-Mubarakfuriy, dalam Tuhfat al-Ahwadziy, menyatakan bahwa makna hadits ini adalah, Allah swt suci dari noda, dan tidak akan menerima dan tidak boleh mendekatkan diri kepadaNya, kecuali sejalan dengan makna hadits tersebut.[2]
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik (thayyib), dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukmin sebagaimana halnya Ia memerintah para Rasul. Kemudian, Ia berfirman, “Wahai para Rasul, makanlah dari rejeki yang baik-baik, dan berbuat baiklah kalian. Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang engkau ketahui.” Selanjutnya, beliau bercerita tentang seorang laki-laki yang berada di dalam perjalanan yang sangat panjang, hingga pakaiannya lusuh dan berdebu. Laki-laki itu lantas menengadahkan dua tangannya ke atas langit dan berdoa, “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku..”, sementara itu makanan yang dimakannya adalah haram, minuman yang diminumnya adalah haram, dan pakaian yang dikenakannya adalah haram; dan ia diberi makanan dengan makanan-makanan yang haram. Lantas, bagaimana mungkin doanya dikabulkan?.”. [HR. Muslim]
Kamis, 19 Agustus 2010
Sayyid Qutb : Mutiara Umat, Mutiara Peradaban
Ulama, da’i, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar ikhlash kepadaNya, sentiasa ditempatkan Allah sangat tinggi dan mulia di hati segenap manusia.
Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah Syuhada (insya Allah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal Beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh. Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966).
Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita:
Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami.
Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apapun kami harus bias mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.
Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina.
Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami mempersaksikan para ‘pengkhianat’ ini sentiasa menjaga shalat mereka, bahkan sentiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berdzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.
Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah sementar ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.
Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agamanya adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah?
Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan. Dengan ijin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘pengkhianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Qutb.
Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung.
Malam itu seorang sheikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.
(Sheikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah…”. Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Sheikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah”. Pent)
Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun dan tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap.
Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menempati posisinya dengan senjata siap. Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher Beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi.
Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.
Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.
Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.
Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”
(Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”. Pent)
Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.
Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”
Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!”
Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.
Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Qutb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya… Mereka mengucapkan, “Laa ilaha illah Allah, Muhammad Rasulullah…”
Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hambaNya yang sholeh. Aku sentiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.
Diambil dari kumpulan kisah: “Mereka yang kembali kepada Allah”
Oleh: Muhammad Abdul Aziz Al Musnad
Diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Amin Taufiq.
Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah Syuhada (insya Allah) Sayyid Qutb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya yang dilakukan dengan cara digantung, memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal Beliau atau menyaksikan sikapnya yang teguh. Di antara mereka yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah dua orang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya (di tahun 1966).
Salah seorang polisi itu mengetengahkan kisahnya kepada kita:
Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan merubah total kehidupan kami.
Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahwa orang-orang itu adalah para pengkhianat negara yang telah bekerja sama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apapun kami harus bias mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apapun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.
Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahwa kami tengah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerja sama dengan Yahudi hina.
Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami mempersaksikan para ‘pengkhianat’ ini sentiasa menjaga shalat mereka, bahkan sentiasa berusaha menjaga dengan teguh qiyamullail setiap malam, dalam keadaan apapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka sentiasa berdzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.
Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah sementar ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyum di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.
Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agamanya adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah?
Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan. Dengan ijin Allah, tugas saya di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahwa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan ‘pengkhianat’ itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh makar jahat mereka. Namanya Sayyid Qutb.
Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke Pengadilan Militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung.
Malam itu seorang sheikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.
(Sheikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa ilaha illa Allah…”. Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Sheikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Laa ilaha illa Allah, sementara engkau mencari makan dengan Laa ilaha illa Allah”. Pent)
Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun dan tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentara bersenjata lengkap.
Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentara menempati posisinya dengan senjata siap. Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher Beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi.
Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap tsabat dan shabr, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Surga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para Shahabat. Tausiyah ini kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.
Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.
Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda akan diampuni”.
Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata, “Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja… Aku bersalah dan aku minta maaf…”
(Hal serupa pernah terjadi ketika Ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rejim thowaghit Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekedar mengajukan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Jamal Abdul Naser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Telunjuk yang sentiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalatnya, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rejim thowaghit…”. Pent)
Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa Beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan Akhirat yang abadi”.
Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, “Tetapi Sayyid, itu artinya kematian…”
Ustadz Sayyid Qutb berkata tenang, “Selamat datang kematian di Jalan Allah… Sungguh Allah Maha Besar!”
Aku menyaksikan seluruh episode ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.
Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Qutb beserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selama-lamanya… Mereka mengucapkan, “Laa ilaha illah Allah, Muhammad Rasulullah…”
Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hambaNya yang sholeh. Aku sentiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.
Diambil dari kumpulan kisah: “Mereka yang kembali kepada Allah”
Oleh: Muhammad Abdul Aziz Al Musnad
Diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Amin Taufiq.
Kemana engkau akan melangkah?
Mengapa dan untuk apa kita ada?
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Pernahkah kita merenungkan mengapa kita ada? Mengapa kita hidup di dunia ini?
Apakah kerena keinginan dan rencana-rencana kita sehingga kita ada? Tidak, kita tidak mungkin dapat menginginkan dan merencanakan karena kita belum ada.
Lalu, apakah karena keinginan dan rencana kedua orang tua kita? Bukan juga, berapa banyak pasangan suami istri yang menginginkan dikarunia anak tetapi belum juga diberi. Adanya kita bukan atas kehendak kita, bukan juga karena kehendak orang tua kita, lantas atas kehendak siapa?
Allah ta’ala menjelaskan dalam Al-Quran yang mulia
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاء إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّى وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya” (Al-Hajj: 5)
Ya, adanya kita, adanya manusia, adanya jin, adanya alam semesta ini karena kehendak dan rencana Allah. Lantas, adanya kita tentu bukan karena Allah kurang kerjaan, iseng, atau hanya main-main saja, Allah menegaskan hal ini sebagaimana firman-Nya
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ
“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main” (Al-Anbiya: 16)
Allah menerangkan bahwa Dia ingin menguji para hamba-Nya, siapa yang taat dan siapa yang durhaka, jadi kehidupan di dunia kita adalah untuk ujian! Sadarkah kita? Mengapa kalau UAN, kalau SPMB, begitu disiapkan dengan betul, sementara ujian yang paling besar terkadang kita lupa, atau pura-pura lupa, atau yang lebih parah lagi kelau kita tidak tau bahwa hidup kita untuk diuji! Mereka hidup seperti binatang, mereka hanya mengenyangkan perut dan apa yang di bawahnya, mengumpulkan harta, berbangga-bangga dengan dunia, lalu mati! Allah menjelaskan
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"[Dialah Allah] Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al-Mulk:2)
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Betul bahwa kehidupan adalah ujian kita, Allah akan menguji kebaikan amalan kita. Mengapa Allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya? tetapi Allah mengatakan yang paling baik amalnya. Dijelaskan oleh Fudhail bin Iyadh bahwa yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling sesuai dengan contoh karena amalan tidak akan diterima kecuali ikhlas karena Allah dan sesuai dengan contoh Nabi shalallahu’alaihi wa sallam. Kalau begitu, penting sekali seseorang harus ngaji, harus belajar ilmu syar’i karena tidak mungkin kita mengetahui materi ujian, mengetahui apa-apa yang dilarang dan apa-apa yang diperintahkan kecuali dengan menuntut ilmu syar’i. Bagaimana kalau seseorang ikut ujian tetapi tidak mau tahu materi ujiannya?
Surga dan Neraka, yakinkah kita?
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Mengapa beberapa waktu yang lalu ketika diskusi tentang poligami, kita begitu yakin dan bersemangat membela ayat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi tentang syariat poligami; mengapa ketika diskusi tentang Ahmadiyah, kita begitu lantang mengatakan bahwa dalam surat Al-Ahzab ayat 40: “Khootaman Nabiyyin” maknanya adalah penutup para Nabi, tetapi,…mengapa kita jarang mengungkit-ungkit ayat dan hadits tentang surga dan neraka? Apakah kita lupa atau pura-pura lupa sehingga topik ini jarang kita pelajari?
Seringkali kita lupa diri, tidak tahu diri, sehingga kita lupa dengan tujuan hidup ini, yakni ujian! Untuk mengingatkan kembali untuk apa kita di dunia ini, saya bawakan hadits-hadits tentang surga dan neraka
Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda
“Surga dan neraka telah diperlihatkan kepadaku, maka aku belum pernah memandang hari yang lebih banyak mengandung kebaikan sekaligus keburukan daripada hari ini. Kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” Anas bin Malik melanjutkan, “Tidak ada hari setelah itu yang lebih berat bagi para Sahabat dibandingkan dengan hari tersebut. Pada hari itu, mereka semua menutup kepalanya sambil terisak-isak karena tangisan” (HR Bukhari dan Muslim)
Bagaimana saudaraku? Apakah hatimu tergetar mendengar hadits ini? Kalau seandainya tidak, maka engkau adalah manusia yang sangat perlu untuk dikasihani, bagaimana tidak? Para sahabat yang jiwa, raga dan hartanya telah mereka curahkan untuk membela dan memperjuangkan Islam, dengan ketakwaannya mereka adalah manusia yang sangat takut kalau-kalau akhir kehidupan mereka di neraka. Sementara kita….? Apa yang telah kita persiapkan? Apa yang telah kita berikan untuk Islam dan kaum muslimin? Mereka dihina, dimusuhi, dilempari, diusir dari kampung halaman, disiksa seperti Bilal, lantas…pernahkah kita mengalami hal seperti itu?
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Demi Allah, kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit bersenang-senang dan banyak menangis, dan kalian juga tidak akan bersenang-senang terus di atas ranjang dengan istri kalian, lalu kalian akan keluar menuju ke pegunungan (tempat menyepi) untuk beribadah kepada Allah” Abu Dzar berkata, “Sampai-sampai aku menginginkan kalau diriku hanyalah pohon yang tumbang” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad yang hasan)
Begitulah, begitu mengerikannya ketika kita dihisab di akhirat, hanya ada 2 pilihan, surga atau neraka, sampai-sampai Abu Dzar, seorang sahabat Nabi yang keimanan dan amalnya tidak kita ragukan, membela Nabi, membela Islam…, beliau kalau diminta memilih daripada dihisab, beliau memilih menjadi sebatang pohon karena pohon tidak ada beban yang harus dipertanggungjawabkan. Bagaimana dengan kita? Apa yang sudah kita siapkan untuk hari perhitungan nanti? Apakah kita sudah menyiapkan amalan-amalan kebaikan? Apakah kita sudah berprinsip bahwa “waktu adalah ibadah”, atau malah selama ini kita hanya membuang-buang waktu dengan sesuatu yang kurang bermanfaat atau bahkan diisi dengan dosa dan kemaksiatan?!
Allah menjanjikan bagi hambanya yang taat akan diberi balasan yang tiada taranya di Surga kelak. Surga merupakan tempat yang tidak ada di dalamnya kecuali kenikmatan, dan kenikmatan yang paling nikmat adalah melihat wajah Allah, dzat yang selama ini kita bergantung kepadanya, dzat yang ketika kita sakit kita memohon kepada-Nya agar disembuhkan, dzat yang ketika kita kekurangan kita memohon kepadanya, dzat yang apabila kita mendapat nikmat kita bersyukur kepada-Nya, dzat yang selalu kita mohon kebaikan-kebaikan kepada-Nya.
Kita adalah perantau …
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Bayangkan jika kita dalam sebuah perjalanan untuk menuju suatu pulau-kampung halaman kita. Kemudian dalam perjalanan melewati sebuah pulau kecil, nahkoda memerintahkan agar para penumpang singgah 3 hari untuk mengumpulkan bekal berupa makanan dan minuman. Kemudian kita masuk hutan untuk mengumpulkan bekal. Setiap penumpang bertanggung jawab masing-masing dan tidak dapat saling berbagi bekal, nafsi..nafsi. Semuanya memikirkan keselamatan masing-masing karena begitu berat perjalanan bahkan seorang bapak tidak mungkin mau berbagi bekal dengan istri dan anak-anaknya, seorang ibu juga tidak akan mau berbagi bekal kepada anaknya, masing-masing sangat membutuhkan bekal tersebut untuk keselamatannya.
Apa yang akan engkau lakukan dalam 3 hari tersebut? Tentu engkau akan memanfaatkan waktu yang hanya 3 hari untuk mencari makanan, mencari buah-buahan dan air segar untuk bekal perjalanan karena perjalanan masih jauh. Tetapi tidak semua seperti itu saudaraku, banyak diantara mereka malah bersenang-senang di pulau kecil tersebut, membuat rumah bahkan ditingkat, bersenang-senang sampai lupa bahwa mereka akan kembali melanjutkan perjalanan sehingga harus mengumpulkan bekal yang cukup untuk sampai ke pulau kampung asal kita. Ketika nahkoda mengumumkan agar semua penumpang naik ke kapal karena perjalanan akan dilanjutkan, apa yang terjadi? Sebagian penumpang mengumpulkan bekal yang cukup, sebagian hanya sedikit saja, dan sebagian lagi lupa untuk pulang ke kampung halaman-mereka malah bersenang-senang di pulau tersebut, membuat rumah bertingkat, membuat sawah yang luas, beternak binatang dan lain sebagainya. Orang yang mengumpulkan bekal cukup maka akan sampai ke kampung asal dengan selamat, orang yang mengumpulkan bekal sedikit akan sakit-sakitan di perjalanan bahkan bisa jadi meinggal dunia, adapun orang yang lupa akan perjalanan akan tinggal dipulau kecil tersebut dan tidak akan pernah kembali ke kampung asalnya. Kemudian tersiar kabar bahwa Pulau kecil tersebut ternyata pada hari ke 7 sudah hilang tersapu tsunami!
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Hakikatnya kita semua adalah perantau, kita hanya singgah sebentar di dunia ini. Ingatlah saudaraku, kampung halaman kita adalah di Surga, kakek moyang kita asalnya tinggal di surga. Bukankah Adam ‘alaihissalam asalnya tinggal di surga? Kalau kita tidak dapat pulang ke surga, berarti kita telah terlena seperti penumpang yang bersenang-senang dipulau kecil tersebut.
Saudaraku, saya sampaikan wasiat yang wasiat ini juga merupakan wasiat Nabi shalallahu’alaihi wa sallam dan Sahabatnya yang mulia, Ibnu Umar radhiallahu’anhuma
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمنْكبيَّ فَقَالَ: (كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ) وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ. وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لمَوْتِكَ
Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata:
”Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam pernah memegang pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau pegembara’. Ibnu Umar radhiallahu’anhuma berkata, “Apabila kamu berada pada waktu sore janganlah kamu menunggu pagi hari, dan jika kamu berada pada waktu pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang kematianmu’ (HR. Bukhari, Hadits Arbain An-Nawawiyah No.40)
Demikianlah wasiat Nabi shalallahu’alaihi wa sallam dan juga wasiat sahabat Ibnu Umar radhiallahu’anhuma.
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Agar engkau tidak tersesat, agar engkau dapat pulang ke kampung halaman-yakni ke Surga, maka engkau harus mempelajari agama ini dengan serius. Untuk urusan kuliah saja engkau dapat serius, berapa banyak waktu, fikiran, tenaga dan dana tercurahkan untuk kuliah? Sekarang, berapa banyak waktu, fikiran, tenaga dan dana untuk menuntut ilmu syar’i yang telah engkau curahkan?
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, (HR. Al-Hakim)
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Kita sering berdoa“Rabbana atina fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah” Ya Rabb, berikanlah kami kebaikan di dunia dan berikanlah kami kebaikan di akhirat” Kebaikan di dunia adalah iman dan amal shalih dan kebaikan di akhirat tidak ada yang lain kecuali Surga. Tidaklah dikatakan iman kecuali dibangun diatas ilmu.
Kemanakah engkau akan pergi melangkah?
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Jalan petunjuk telah jelas, dan jalan kesesatan juga jelas. Saya yakin bahwa engkau akan mengikuti jalan petunjuk, mempelajari ilmu syar’i dan mengamalkannya. Engkau tidak akan mau terlena seperti penumpang yang bersenang-senang di pulau kecil itu bukan? Jangan sampai engkau memohon ketika ajal menjemput, pada saat meregang nyawa kemudian engkau memohon kepada Allah
ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
Kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan (Al-Mu’minun :100)
Dan saat itu, keinginanmu tidak pernah akan dikabulkan
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Pernahkah kita merenungkan mengapa kita ada? Mengapa kita hidup di dunia ini?
Apakah kerena keinginan dan rencana-rencana kita sehingga kita ada? Tidak, kita tidak mungkin dapat menginginkan dan merencanakan karena kita belum ada.
Lalu, apakah karena keinginan dan rencana kedua orang tua kita? Bukan juga, berapa banyak pasangan suami istri yang menginginkan dikarunia anak tetapi belum juga diberi. Adanya kita bukan atas kehendak kita, bukan juga karena kehendak orang tua kita, lantas atas kehendak siapa?
Allah ta’ala menjelaskan dalam Al-Quran yang mulia
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاء إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّى وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya” (Al-Hajj: 5)
Ya, adanya kita, adanya manusia, adanya jin, adanya alam semesta ini karena kehendak dan rencana Allah. Lantas, adanya kita tentu bukan karena Allah kurang kerjaan, iseng, atau hanya main-main saja, Allah menegaskan hal ini sebagaimana firman-Nya
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ
“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main” (Al-Anbiya: 16)
Allah menerangkan bahwa Dia ingin menguji para hamba-Nya, siapa yang taat dan siapa yang durhaka, jadi kehidupan di dunia kita adalah untuk ujian! Sadarkah kita? Mengapa kalau UAN, kalau SPMB, begitu disiapkan dengan betul, sementara ujian yang paling besar terkadang kita lupa, atau pura-pura lupa, atau yang lebih parah lagi kelau kita tidak tau bahwa hidup kita untuk diuji! Mereka hidup seperti binatang, mereka hanya mengenyangkan perut dan apa yang di bawahnya, mengumpulkan harta, berbangga-bangga dengan dunia, lalu mati! Allah menjelaskan
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"[Dialah Allah] Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al-Mulk:2)
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Betul bahwa kehidupan adalah ujian kita, Allah akan menguji kebaikan amalan kita. Mengapa Allah tidak mengatakan yang paling banyak amalnya? tetapi Allah mengatakan yang paling baik amalnya. Dijelaskan oleh Fudhail bin Iyadh bahwa yang paling baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling sesuai dengan contoh karena amalan tidak akan diterima kecuali ikhlas karena Allah dan sesuai dengan contoh Nabi shalallahu’alaihi wa sallam. Kalau begitu, penting sekali seseorang harus ngaji, harus belajar ilmu syar’i karena tidak mungkin kita mengetahui materi ujian, mengetahui apa-apa yang dilarang dan apa-apa yang diperintahkan kecuali dengan menuntut ilmu syar’i. Bagaimana kalau seseorang ikut ujian tetapi tidak mau tahu materi ujiannya?
Surga dan Neraka, yakinkah kita?
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Mengapa beberapa waktu yang lalu ketika diskusi tentang poligami, kita begitu yakin dan bersemangat membela ayat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi tentang syariat poligami; mengapa ketika diskusi tentang Ahmadiyah, kita begitu lantang mengatakan bahwa dalam surat Al-Ahzab ayat 40: “Khootaman Nabiyyin” maknanya adalah penutup para Nabi, tetapi,…mengapa kita jarang mengungkit-ungkit ayat dan hadits tentang surga dan neraka? Apakah kita lupa atau pura-pura lupa sehingga topik ini jarang kita pelajari?
Seringkali kita lupa diri, tidak tahu diri, sehingga kita lupa dengan tujuan hidup ini, yakni ujian! Untuk mengingatkan kembali untuk apa kita di dunia ini, saya bawakan hadits-hadits tentang surga dan neraka
Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda
“Surga dan neraka telah diperlihatkan kepadaku, maka aku belum pernah memandang hari yang lebih banyak mengandung kebaikan sekaligus keburukan daripada hari ini. Kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” Anas bin Malik melanjutkan, “Tidak ada hari setelah itu yang lebih berat bagi para Sahabat dibandingkan dengan hari tersebut. Pada hari itu, mereka semua menutup kepalanya sambil terisak-isak karena tangisan” (HR Bukhari dan Muslim)
Bagaimana saudaraku? Apakah hatimu tergetar mendengar hadits ini? Kalau seandainya tidak, maka engkau adalah manusia yang sangat perlu untuk dikasihani, bagaimana tidak? Para sahabat yang jiwa, raga dan hartanya telah mereka curahkan untuk membela dan memperjuangkan Islam, dengan ketakwaannya mereka adalah manusia yang sangat takut kalau-kalau akhir kehidupan mereka di neraka. Sementara kita….? Apa yang telah kita persiapkan? Apa yang telah kita berikan untuk Islam dan kaum muslimin? Mereka dihina, dimusuhi, dilempari, diusir dari kampung halaman, disiksa seperti Bilal, lantas…pernahkah kita mengalami hal seperti itu?
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Demi Allah, kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit bersenang-senang dan banyak menangis, dan kalian juga tidak akan bersenang-senang terus di atas ranjang dengan istri kalian, lalu kalian akan keluar menuju ke pegunungan (tempat menyepi) untuk beribadah kepada Allah” Abu Dzar berkata, “Sampai-sampai aku menginginkan kalau diriku hanyalah pohon yang tumbang” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad yang hasan)
Begitulah, begitu mengerikannya ketika kita dihisab di akhirat, hanya ada 2 pilihan, surga atau neraka, sampai-sampai Abu Dzar, seorang sahabat Nabi yang keimanan dan amalnya tidak kita ragukan, membela Nabi, membela Islam…, beliau kalau diminta memilih daripada dihisab, beliau memilih menjadi sebatang pohon karena pohon tidak ada beban yang harus dipertanggungjawabkan. Bagaimana dengan kita? Apa yang sudah kita siapkan untuk hari perhitungan nanti? Apakah kita sudah menyiapkan amalan-amalan kebaikan? Apakah kita sudah berprinsip bahwa “waktu adalah ibadah”, atau malah selama ini kita hanya membuang-buang waktu dengan sesuatu yang kurang bermanfaat atau bahkan diisi dengan dosa dan kemaksiatan?!
Allah menjanjikan bagi hambanya yang taat akan diberi balasan yang tiada taranya di Surga kelak. Surga merupakan tempat yang tidak ada di dalamnya kecuali kenikmatan, dan kenikmatan yang paling nikmat adalah melihat wajah Allah, dzat yang selama ini kita bergantung kepadanya, dzat yang ketika kita sakit kita memohon kepada-Nya agar disembuhkan, dzat yang ketika kita kekurangan kita memohon kepadanya, dzat yang apabila kita mendapat nikmat kita bersyukur kepada-Nya, dzat yang selalu kita mohon kebaikan-kebaikan kepada-Nya.
Kita adalah perantau …
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Bayangkan jika kita dalam sebuah perjalanan untuk menuju suatu pulau-kampung halaman kita. Kemudian dalam perjalanan melewati sebuah pulau kecil, nahkoda memerintahkan agar para penumpang singgah 3 hari untuk mengumpulkan bekal berupa makanan dan minuman. Kemudian kita masuk hutan untuk mengumpulkan bekal. Setiap penumpang bertanggung jawab masing-masing dan tidak dapat saling berbagi bekal, nafsi..nafsi. Semuanya memikirkan keselamatan masing-masing karena begitu berat perjalanan bahkan seorang bapak tidak mungkin mau berbagi bekal dengan istri dan anak-anaknya, seorang ibu juga tidak akan mau berbagi bekal kepada anaknya, masing-masing sangat membutuhkan bekal tersebut untuk keselamatannya.
Apa yang akan engkau lakukan dalam 3 hari tersebut? Tentu engkau akan memanfaatkan waktu yang hanya 3 hari untuk mencari makanan, mencari buah-buahan dan air segar untuk bekal perjalanan karena perjalanan masih jauh. Tetapi tidak semua seperti itu saudaraku, banyak diantara mereka malah bersenang-senang di pulau kecil tersebut, membuat rumah bahkan ditingkat, bersenang-senang sampai lupa bahwa mereka akan kembali melanjutkan perjalanan sehingga harus mengumpulkan bekal yang cukup untuk sampai ke pulau kampung asal kita. Ketika nahkoda mengumumkan agar semua penumpang naik ke kapal karena perjalanan akan dilanjutkan, apa yang terjadi? Sebagian penumpang mengumpulkan bekal yang cukup, sebagian hanya sedikit saja, dan sebagian lagi lupa untuk pulang ke kampung halaman-mereka malah bersenang-senang di pulau tersebut, membuat rumah bertingkat, membuat sawah yang luas, beternak binatang dan lain sebagainya. Orang yang mengumpulkan bekal cukup maka akan sampai ke kampung asal dengan selamat, orang yang mengumpulkan bekal sedikit akan sakit-sakitan di perjalanan bahkan bisa jadi meinggal dunia, adapun orang yang lupa akan perjalanan akan tinggal dipulau kecil tersebut dan tidak akan pernah kembali ke kampung asalnya. Kemudian tersiar kabar bahwa Pulau kecil tersebut ternyata pada hari ke 7 sudah hilang tersapu tsunami!
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Hakikatnya kita semua adalah perantau, kita hanya singgah sebentar di dunia ini. Ingatlah saudaraku, kampung halaman kita adalah di Surga, kakek moyang kita asalnya tinggal di surga. Bukankah Adam ‘alaihissalam asalnya tinggal di surga? Kalau kita tidak dapat pulang ke surga, berarti kita telah terlena seperti penumpang yang bersenang-senang dipulau kecil tersebut.
Saudaraku, saya sampaikan wasiat yang wasiat ini juga merupakan wasiat Nabi shalallahu’alaihi wa sallam dan Sahabatnya yang mulia, Ibnu Umar radhiallahu’anhuma
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمنْكبيَّ فَقَالَ: (كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ) وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ. وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لمَوْتِكَ
Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, ia berkata:
”Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam pernah memegang pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau pegembara’. Ibnu Umar radhiallahu’anhuma berkata, “Apabila kamu berada pada waktu sore janganlah kamu menunggu pagi hari, dan jika kamu berada pada waktu pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang kematianmu’ (HR. Bukhari, Hadits Arbain An-Nawawiyah No.40)
Demikianlah wasiat Nabi shalallahu’alaihi wa sallam dan juga wasiat sahabat Ibnu Umar radhiallahu’anhuma.
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Agar engkau tidak tersesat, agar engkau dapat pulang ke kampung halaman-yakni ke Surga, maka engkau harus mempelajari agama ini dengan serius. Untuk urusan kuliah saja engkau dapat serius, berapa banyak waktu, fikiran, tenaga dan dana tercurahkan untuk kuliah? Sekarang, berapa banyak waktu, fikiran, tenaga dan dana untuk menuntut ilmu syar’i yang telah engkau curahkan?
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku, (HR. Al-Hakim)
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Kita sering berdoa“Rabbana atina fiddunnya hasanah wa fil akhirati hasanah” Ya Rabb, berikanlah kami kebaikan di dunia dan berikanlah kami kebaikan di akhirat” Kebaikan di dunia adalah iman dan amal shalih dan kebaikan di akhirat tidak ada yang lain kecuali Surga. Tidaklah dikatakan iman kecuali dibangun diatas ilmu.
Kemanakah engkau akan pergi melangkah?
Saudaraku, yang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu …
Jalan petunjuk telah jelas, dan jalan kesesatan juga jelas. Saya yakin bahwa engkau akan mengikuti jalan petunjuk, mempelajari ilmu syar’i dan mengamalkannya. Engkau tidak akan mau terlena seperti penumpang yang bersenang-senang di pulau kecil itu bukan? Jangan sampai engkau memohon ketika ajal menjemput, pada saat meregang nyawa kemudian engkau memohon kepada Allah
ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
Kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan (Al-Mu’minun :100)
Dan saat itu, keinginanmu tidak pernah akan dikabulkan
yang benar, baik dan indah
"Ya rasulullah, aku berpenyakit ayan dan (ketika kambuh) trbuka auratku. Do'akan kpada Allah agar menyembuhkanku" jawab Nabi saw,"jika engkau menginginkan, ku do'akan agar sembuh, tapi jka engkau sabar, maka bagimu syurga". Jwab wnita itu, "jika dmikian aku akan brsabar dan mndapat syurga, tapi tolong do'akan agar tdak trbuka auratku saap penyakit ayanku kambuh" (HR. Ibnu Mardawih & Hakim) pmbaca yg budiman^^, seorg wanita muslmah jlas harus dkenali dri jlbabnya. Seorg yg brjlbab i.alloh akn malu kalo bgaya sprt jmaknya wnita PKK(prmpuan klayar kluyur) yg tlah trasuki ajran brat. Dmkian pula tdk akn mntasyabuhkn dri pd prilaku wnita kafir. Jgn brprnsip mnimalis(yg pntg mntup aurat,thok!). Ingatlah bhwa jlbab itu bkan indah,baik &bnar. Tpi kiranya lbih tpat kalo dkatkan jlbab itu benar,baik, dan indah. Nilah nlai objktf yg trkndung dlam hukum Islam^^ (maj mup1998)
Langganan:
Postingan (Atom)