expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

beres

Selasa, 29 Januari 2013

Sejumput rindu



Ah, aku rindu,
Pada suatu masa,

Pintu yang perlahan mulai berderit,
Waktu yang diam, lalu menjerit,
Kertas-kertas ujian yang beterbaran,
Materi-materi yang menguras pikiran,

Kedinginan yang menusuk-nusuk,
Majalah-majalah politik al-wa’ie yang bertumbuk,
Kesibukan yang menyelubung,
Lagu-lagu nasyid yang menemani,

Ah, aku rindu..
Pada suatu waktu,
Rapat pertama di selasa sore,
Rapat kedua di sabtu yang pagi buta,
Kajian islam politik di selasa malam,
Kajian buletin al-islam di kamis jingga,

Canda, tawa, dan kesah, penat
Berpadu dalam keindahan lansekap dakwah,

Aku ingin sampaikan berjuta maaf,
Kepada pemilik tangan-tangan yang pernah ku paksa untuk bergenggam,
Kepada pemilik semangat yang pernah ku paksa untuk bergelora,
Kepada pemilik jiwa yang pernah ku paksa untuk berhidup,

Aku ingin sampaikan berjuta maaf,
Kepadamu Jatinangor,
Atas pilihan hidup yang akhirnya ku ambil,
Atas putusan takdir yang pada waktunya menghampiri.

Benar adanya, bahwa hidup adalah pilihan,
Pilihan di atas rintangan dan paksaan,

Andai waktu bisa ku ulang kembali,
Kan ku lakukan yang terbaik, selagi ku bisa.
Aku bahkan rela membagi separuh waktu untukmu.
Namun waktu tak kan pernah kembali,
Ku tak bisa memperbaiki semua yang terjadi,
Aku tak mampu menyerahkan separuh waktu yang telah hilang.

aku hanya ingin engkau tahu,
bahwa pilihan ini tak lain aku ambil karena besarnya rinduku padamu,
kerinduan yang sudah lama tumbuh dan tak lagi dapat terpendam.

Jika aku tetap duduk dan berjalan di sana,
Kerinduanku hanya akan menghalangiku untuk meraih dua puncak kemuliaan,
Satu puncak untuk menara ilmu, satu puncak untuk menara kejayaan.

Hidup di sana memang membutuhkan banyak rupiah untuk sekedar bertahan hidup,
Namun, kau telah banyak mengajarkanku untuk hidup sederhana,
dengan bersabar dan berpuas  dengan mahkota agama,
aku pun telah pandai memikul beban hidup di sana.

Saat ini, apalah daya, kita tak hanya hidup sendiri, kawan.
Ada ayah, ibu, adik dan keluarga yang juga menanti kita.

Koin-koin Rupiah perlu kita cari untuk mengangkat derajat mereka,
Bungkusan-bungkusan kertas bernominal betul-betul kewajiban kita atas mereka.  

Setiap hari ku persiapkan bekal untuk bisa kembali ke sana,
Setiap detik ku isi dengan melejitkan valensi diri,
Ku lahap semua ilmu yang ku perlukan,
Ku bentangkan ilmu yang ku sajikan.

Saat ini,
Aku hanya mampu membawa biji-biji melati,
telah ku tanam di antara gundukan tanah di kebun-kebun waktu.  

Ketika suatu hari nanti, Ketika saat itu tiba,
Aku berjanji untuk datang membawa sekebun bunga melati yang tengah mekar dan mewangi,
Dan kan ku berikan semuanya untukmu.
Hanya untukmu,     
Jatinangor.  

Senin, 31 Desember 2012

Seraut Puisi Penyapa Hati


Lihatlah tatapan mentari di ufuk timur,
tertawa sendu memandangi hati,
 bertaburkan pendaran bintang fajar,
laksana sorotan mata bidadari yang mengintip bumi,
menatap penuh kagum para hamba Allah
yang tersungkur sujud menundukkan jiwa
kepada Rabbnya

Di antara awan pagi ia berlayar,
menjaring sayap reruntuhan malam,
agar tak jatuh ke bumi, agar tak terjun di tanah landai,

Seruling keanggunannya mencemburui kabut senja,
yang telah layu dimakan usia dan derita,
perlahan namun pasti,
denting suaranya memutar daun yang berguguran,
menari dengan lincah diantara serbuan angin pagi.

merah merona di antara kepakan burung-burung dara,
yang melenyap karena terbias sinar indahnya,
persis ketika ku tatap indah kedua matanya,
yang memantulkan rasa kagum dan malu,

terkagum aku karena pesona keindahannya,
terhinggap malu karena luntur keberanianku,

saat tatapan terjatuh pada matanya
yang bening, dalam dan jauh menyeruak
ke dalam lorong jiwaku yang sempit dan gelap,
seakan tahu isi setiap detail dalam hati,
seakan hafal setiap kata yang tertahan oleh lidah.

aku rindu pada lukisan pagi yang indah terbayang,
aku rindu pada siluet senja yang cerah membayang,

Sahabat, seandainya engkau disini,
kan ku ajak engkau menari bersama pagi,
kan ku ajak engkau berlari menyalip sinar mentari,
namun engkau tak lagi ada disampingku.
di sini aku menantimu, wahai sahabat..


ya Allah, ya Rahman..
kebesaranMu sungguh tiada terukur,
kecintaanMu pada hambaMu sungguh tak terbilang,

ya Allah, ya Rahim..
karuniakanlah kepadaku,
keimanan seperti embun pagi yang menyejukkan,
ketakwaan seperti lembayung senja yang meneduhkan,
tekad dakwah seperti angin yang membelai bara api,
kesabaran seperti air yang mengaliri samudera.   

ya Allah, ya Ghaffur..
ampunilah segunung dosaku,
dosa yang kian hari kian bertambah,
dosa yang sama namun di waktu yang berbeda,
yang membuatku semakin jauh dariMu, 

ya Allah, ya Razzaq,
lindungilah aku dari keindahan dunia yang palsu,
dari kecantikan wanita yang menipu,
dari kecintaan harta yang merayu,
cukupkanlah rizkiku,
deralah nafsuku,
kuatkanlah agamaku, 

ya Allah, ya Latif,
pilihkanlah untukku seorang pendamping hidup terbaik,
yang mengerti akan cintaku padaMu,
yang akan melahirkan dan mendidik putra-putriku,
yang selalu mengingatkanku agar tak lupa kepadaMu,
kepada nikmatMu,
kepada kebesaranMu,


ya Allah, ya Fattah,
bukalah pintu hatiku,
luaskanlah ruang sabarku,
cerahkanlah dinding takwaku,
agar cerah wajahku saat di dunia,
dan indah saat di akhirat sana, 

ya Allah, ya Mujib
kabulkanlah pintaku,

Selasa, 25 Desember 2012

Rasa-Rasanya


***

Rasa-rasanya, ingin sekali ku melangkahi dedaunan yang jatuh dari pohon-pohon kenanga,
duduk  sembari menunjuk jalan keluar labirin ilmu,dan termenung sejenak dalam rindang keteduhannya. 

Rasa-rasanya, ingin sekali ku sentuh pucuk-pucuk edelweis yang bersemi
dan memendarkan sinar emas keabadian di lembah yang hijau dan menghirup aroma ketenangan di balik kealamiannya.

Rasa-rasanya, ingin sekali ku menyelinap di antara ranting-ranting yang rapuh,
lalu terpesona mengintip burung cendrawasih biru si endemik papua yang memikat.   

rasa-rasanya, ingin sekali ku berjalan menyusuri aliran sungai yang bening dan segar bersama ikan-ikan koki yang lembut dan lucu, sampai ke muara.

rasa-rasanya,ingin sekali ku temukan sebuah pintu yang membuatku bisa menembus ruang dan waktu,
membawaku tersesat di gurun yang kering dan berdebu, 
lalu secepat kilat membuatku terbenam dalam butiran-butiran salju yang menumpuk.    

rasa-rasanya, ingin sekali ku temukan sebuah permadani putih yang membawaku terbang di angkasa,
 mengelus kepakan-kepakan awan yang hijrah di langit Allah..

rasa-rasanya, aku ingin tiba di negeri dongeng, yang setiap malam dituturkan oleh ibunda, 
dimana rakyatnya baik budi pekertinya, dimana alam dan desanya indah mempesona.
sebuah negeri yang terus menerus melekat dalam relung jiwa dan kalbuku,
 ah, sungguh indah tiada terperi,

ya Allah, jika negeri itu benar-benar nyata, maka tunjukkan aku agar ku tak tersesat ketika menujunya,
ya Allah, jika negeri itu benar-benar nyata, maka kuatkan aku agar aku mampu berjalan untuk sampai di sana.
ya Allah, ku tahu bahwa negeri itu benar-benar ada dan nyata, negeri yang sudah Kau kabari lewat firmanMu yang mulia,
 melalui utusanMu yang mulia..
ya Allah, bangunkan untukku sebuah rumah di sisiMu dalam Jannah, 
serta lindungi aku dari godaan dunia, gila harta, cinta wanita dan ambisi tahta..

Sabtu, 01 Desember 2012

Life is Inspiring



"hidup adalah tangga pendakian menuju puncak pencapaian. 
Satu bukit pencapaian tidak terpenuhi, 
maka ada puluhan bukit lain yang harus didaki.
ada ratusan sungai yang harus disusuri, 
ada ribuan pucuk rerumputan yang harus dilewati.

bersama kepakan sayap awan putih yang berhijrah di langit kebesaranNya,
ku bentangkan mimpi ku,
ku rendahkan sayap di lembah keanggunan alam,   " 
 agar aku bisa memaknai satu per satu pengalaman  ini,
yang terbentang dalam kitab perjalanan hidupku.

hidup itu menakjubkan, kawan....




Rabu, 28 November 2012

Al-Mu'allim



Lagu bergenre spritique yang dirilis pada tahun 2003 ini memuat pesan yang menuturkan tentang sebuah kerinduan dan kekaguman seorang lelaki kepada seorang guru yang mengajarkan kehidupan dan makna sebuah pengabdian, guru yang mengubah dunia dengan risalah, perangai, cinta dan kasih sayangnya, ialah baginda Nabi Muhammad saw. 

Saya senang sekali dengan sosok Sami Yusuf yang ditampilkan dalam video tersebut, ia tergambarkan sebagai seorang muslim yang sederhana, biasa dalam berpenampilan, namun luar biasa dalam berkepribadian. Pemuda yang berbakti kepada orang tua, gemar menebar kebaikan di mana pun berada, juga sebagai pemuda yang taat beribadah. 

Ia tampak bersemangat dalam optimisme hidup yang ia bangun,  menyatu dengan passion dan filosofis hidup yang begitu dalam dan penuh dengan makna. Lagu ini mengajarkan kita untuk berbangga dengan kepribadian   dan identitas kita sebagai muslim. en joy ^^

Al-Mu'allim..

Sabtu, 24 November 2012

Pemuda Sejati



****
Dengan berat hati harus diakui, kemerosotan masyarakat saat ini paling kentara ditandai dengan kemerosotan mentalitas pemuda-pemudinya. Kita bisa lihat pelaku seks bebas adalah pemuda, pemadat adalah pemuda, pelaku tawuran adalah pemuda, suporter-suporter anarkis adalah pemuda, dan kebanyakan gelandangan adalah pemuda. Simpelnya, hancurnya masyarakat kita digawangi oleh kehancuran para pemudanya. Kebanyakan Pemuda saat ini sudah kehilangan segala-galanya; baik Identitas, Kapasitas, Integritas, maupun Kapabilitas. Alih-alih menjadi Bagian dari solusi malah ternyata menjadi bagian dari masalah!.

Kisah berikut semoga bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Kisah ini akan memberi gambaran kepada kita Bagaimana sesunggunya karakteristik ideal dari seorang pemuda. Dari cerita berikut setidaknya kita akan mendapat ibroh tentang Ketaatan kepada Allah Swt, rasa Tanggung Jawab, Kepedulian, serta Persaudaraan. Berikut penggalan kisahnya;
***

~AL-GHINAT- MUHASABAH


****
Sinar mentari kian memudar,
Lembayung senjapun makin merona,
Membias indah kewajah rembulan,
Yang malu-malu menyapa sang malam.

Untaian bintang berkelip benderang
Menghias angkasa yang gelita
Kucoba arungi malam yang sunyi
Didalam zikir hatiku padanya,

****
Ya Allah.. ini malamMu tlah singgah
Kedalam hati hambaMu yang resah

Ya Allah... lukisan malamMu nan megah
Iringi daku sujud bermuhasabah

****
Sinar mentari bersinar lagi,
Menyapa kilauan siembun pagi,
Kicau kenari sapa melati,
Menjadi melodi warnai hari,

Langit biru berhiaskan awan,
Mengajak sang surya beranjak terang,
Hangat sinarnya beri harapan,
Tuk isi hari yang tlah kau beri.

****
Ya Robbi... siangMu kini kembali,
Kan kucari rizki dan taqwa diri,
Ya Robbi... kini kian aku sadari,
Dimalam dan siang hari.

.:. Munsyid: al-Ghinat
Nasyid: Muhasabah