expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

beres

Minggu, 16 Februari 2014

Sebuah pelajaran : rimba waktu




Kawan, maukah kau ku ingatkan tentang sebuah pelajaran sederhana? Kisah yang mengajarkan kita tentang betapa pentingnya waktu dan kesempatan yang kita miliki. Ini adalah kisah pemuda pengembara di sebuah negeri antah berantah yang mendapat titah dari gurunya untuk menjelajah rimba belantara. Sang guru memintanya untuk memotong sebuah dahan pohon terelok yang ia temukan, namun dengan satu syarat sederhana, ia harus terus berjalan maju dan tak boleh berjalan kembali ke belakang. 

Dengan ringan ia melangkahkan kakinya, sedepa demi sedepa, sehasta demi sehasta. Sambil berjalan, ia memperhatikan satu demi satu dahan yang ia temui. Baginya, semua dahan tampak kokoh dan elok. Ia terhenti di sebuah pohon besar dan tinggi. Ia mendongak dan memandang sebuah dahan yang paling menarik perhatiannya. Ia putuskan untuk naik dan membawa pulang dahan tersebut. Namun, sesaat sebelum ia memotong dahan tersebut, ia melihat dahan di pohon lain yang lebih bagus. Ia kembali turun dan menghampiri pohon di depannya, bergegas ia memanjat dengan penuh semangat karena merasa telah berhasil menemukan dahan paling bagus yang pernah ia temukan. Setelah berhasil sampai ke ujung batang pohon, ia melompat dan terkejut. Ternyata, dahan tersebut dipenuhi ulat bulu dan membuatnya rapuh! Ia merasa menyesal karena lebih memilih dahan yang jelek. Ia ingin sekali kembali ke pohon sebelumnya untuk mengambil dahan tadi, namun ia ingat pesan gurunya untuk tidak berjalan kembali ke belakang. Dengan penuh rasa penyesalan, ia kembali melangkah mencari dahan yang lain.

Lama ia berjalan, dan tak ada satu pun dahan yang menarik perhatiannya lagi. Semua dahan tampak sama dan tidak istimewa. Terkadang ia menemukan dahan yang terlihat kokoh dan elok, namun ternyata rapuh setelah disentuh. Ia memanjat dan turun lagi, ia mencari dan kecewa lagi. Terus berulang dan berulang. Di depannya tampak seberkas cahaya yang menandakan ujung rimbunnya rimba. Ia semakin gelisah dan akhirnya memutuskan untuk memotong sebuah dahan terakhir yang ia temui. 

Sesampainya di kediaman gurunya, ia tertunduk lesu dan menyerahkan potongan dahan yang ia pilih. Melihat air muka si pemuda, guru itu pun tersenyum dan menepuk pundak sang murid. Dengan nada pelan, ia berkata: 

"anakku, inikah dahan yang kau pilih?

"....." si pemuda diam dan semakin terbenam dalam kelesuan.

"kau yakin memberikan dahan seperti ini kepadaku?"

"tidak! maaf guru, sebelumnya aku telah menemukan dahan terelok yang pernah aku lihat, namun saat hendak aku memotongnya, aku melihat dahan lain. Aku mengira dahan di pohon itu lebih bagus, tapi ternyata tidak. Dahan-dahan lain pun ternyata tidak lebih bagus dari dahan itu!" ucapnya penuh penyesalan. 

"baiklah, akan ku beritahukan maksud apa yang ingin ku sampaikan kepadamu. Nak, ketahuilah, bahwa rimba yang engkau jamahi adalah waktu, sementara dahan yang kau potong adalah tombol-tombol kesempatan yang menghampirimu. Ketika dalam perjalananmu, engkau aku larang agar tidak boleh mundur kembali ke belakang, artinya aku ingin engkau paham, bahwa dalam perjalanan hidupmu, engkau tidak akan pernah bisa kembali ke waktumu yang lalu, barang sedetik pun! Lalu, saat kau paham agar tidak mengambil kembali dahan terbaikmu di belakang, artinya aku ingin memahamkan bahwa dalam hidup ini, engkau terkadang tidak bisa mengambil kembali kesempatan terbaik yang telah engkau lewatkan. Ambil kesempatan itu atau tinggalkan dan lupakan! itu adalah pilihanmu." 

"....." si pemuda diam dan tersenyum perlahan karena mulai mengerti pelajaran sederhana dari gurunya.    

-- -- -- --

       
itulah ceritanya, kawan. Cerita ini mengingatkanku tentang sebuah surat nan indah dalam kitab suci al-Qur'an. Allah swt berfirman :

"wal 'ashri, innal insana lafii husrin, illalladzina amanu wa 'amilush-sholihati, wa tawaa shaubil haqqi, wa tawaa shau bis-shobri." [QS al-Ashr : 1-3]

"demi waktu, sesungguhnya manusia ada di dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan yang beramal shaleh, yang saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran." [TQS al-Ashr: 1-3]

Dalam surat tersebut terdapat jenis wau qosham dan wau athof! wau qosham: Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang makna qosham yang Allah tunjukkan dalam al-Qur'an, bahwa posisi dan kedudukan objek yang di-qosham adalah istimewa, karena Allah swt tidak berqosham kecuali dengan sesuatu yang istimewa. Wau athof: yang bermakna rentetan amal paralel yang harus kita lakukan agar berlaku bijak terhadap sesuatu yang Allah telah istimewakan.

Kawanku, kita sudah begitu lama bercengkrama dengan waktu, namun kita seringkali mencampakkannya dan bahkan membiarkan berpuluh-puluh kesempatan baik berlalu begitu saja. Hari ini adalah momentum, esok pun juga. Untuk mengikrarkan kepada diri kita bahwa kita tak akan pernah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang datang kepada kita, bahwa kita tak akan membiarkan masa muda kita lenyap karena perbuatan sia-sia. Semoga hari esok kita bisa menemui kesempatan terbaik yang singgah di ruang tamu kehidupan kita. amiin. 


#dalam catatan harianku di tengah derasnya hujan ketiga di bulan ini. 
West Borneo, Ahad, 16/2/2014.    

    





Rabu, 29 Januari 2014

Sosok yang selalu menghiasi kebahagiaan




Wanita, adalah mahluk yang akan membuat laki-laki mempunyai kekuatan dalam menjalani hidupnya. keberadaannya akan selalu menjadi penyempurna atas berbagai kekurangan dan kelemahan laki-laki.

Wanita, sosok yang benar-benar bisa menjadi mitra, sahabat dan karib setia dalam hidup laki-laki. Senyumnya, suara lembutnya, parasnya, kesetiaannya adalah anugerah terbesar yang akan selalu disyukuri oleh seorang laki-laki.

Mendapatkan wanita dan menikahi wanita yang benar-benar menjadi impian laki-laki adalah sebuah anugerah yang akan melengkapi perjalanan hidupnya.

oleh karena itu, bagiku setiap laki-laki berhak bermimpi tentang setiap wanita yang diinginkan dalam hidupnya. bukan hanya itu dia juga berhak memperjuangkannya dan mendapatkan wanita yang benar-benar diinginkan dalam hidupnya.

Bukan hal hina, jika dalam satu fase laki-laki menghadapi penolakan wanita, karena wanita juga berhak menentukan pilihannya. yang terpenting dari seorang laki-laki adalah sikapnya yang tidak mudah menyerah dalam memperjuangkan wanita yang benar-benar diinginkan dalam hidupnya. Karena wanita adalah bagian dari anugerah laki-laki yang harus diperjuangkan dan dimilikinya.


By the next leader


taken from :
http://nuranibiru.blogspot.com/2013/10/sosok-yang-selalu-menghiasi-kebahagiaan.html

Rabu, 25 Desember 2013

Oh...Muslim Boy


Oh...Muslim Boy
By: Shukri

Oh…Muslim boy, Azan, Azan is calling.
Stop playing coins, come on to mosque for praying.
The sun has gone, the night, the night is coming.
Come back to home, prepare for Maqrib praying.

In the dark sky, full moon, full moon is shining.
Gaze at the sky, lot of the stars is twinkling.

Thank you Allaah, so nice, so nice for everything.
Alhamdulillah is the best word for praising.
Oh…Muslim boy,
Oh…Muslim boy,
I love you so.





Minggu, 22 Desember 2013

Titik Nol


Balai Sebut, West Borneo. Di antara rimbunnya rimba belantara yang menjadi perisai sinar terik dan panasnya udara khatulistiwa yang menyengat, di salah satu sudut terpencil, di tempat inilah aku membuat titik nol perjalanan hidupku. Hari-hari yang lalu adalah titik demi titik kuadran empat yang menghantarkan garis perjalananku ke titik nol ini. Titik dimana aku kembali melanjutkan perjalanan pasca kampus yang penuh kenangan dan romantika, titik dimana aku mengamati benih-benih yang pernah ku tanam di belantara waktu. Bukan untuk bersembunyi dari hingar bingarnya panggung dunia, bukan pula untuk lari dari semburat amanah yang dipercayakan, tapi aku hanya perlu waktu untuk sedikit bernafas dan mengintip lebih jernih peta hidupku yang kini terapung di samudera visi yang lebih besar dan dalam. Aku tak mau terhanyut terlalu lama dalam zona nyaman yang menghantui. Kelak, seorang lelaki akan menjadi suami dari seorang istri, dan menjadi ayah dari putera-puteri yang sholehah. Begitu pula denganku, aku ingin merasakan manis pahitnya saripati kehidupan, pengalaman berharga yang akan menaikkan level kedewasaan dan kemandirianku untuk memikul beban dan tanggung jawab yang lebih besar kelak. 

Aku tahu bahwa hidup ini bukan sekedar tentang aku, diri-ku, asa-ku, nafsu-ku, ambisi-ku, dan segala tentang ke-aku-anku. Aku sadar bahwa tanggungjawabku sebagai manusia, adalah lebih besar dan lebih mulia dari yang telah aku ingat. Tanggung jawabku adalah sama dengan apa yang telah dikabarkan Allah swt kepada para Rasul dan umatNya. Takwa adalah raport penentu kemuliaan ku disisi Allah swt, karenanya tak mudah untuk dilakui, tapi begitu mudah untuk dilalui. Begitu besar balasan yang didapatkan oleh mereka yang konsisten dengan amalan dan manifestasi ketakwaanya. Diantara tajam dan kejamnya dunia, kadang ku bergulat dengan retorika: Bisakah aku menjadi manusia paripurna yang hidup dengan ketakwaan sempurna? dapatkah aku menyematkan peniti kewibawaan milik para pemenang karena takwa? Mahasuci Allah yang Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi dalam hati, firmanNya :

"fattaqulloha maastatho'tum wasma'uu wa athi'uu.." 
maka bertakwalah kamu kepada Allah sekuat-kuatmu dan dengarlah serta taatlah..
(at-taghabun: 16)

Itulah kata kuncinya! Takwa dengan sekuat-kuat takwa. Begitulah kita diperintahkan. Bukankah dunia ini memang sarana uji yang menentukan tempat kembali manusia?

"Alladzi kholaqol mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amala, wa huwal 'azizul ghofur." Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha perkasa, Maha Pengampun. (al-Mulk: 2)

ya Allah, ya Rahman.. lindungilah aku dari segala kejahatan syaitan yang membisiki, dari kecantikan wanita yang menghampiri, dari kenikmatan dunia yang memungkiri, dari kegemerlapan harta yang memurkai, dari ketidakacuhan manusia yang lupa menyayangi.

allahumma inni au'dzubika min syarri sam'i wa min syarri bashori, wa min syarri lisaani, wa min syarri qolbi, wa min syarri farji.Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kejelekan pendengaranku, kejelekan penglihatanku, kejelekan lisanku, kejelekan hatiku dan kejahatan kemaluanku.. 
allohumma thahhir qolbi minan-nifaaq, wa hash-shin farji minalfawaahisi..Ya Allah bersihkanlah hatiku dari sifat munafik dan jagalah kemaluanku dari perbuatan keji. 
allahumma a'zhim li nuron, wa a'thiniy nuron, waj'al li nuron..Ya Allah perbesarlah cahaya untukku, curahkanlah cahaya untukku dan jadikanlah aku sebagai cahaya.. 
 allahummaj'alni minash-sholihin..ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang saleh. 



    
     





Rabu, 18 Desember 2013

What would you prepare, dude?



One day, I went to a blue shiny river, long I stood and looked down one as deep as I could. I touched the ripples, I took a mirror of mine. Though that image like a shadow, a wondered one that made me like a stranger in this world. The reverie came to flew my mind. So deep and so oppressive. Suddenly, a leave just felt down and laid on the flowed layer. It broken the ripples, spread my focus, I looked again and guess what did I see? It was mirror of a rainbow, exact on my front! The phenomenon dispersed the light of sun into many beautiful colors. Oh, what a great being it is! 

It was like a sign. Such as those in a fairy tale. When things can speak and life like humans. “Hey, looked up! It’s a beautiful rainbow, is it?” It shouted. “Just go and talk to it that you want to know more about it.” It suggested. I ran as far as I could to reach the rainbow. So far I went, so close I got. I felt a great of feel that loaded my mind with happiness. But it felt obvious. When I reached the place, I minded with a question. Could I touch the rainbow as I could touch the water? yes I could, but It quite clear that I couldn’t feel it. It was a vision, but it’s an illusion. It’s simply this. 

Like my father said, this trickery world, a place for those who can face it without fall to depths of misery. I witnessed the scene, when the sky was getting darker and the sun was leaving. There were more questions that was waiting for me. What would you prepare, dude?  

Senin, 09 September 2013

Adzan Maghrib



Aku berdiri di bawah payung khatulistiwa,
menatap ufuk barat yang menelungkupkan senja 
langit adalah kitab yang terbentang,
dan saat ini aku tengah membaca satu goresan rona mentari, 
yang mengajarkanku tentang petuah alam,
arti bijak dan makna kedewasaan..
dalam memilih tombol-tombol pilihan,
yang tertanam dalam sejuta jalan, di antara persimpangan.

Seperti kemarin, aku mendengar adzan di saat muncul segaris merah..
bergema di antara atap-atap angkasa tanpa pilar,
menundukkan nafsu dan ambisiku,
mengajakku tuk kembali sujud dan tunduk kepada ilahi Rabbi,
adzan ini, mengisi kedamaian di bumi yang tanpa warna..

#mari shalat.. mari shalat...


07/09/2013 - Balai Sebut, Sanggau - Kalbar

Rabu, 04 September 2013

3rd note - Pit Stop



3rd – daily note

Apakah Anda penggemar Grand Prix? atau sesekali pernah menonton Grand Prix? Kejuaraan mobil super cepat Formula 1 yang diikuti oleh puluhan negara dan diminati oleh jutaan pasang mata di berbagai belahan dunia. Jika ya, selain mengenal siapa pembalap yang Anda Jagokan, Anda juga pasti mengetahui sebuah fitur paling menegangkan, yakni Pit Stop. Pit Stop merupakan salah satu fitur GrandPrix yang paling menegangkan sekaligus menarik. Menang dan kalah kerap ditentukan oleh pit stop dan pit crews. Bayangkan, hanya dalam hitungan detik, sejumlah aktivitas krusial harus dilakukan oleh pit crews dengan sempurna, tidak boleh ada satu kesalahan kecil sekali pun.

          Tingkat kerumitannya berada pada level advance, tidak percaya? Mari kita simak durasi dan aktivitas yang harus dikerjakan, pra, saat dan pasca pit stop. Satu lap sebelum jadwal memasuki pit stop, tim mengkonfirmasi pembalap untuk bersiap memasuki pit stop melalui radio. 10 detik, mobil balap memasuki jalur pit. 3 detik, mobil memasuki garasi. 0 detik (saat pit stop), pembalap mengatur gigi pada kondisi netral dan menginjak pedal rem. “wheel gun crews’ menggunakan senjata udara untuk mengangkat mur roda, pada saat yang sama, mobil diangkat dengan dongkrak. 1,5 detik, selang pengisi bahan bakar dihubungkan. 2 detik, wheel off crews mengangkat keempat roda, wheel on crews menempatkan roda baru. Crew yang lain membersihkan kaca helm. 3 detik, keempat roda sudah terpasang, wheel gun crews mengencangkan mur roda. Setelah selesai, mereka mengangkat tangan untuk memberi sinyal bahwa semua berjalan lancar. 4 detik, semua roda sudah terpasang, dongkrak menurunkan mobil. 5,5 detik, lollipop man memberikan sinyal kepada pembalap untuk memilih gigi satu. 6,5 detik, selang pengisi bahan bakar dicabut, dalam durasi 0,3 detik pembalap harus tancap gas. 7 detik, mobil berada di jalur lintasan, tutup bahan bakar tertutup otomatis, pembalap siap kembali ke arena balapan.


Banyak orang beranggapan bahwa semakin cepat durasi pit stop, semakin besar potensi untuk memenangkan balapan. Namun, cepat saja ternyata tidak cukup. Pit stop harus efektif, akurat dan cepat atau dengan kata lain, dilakukan oleh orang-orang yang cakap. Itulah pit stop  berkualitas. Begitu pun dalam perjalanan kehidupan kita, di sela kesibukan kita dalam menjalankan agenda kehidupan, ternyata ada baiknya kita menyempatkan waktu walau sejenak untuk memasuki jalur pit stop untuk melakukan pembenahan dan penyesuaian diri. Adakalanya kita terus menerus ‘kalah’ dalam berbagai ‘pertarungan’, baik dalam hal kuliah, dakwah juga maisyah.  Misalkan, IPK terus melorot, padahal sudah memasuki semester akhir. Amanah dakwah banyak yang tidak terselesaikan dan berujung tidak maksimal, bersamaan dengan kondisi keuangan yang seret. Lalu ditambah dengan adanya perasaan gundah akibat tidak kunjung mendapatkan kepastian untuk mendapatkan calon istri/suami yang diidamkan. Maka, ketika itu terjadi, mari kita coba tengok ke belakang, adakah satu dari beberapa tingkah laku kita yang menyalahi tikungan-tikungan rute visi hidup kita? Adakah niat kita yang berbelok dari garis awal keridhan Allah swt? Untuk siapa dakwah kita? atas alasan apa kuliah kita?  jika terdapat kekeliruan, maka tandai dan benahi agar di hari esok kita tidak mengulangi kesalahan yang sama, jika tidak, maka jangan lantas bergembira, karena di depan, masih ada jalanan yang terjal dan berliku yang menunggu kita.

Memasuki jalur pit stop, artinya kita memantapkan kembali semangat dan amal agar sesuai dengan arena kita sebagai seorang muslim paripurna. Muslim yang memberikan ketaatan semata-mata hanya kepada Allah, menjalani ragam kehidupan dengan syariat yang Allah tentukan, dan menantikan kehidupan akhirat yang Allah gariskan. liLlah, biLlah, ilaLlah.

Beristirahat sejenak memang penting, namun jika terlalu lama akan mendatangkan celaka karena terlalu lama beristirahat artinya memberikan kesempatan bagi rasa malas untuk membombardir susunan keyakinan yang sudah ditata.  Seperti halnya dalam sebuah kapal, kemalasan bagaikan ton-ton jangkar penambat yang menyebabkan kapal tersebut malah teronggok dan tenggelam di sisi dermaga. Padahal sebuah kapal dicipta untuk berlayar di samudera biru yang luas menuju pulau yang dituju.  Kemalasan membuat kita berdiam diri terlalu lama hingga kehilangan gairah dan semangat untuk bergerak meraih pencapaian hidup, lalu membiarkan pohon impian kita berguguran menyisakan ranting-ranting penyesalan. 

‘Istirahat’ yang berkualitas adalah pit stop yang berkualitas, mari menjalani pilihan hidup dengan pertimbangan yang matang, dengan menjadikan dakwah sebagai poros usia, memilih pendamping hidup terbaik untuk kita jadikan sebagai partner dan ibu bagi anak-anak kita, serta memilih kesibukan yang berkorelasi dengan visi hidup kita. Berat atau ringan, semuanya melahirkan keputusan yang akan menentukan kehidupan kita nanti. 

The time to life at its simplest meaning, the crucial moment that determines our fate in living afterlife. Oh Allah, keep us in firm on the straight path and make us as inhabitant in Your eternal Jannah. Amiin, yaa mujibassa'ilin.


#dalam catatan harianku di Pulau Borneo


   


Senin, 02 September 2013

Ekspektasi





aku memimpin
dalam riak kegamangan bahtera
sejenak kutatap penuh suka
tarian sang surya dalam buaian awan..

Aku mengerti
redupnya cahaya
melahirkan banyak kegamangan bahkan juga kebencian
karena semuanya
adalah tentang kesempurnaan..

maka aku harus memilih
di antara rimbunan ketidakpastian
karena semuanya
adalah tentang tanggungjawab..

by HNL


Minggu, 01 September 2013

Perjalanan yang Tak Terduga


picture : Ruth Tay

Matahari pagi menyiangi bumi,
aku berjalan diantara kelokan sungai yang membeku,
di atas jejalan batu yang menjadi prasasti alam 
yang tiada pernah dirindu,

ku tutup mataku, berharap ada kedamaian 
yang singgah dalam ruang tamu hatiku, 
tiba-tiba.. tanpa kuduga,
ku rasakan angin menuntun mata hatiku,
ia memegang jemariku, perlahan penuh kelembutan, 
lalu menarik leherku dengan selendang tanpa warna,
tanpa rasa, tanpa airmata... 

ku buka mataku, 
oh Tuhan, bening.. 
hatinya bening sekali, tak tampak keruh seperti sungai ini..
ia tersenyum, melihat burung-burung dara 
yang mengitari mahkota keindahannya..
lenyaplah sudah kegelisahan dalam hatiku, 
berganti menjadi rona yang memantulkan cahaya mentari..  
yang menyebar karena terbias sinar indahnya, 

ku tutup lagi mataku, 
oh Tuhan, hilang.. 
ia menghilang, tak lagi tampak di hadapanku..
aku bertanya pada riak sungai dan serakan daun, 
namun mereka diam..
sambil terguncang, sang sungai akhirnya angkat bicara,
ia mengatakan kemana sang angin pergi lewat riak cerminnya,
rupanya ia telah pergi bersama burung-burung dara, 
melanjutkan mimpinya untuk mengembara ke tanah mulia,  

aku berjalan diantara kelokan sungai yang masih membeku,
di atas jejalan batu yang menjadi prasasti yang akan aku rindu,
kemana angin berhembus, disanalah aku menuju..

aku rindu pada lukisan pagi yang cerah terbayang,
aku rindu pada siluet senja yang indah membayang,

Sahabat, seandainya engkau kembali ke sini,
kan ku ajak engkau menari bersama pagi,
kan ku ajak engkau berlari menyalip sinar mentari,
namun engkau tak lagi ada disampingku.
di sini aku menantimu, wahai sahabat 



Kamis, 29 Agustus 2013

Welcome to The Dayak Island


#2nd - Daily Notes

Seorang pemimpin besar memiliki mimpi besar, karenanya ia diuji dan dihadapkan dengan realitas-realitas kehidupan yg akan mengukur seberapa besar mimpinya, seberapa kuat komitmennya. Mungkin, sepertinya itu adalah kata-kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana hatiku belakangan ini. Melintasi laut jawa, lalu akhirnya singgah di kawasan equator bumi yang panas menyengat, garis khatulistiwa. Di kala Shubuh, pagi, dhuha, siang, sore, magrib hingga menjelang malam lewat udaranya luar biasa panasss. Baru tujuh hari menginjakkan kaki disini, tiba-tiba merindukan tanah kelahiran yang dingin dan asri.. ups, gawat! ingat, sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai!  bisikku dalam hati, ok, siap.. tancap gas!    

"Selamat datang di pulau dayak, welcome to the dayak island!" Kata salah seorang pria gagah nan gundul yang mengaku sebagai suku Sunda yang sudah satu tahun merantau di Pulau Borneo. Di Bandung, mitos dan cerita-cerita mistik yang berkembang tentang suku dayak begitu dahsyat dan bahkan cukup kuat untuk membendung seseeorang untuk merantau ke pulau Kalimantan. Mitos santet, pelet, hingga mantra-mantra hitam adalah senjata yang harus diwaspadai oleh para perantau yang singgah di Pulau Borneo, katanya. Ternyata, setelah satu minggu tinggal dan menetap di sini, itu memang mi-tos.. ya ya, sekedar mitos. Orang-orang disini sangat ramah, tentu disertai dengan sikap kita yang santun dan tidak jumawa.    

Dua suku yang menghuni Pulau Borneo adalah suku melayu dan suku dayak. Mayoritas suku dayak beragama Khatolik, sementara suku Melayu beragama Islam. Sungguh menakjubkan, melihat dua agama besar yang bersatu. Mendengar nada dan logat percakapan mereka yang khas membuatku terhibur. Jujur, aku salut dengan kearifan lokal mereka yang menyatu dengan prinsip keagaman yang kental, mereka adalah kaum pribumi yang loyal dan hormat terhadap sesama. I supposed that Borneo is an amazing place in Indonesia!  

Selama ada kehidupan, pasti selalu ada kisah yang dapat diceritakan.. Ada sejarah yang dapat ditorehkan.. Ada impian yang menunggu untuk diwujudkan..

Ya Allah, aku tahu bahwa setiap langkah pasti meninggalkan jejak, ku harap jejak inilah yang akan mengingatkanku untuk tak henti berlari mengejar mimpi yang telah tertancap dalam sanubari. Menimba ilmu,  mengembara waktu, meniti jalan hidupku yang panjang dan berliku. Semoga hidupku yang satu kali ini memberi makna yang berarti bagi mereka yang mengenal dan mendo'akanku. 

Ya Allah, kini kian aku sadari bahwa apa yang ku cari ternyata tidak ada di bumi ini. karena yang ku cari adalah tatapan mata tujuh puluh tujuh bidadari, telaga air yang segar bertepi, taman hijau yang luas dan indah berseri, serta kehidupan abadi. dan ku mengerti, bahwa semuanya hanya akan ku dapati saat mengembara waktu menuju ridha-Mu.. LiLlah, BiLlah, ilaLlah.

Bersama milyaran bintang yang bersinggasana di langit kebesaranNya, ku bentangkan mimpiku, ku rendahkan sayap di lembah keanggunan malam, agar aku bisa memaknai satu persatu pengalaman ini yang terbentang dalam kitab hidupku.. Hidup itu menakjubkan, kawan..



#dalam catatan harian hidupku di Pulau Borneo..


Kamis, 22 Agustus 2013

Menggores Khatulistiwa

 
photo: google.com

#1st -daily note:

Dan waktu yang telah ditulis pun akhirnya tiba, mendebarkan, mengoyak dan menghujam ke dalam hati, itulah kira-kira rasanya ketika kita harus meninggalkan tanah kelahiran yang dihuni semenjak lahir hingga dewasa  menuju tempat asing yang baru, tempat yang benar-benar tak dapat terduga! 


Tepat saat ini, Jum'at, 23 Agustus 2013 pukul 00.30 wib, setelah letih beraktivitas di Jatinangor, setelah menyampaikan target hidup dan meminta do'a kepada rekan seperjuangan, akhirnya transit sejenak di Laboratorium eSPe Bandung. Ternyata, ruangannya masih sama, tidak banyak yang berubah. Lorong-lorong panjang di sepanjang koridor depan masih gelap dan remang, mesin-mesin bubut dan peralatan kimia hampir semuanya terlapis debu, semuanya tampak tidak lebih rapi dibandingkan satu tahun yang lalu, mungkin wajar, karena tahun lalu, disana ada seorang laki-laki bermuka tirus yang setiap hari melakukan eksperimen untuk menyelesaikan penelitian tingkat akhir dan begitu menyayangi lab tua peninggalan jaman Belanda itu. Baginya, Lab eSPe adalah rumah ketiga, setelah Masjid IbnuSina di Jatinangor. 

Di tempat ini ia berproses, di tempat ini pula ia mulai membentuk karakter seorang peneliti dan seorang pemimpi besar. Meski pun ternyata, mimpi besar yang ia bangun saat ini harus ia simpan hingga beberapa tahun ke depan. Istana mimpinya belum dapat ia bangun dengan sempurna.       

nah, Berbicara tentang pilihan menunda mimpi, mengingatkanku pada seorang kawan lama yang beranggapan telah mengubur dalam-dalam mimpi yang ia banggakan hanya karena terpaksa mengambil keputusan lain dibandingkan mewujudkan mimpinya. 
"Seorang pemimpin besar memiliki mimpi besar, karenanya ia diuji dan dihadapkan dengan realitas2 kehidupan yg akan mengukur seberapa besar mimpinya, seberapa kuat komitmennya" ucapku kepadanya..

Pesan yang sederhana, namun begitu sarat makna. Sebuah pesan yang membangun optimisme dan keyakinan bahwa kita pasti bisa melewati proses demi proses yang terbentang di depan kita, bahwa semakin besar dan berkualitas impian itu, maka semakin berat dan banyak ujian yang akan dihadapi, itulah yang namanya "prinsip kesebandingan".   

Lelaki romantis adalah lelaki yang memperjuangkan prinsip & visi hidup hingga "titik darah penghabisan terakhir" meski realitas-realitas kehidupan terus menerus menguji dan menertawakannya.

Selama ada kehidupan, pasti selalu ada kisah yang dapat diceritakan. Ada sejarah yang dapat ditorehkan. Ada impian yang menunggu untuk diwujudkan. 

bismillahirrahmanirrahim, bersiap menuju Jakarta untuk menjalani sebuah ekspedisi, menggores Khatulistiwa.
    

Selasa, 13 Agustus 2013

Pemuda-pemuda Sejuta Ambisi



Pemuda yang memiliki visi dan ambisi jauh lebih membanggakan daripada pemuda yang berprestasi namun minim visi. Meski ia tertatih-tatih dalam perjuangannya, namun ia menjadi inspirasi dan menjadi simbol apresiasi bagi keluarga yang dicintainya. Itulah pemuda sejati, pemuda kaya hati, dambaan banyak hati.


Berangkat dari pengalaman dan pantuan ternyata banyak sekali, loh pemuda-pemuda disekitar kita yang terkategori sebagai pemuda visioner tersebut. Namun, ya persis seperti apa yang saya katakan, sebagian besar pemuda-pemuda tersebut (saat ini, red) dalam kondisi dan situasi yang cukup memprihatinkan, khususnya dalam hal finansial. Kondisi finansial dengan karakter pemuda tersebut bagaikan dua kutub magnet berbeda yang berdekatan, sulit untuk dipisahkan!  

Ada dua hal yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi, pertama, karena mereka masih menjalani status sebagai mahasiswa yang notabene harus menjalani masa studi dan agenda perkuliahan yang padat-merayap, otomatis waktu luang yang semestinya dioptimalkan untuk menjalankan usaha produktif sangatlah sempit, bahkan dikatakan tidak ada sama sekali! kedua, karena adanya keputusan nekad mereka untuk terjun di dunia organisasi demi mengasah keterampilan, baik ilmu agama, leadership-management, building character, building confidence, time mastery dan seabreg softskill lainnya. 

Dengan adanya dua kondisi tersebut, akan sangat dipastikan dan dimaklumi jika mereka saat ini belumlah mampu memberikan jawaban yang maksimal ketika ditanya dalam hal finansial. Bukannya tanpa perhitungan, mereka yakin bahwa suatu saat setelah mereka meninggalkan bangku kuliah di universitas, pengorbanan dan kesabaran mereka selama ini tidak akan pernah sia-sia, saat itu mereka benar-benar siap menghadapi dunia dengan segala bekal yang telah mereka siapkan. Meski pun saat ini, mereka harus dipandang sebelah mata bahkan oleh komunitas mereka sendiri. 

Di ujung jalan ada pencapaian, di sana letak kebahagiaan. Terus bergeraklah wahai para pemuda, karena dunia membutuhkan kita, mari kita genggam cakrawala lalu katakan pada dunia, bahwa kita BISA!

Salam Membara!      


 

Tuhan, ini do'a mode otomatisku di setiap dasawarsa





Saat kita kecil dahulu kala,
kita begitu kaya akan rasa,
kita tak pernah putus dalam mencipta asa, 
tak pula kita jemu dalam mengucap kata,
untuk meyakinkan diri bahwa kita selalu dan pasti bisa!

Saat tumbuh memasuki usia muda,
kita dengan ceria menjalani masa yang penuh cerita,
walau seribu rintang dan sejuta goda,
kita tak pernah segan menantang dunia,
untuk membuktikan bahwa kita masih bisa!

Saat kita perlahan memasuki usia senja,
kita bertanya, kenapa semua cerita tak selalu sama,
entah kenapa setiap episode selalu berbeda,
ada kekhawatiran yang menyalip dalam sukma,
mungkin sebab dunia kini tak lagi mempesona,  

Tuhan,
ini do'aku,
yang bermode ulang otomatis di setiap dasawarsa, 
bahwa aku ingin kaya rasa,
hidup dengan segenggam asa,
bersama orang-orang yang kucinta,
karena saat aku kaya rasa, asa dan cinta,
saat itulah hakikatnya aku kaya raya, 




Minggu, 11 Agustus 2013

inikah dia



Rona itu menggodaku,
dalam sunyi terus menemani.
embun pun datang
diam, dingin dan pergi..

Senyuman itu merayuku,
dalam asa yang semu.
mentari pun beranjak pergi
dalam malam, sunyi dan sepi..

Entah ada pa dengannya...

Cintanya terlalu sulit dicerna,
dalam akalku yang membara,
semuanya melayang dan tak pasti..

Inikah dia..
Pesonanya meruntuhkan batinku,
dalam getar jiwa asmara,
terbuai indah dan damai..

by HNL

Selasa, 06 Agustus 2013

Never quit!




Banyak hal yang telah, sedang dan akan berubah. Bumi terus berputar, waktu pun segera berlalu. Dan aku termenung sambil bertanya, "kenapa dunia masih saja menertawakanku? Kenapa setiap niat baik selalu ada saja yang mencibir? kenapa setiap harapan tidak selalu berujung pada kepastian? Kenapa selalu saja ada keraguan yang menjadi tembok penambat ketulusan hati?"

  • Perlahan aku sadari, ternyata jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya telah lama tersembunyi dalam satu ruangan semu yang samar terlihat di depan mataku. Memaksaku untuk memulai kembali perjalanan hidupku dari titik nol menuju tak hingga, dari keterbatasan diriku menghadap awan di langit yang kelabu, mengitari zenit hingga ke nadir. Kini aku mengerti, bahwa tugas kita adalah mencoba dan memperjuangkan apa yang kita inginkan, meski pada akhirnya kita menemukan sebuah kenyataan yang pahit, kenyataan yang menyisakan luka, membuat kita semakin dewasa. ya, menjadi pribadi yang dewasa. 

    Kini yang harus aku lakukan adalah menutup rapat ruang-ruang kekhawatiran agar suatu hari nanti aku tak merasakan pahitnya penyesalan atas pilihan hidup yang kini aku ambil. Sungguh, aku ingin melangkah dalam gelap tanpa harus lenyap, untuk merengkuh rasa takut tanpa perlu surut. Melepas baju kekhawatiran yang menyelimutiku. 


    Ya Allah, begitu cepat waktu berlalu. Tak terasa ia hadir begitu saja, hingga akhirnya, Ramadhan tahun ini nyatanya menjadi penutup perjuanganku di dakwah kampus. Fase perjuangan yang menguji mentalku, membentuk kepribadianku, mematangkan cara berfikirku, melatih kedewasaanku. Sebagai seorang kader, aku harus siap meninggalkan fase ini agar ritme dan siklus kaderisasi berjalan seperti seharusnya. Tapi sebagai manusia, begitu berat rasanya jika harus meninggalkan orang-orang yang begitu berjasa besar dalam hidupku dalam waktu yang sesingkat ini. Masih banyak kontribusi yang ingin aku berikan, masih banyak tanggungjawab yang belum aku tuntaskan. Tapi, apalah daya, waktu pun mendikteku untuk perlahan memasuki fase perjalanan dakwah berikutnya, untuk menemukan ujian dan tantangan hidup di dunia yang baru. Ku harap, suatu hari nanti ku akan kembali ke tanah ini dengan kepala tegak, karena potensi diri yang melejit, karena value diri yang terus bertambah.

    Kini, aku tak takut lagi pada kumpulan masa depan yang berkelok, karena ku yakin arah perjalanan ini perlahan pergi menuju pada satu titik kecil yang akan terenda manis. Aku tak kan menyerah pada kenyataan dan ujian kehidupan, I will never quit!


Jumat, 02 Agustus 2013

Arti Pujian




Apa arti pujian?
Pujian adalah genangan cinta yang mengalir dari samudera hati
yang menjadikan bunga sakura bersemi di musim gugur.
(Sugiri Jafar)


Rabu, 10 Juli 2013

Tujuh Syurga



Album : 7 Syurga
Munsyid : Edcoustic feat Fika

||

Kumandang cinta bergema hingga kehati
Lafaz lafaz asmara memanggil jiwa yang rapuh
Rapuhnya aku Kau maha tahu
Pagi siang malam dunia yang kutuju
Saat kujatuh baru kusadar Kau lah segalanya

Reff:

Tuhan kuangkat kedua tanganku
Sudikah Engkau menerima cintaku
Berdarah-darah akan kutempuh
Menggapai tarikat cintaMu

Tujuh surga pun aku tak pantas
Menerima diri yang bersimbah dosa
Kuharap cinta dan ampunanMu
Setinggi arasy-Mu seluas semesta cinta  


Rabu, 19 Juni 2013

Namaku Abdullah..



Namaku Abdullah 
oleh : Riki Nasrullah

Aku adalah hamba Allah, cintaku kepada langit tak berarti aku tak menginjak bumi. Justru langit mengajarkanku dengan hujan yang membasahi bumi dan menumbuhkan benih yang beristirahat dalam gelap. Cinta kepada Allah selalu menghadiahkan dua hal pada hamba, yaitu lidah dan airmata. Yang dengan itu beruntung dapat menyampaikan kata demi kata dalam Kitab Suci, dan airmata bagiku untuk tersungkur takut dalam tahajudku dan mengingat matiku yang mungkin akan tiba sebentar lagi. 

Selasa, 18 Juni 2013

Duh.. Singkatnya hidup ini ...




Duh, Singkatnya hidup ini. Padahal baru kemarin sore aku berlari terengah-engah di galangan sawah, demi mengejar sebuah layangan putus yang kalah adu. Duh, Betapa singkat hidup ini. Padahal, baru kemarin pagi aku terperosok ke dalam selokan pinggir rumah, karena gemas ingin mengail ikan-ikan kecil yang lucu bersama adik kecilku.

Duh, terasa singkat hidup ini. Padahal, baru kemarin siang aku berjalan kaki bersama Bapak menuju masjid as-sofia, menunaikan panggilan shalat Jum'at. Dan sepulangnya, Bapak membelikanku sebuah permen gula yang dicampur dengan kacang, rasanya manis bukan main. Duh, alangkah singkat hidup ini. Padahal, baru kemarin pagi aku menemani ibu  berbelanja di pasar, sambil merengek ingin dibelikan mainan  batman dan superman. Membuat Ibu marah bukan main, karena kerewelan dan ketidak-sabaranku yang tidak tahu tempat dan waktu.  

Duh, betapa waktu berlalu begitu cepat, tanpa ku sadari bahwa semua yang pernah hadir dalam hidupku, perlahan pergi dan meninggalkanku. Tidak terasa, semua tak lagi sama, semua hal sudah berubah. Orang-orang berubah, aku pun berubah. dan itu artinya, aku harus semakin dewasa dalam menjalani kehidupan, aku harus semakin bertanggung-jawab atas diriku dan keluargaku.

Ya Allah, kabulkanlah semua do'aku, lindungilah keluargaku, bimbinglah aku agar menjadi anak yang shaleh, pribadi yang dewasa, serta bermanfaat untuk agamaMu. Ya Allah, setiap hari ku persiapkan bekal & kado amalan untuk menemui-Mu. Sebenarnya aku malu karena kado yang ku berikan pada-Mu  sungguh tak sebanding dengan nikmat dan karunia-Mu kepadaku. Sungguh aku malu ya Rabb.

Allahu Robbi, Bangunkan untukku dan keluargaku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Jannah, serta mudahkanlah kami dalam melangkah beriringan memenuhi panggilan-Mu. Sungguh jika saat itu tiba, aku ingin layak tuk berucap lirih: 


"Duhai Allah, telah ku jadikan hidupku sebagai pengabdian kepadaMu, telah kujadikan islam sebagai agama dan sistem hidupku, telah kujadikan Muhammad sebagai kekasihku dan suri teladanku, telah ku jadikan al-Qur'an sebagai petunjuk dan pedoman hidupku, dan telah ku jadikan hidupku sebagai perjuangan kepada umatMu, inilah persembahan terbaikku, terimalah perjuangan hambaMu, ya Rabb.."